Tugumalang.id – Kolaborasi mahasiswa Teknik Sipil S-1, dan Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) yang tergabung dalam Tim Spectra Berdha sukses meraih Juara 2 National Architectural Design Competition 2026 dalam ajang DISCO ke-9 di Universitas Diponegoro (Undip), yang digelar secara luring pada Sabtu (23/05/2026).
Prestasi nasional ini berhasil mereka raih berkat inovasi desain bangunan multifungsi yang dirancang khusus untuk kawasan rawan banjir.
Tim Spectra Berdha beranggotakan Muhammad Rifki Maulana, dan Reza Maulidan Syahputra (Teknik Sipil angkatan 2025), serta Muhammad Hanif Farhani Rizqulloh (Arsitektur angkatan 2024).

Uniknya, nama “Spectra Berdha” merupakan singkatan dari “Berkah Ramadhan”. Sebab, pendaftaran lomba ditutup saat bulan Ramadan dan dosen pembimbing mereka kebetulan bernama Moh. Syahru Romadhon Sholeh, ST., M.Ars., dosen Arsitektur ITN Malang.
Solusi Banjir: Balai RW yang Fleksibel Menjadi Pengungsian
Tim ITN Malang merancang desain Binary Operational Place (BOP) sebagai jawaban untuk mengatasi masalah banjir di Desa Tlogosari Kulon, Kota Semarang, Jawa Tengah. Ide utamanya adalah efisiensi lahan.
Baca Juga: Harga Tomat Anjlok, Mahasiswa HMTK ITN Malang Ajarkan Warga Belung Olah Jadi Permen Jelly
Di mana saat banjir melanda bangunan ini menjadi hunian darurat, dan saat kondisi normal bangunan bisa beralih berfungsi sebagai Balai RW (ruang komunal).
“Kami menonjolkan mekanisme seat-to-pod. Lewat sistem ini, furnitur berupa tempat duduk di balai warga bisa ditransformasikan menjadi tempat tidur darurat dengan rasio 2:1 (dua kursi digabung menjadi satu tempat tidur),” jelas Hanif, saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang bersama tim, Jumat (29/05/2026).
Tak hanya konsep ruangannya yang cerdas, kekuatan strukturnya juga dipikirkan matang-matang oleh tim. BOP dirancang menggunakan sistem knockdown alias bisa dibongkar pasang.

Reza menjelaskan, jika penanganan drainase di suatu wilayah sudah membaik dan bebas banjir, bangunan ini bisa dibongkar dan dipindahkan ke lokasi lain yang lebih membutuhkan.
Saat membuat maket, Reza menerapkan sistem sambungan interlock yang saling mengunci antarbagian tanpa menggunakan paku sama sekali.
“Penggunaan mur dan baut hanya dilakukan pada bagian kolom struktur untuk memperkuat bangunan,” katanya.
Baca Juga: Kreatif! Warga Binaan Lapas Perempuan Malang Sukses Bikin Ecoprint Mug Bersama ITN Malang
Untuk material utama, mereka memilih Cross-Laminated Glulam (Glued Laminated Timber), yaitu material konstruksi berbasis kayu yang terdiri dari lapisan-lapisan kayu yang direkatkan secara menyilang. Meski harganya relatif lebih mahal, material ini dipilih karena sangat ramah lingkungan, rendah emisi karbon, tahan api, dan punya kekuatan struktural yang sangat tinggi.
Lewati Persaingan Ketat dan Ujian Mental Tanya Jawab
Perjalanan menuju podium juara sama sekali tidak mudah. Kompetisi tingkat nasional ini awalnya diikuti 70 peserta dari berbagai kampus di Indonesia secara daring. Dari puluhan peserta tersebut, dikerucutkan menjadi 10 besar, hingga akhirnya dipilih 3 tim terbaik untuk presentasi langsung.
Di babak final, ITN Malang bersaing ketat dengan Universitas Negeri Semarang (Juara 1) dan Universitas Teknologi Yogyakarta (Juara 3). Selain membuat konsep desain, mereka juga wajib menyusun proposal, poster, maket struktur, hingga video rendering.
Proses pengerjaannya pun penuh dinamika. Rifki, yang bertanggung jawab pada bagian 3D modeling dan rendering, mengaku sempat kewalahan karena harus berulang kali merevisi video berdasarkan masukan dari teman-teman setimnya.
“Bagian Arsitektur memang lebih rumit di konsep, sementara kami yang di Sipil fokus ke perhitungan struktur dan visualnya,” kata Rifki.
Keberhasilan ini tak lepas dari peran Romadhon selaku dosen pembimbing. “Pak Romadhon selalu mendorong kami maju satu-dua langkah lagi saat kami merasa karya kami sudah selesai. Ternyata masukan beliau sangat membantu di final,” kata Rifki.
Bagi Rifki dan Reza, kompetisi ini menjadi pengalaman perdana mereka mengikuti sayembara desain arsitektur. Ke depan, kompetisi ini menjadi pemantik semangat baru bagi mereka.
“Ini jadi awal bagi kami untuk terus belajar dan ikut lomba-lomba lagi agar tahu lebih banyak hal. Harapannya ke depan bisa melangkah lebih jauh dan lebih serius lagi,” harap Rifki, yang langsung diamini oleh Reza dan Hanif dengan harapan agar kolaborasi solid antara Teknik Sipil dan Arsitektur ITN Malang ini bisa terus berlanjut di kompetisi-kompetisi berikutnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
Editor: Herlianto. A





























