MALANG, Tugumalang.id – Praktisi komunikasi, Eduard Depari, menyoroti masih banyaknya kesalahpahaman masyarakat dalam memahami konsep Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Ia menegaskan, CSR bukan sekadar bantuan atau aksi kebaikan dari perusahaan.
“Bantuan perusahaan belum tentu masuk kategori CSR. Bisa jadi itu hanya bagian dari community relations,” kata Eduard dalam Zoom meeting Journalism Fellowship on CSR 2025 yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), beberapa waktu lalu.
Membedakan CSR dan Bantuan Sosial
Eduard menekankan bahwa kata kunci dalam CSR adalah “sosial”, yang artinya berkaitan dengan masyarakat secara luas, tidak terbatas wilayah geografis. Bahkan, CSR bisa mencakup komunitas lintas negara.
Sebagai contoh, ia menyebut CSR yang dilakukan Bill Gates melalui Bill & Melinda Gates Foundation yang menjangkau masyarakat di seluruh dunia.
“Wilayah operasional CSR Bill Gates sudah menjangkau global. Itu bentuk CSR lintas negara,” jelasnya.
Baca juga: Fellowship Jurnalistik CSR 2025 Libatkan Wartawan dari Papua untuk Pertama Kalinya
Eduard juga mencontohkan, jika sebuah perusahaan penerbit besar membuka perpustakaan di Jakarta, hal itu termasuk community relations, bukan CSR. Namun jika perpustakaan dibuka di daerah terpencil seperti Kepulauan Mentawai, baru dapat dikategorikan sebagai CSR.
“Orang di Mentawai mungkin tidak punya interaksi langsung dengan Gramedia. Tapi membuka perpustakaan umum di sana menunjukkan adanya tanggung jawab moral perusahaan terhadap masyarakat yang lebih luas,” paparnya.
Kesalahpahaman lain terjadi saat kelangkaan minyak goreng pada 2022. Banyak perusahaan melakukan operasi pasar dengan menjual minyak goreng murah, dan mengklaimnya sebagai CSR.
Baca juga: Cerita Aisyah, Wartawan tugumalang.id yang Langganan Raih Fellowship Tingkat Nasional
Menurut Eduard, aksi tersebut lebih tepat disebut community relations atau bahkan social marketing, karena hanya bersifat lokal dan insidental saat krisis.
“Kalau hanya berlaku untuk masyarakat sekitar dan dilakukan saat krisis, itu bukan CSR. Bisa jadi hanya strategi pemasaran sosial untuk menunjukkan kepedulian,” ungkapnya.
Ia menegaskan, salah satu ciri utama CSR adalah keberlanjutan (sustainability). CSR tidak bisa dilakukan hanya sekali atau dalam jangka pendek.
“Kalau mau disebut CSR, programnya harus berkelanjutan. Harus ada pendampingan kepada masyarakat agar ketika perusahaan mundur, program tetap berjalan,” tegasnya.
Eduard menutup dengan penekanan bahwa CSR sejati adalah program yang berdampak jangka panjang dan mampu memberdayakan masyarakat.
“Kalau hanya membagi barang satu kali, itu bukan CSR. CSR harus bisa menciptakan perubahan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























