Malang, Tugumalang.id – Marah adalah emosi alami yang dimiliki semua orang. Namun, ketika intensitas, frekuensi, dan cara mengekspresikannya mengganggu hubungan, pekerjaan, hingga kesehatan mental, hal itu bisa menjadi tanda anger issue atau masalah regulasi emosi. Psikologi memandang kondisi ini sebagai persoalan kompleks yang melibatkan otak, hormon, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial.
Artikel ini membahas secara ilmiah apa itu anger issue, bagaimana otak memproses kemarahan, faktor penyebabnya, serta strategi praktis untuk mengelolanya.
Baca juga: Emotional Abuse: Mengenali Kekerasan Psikologis yang Sering Tak Disadari
Apa Itu Anger Issue Menurut Psikologi?
Dr. Raymond W. Novaco, peneliti terkemuka dalam bidang kemarahan, mendefinisikan anger issue sebagai pola respons emosional berintensitas tinggi yang berdampak negatif pada fungsi sosial dan kesehatan mental.
Kemarahan sebenarnya memiliki fungsi adaptif, seperti mempertahankan hak, melawan ketidakadilan, dan melindungi diri. Namun, dalam kasus anger issue, sistem ini bekerja layaknya alarm yang terlalu sensitif—aktif bahkan pada ancaman kecil atau imajiner.
Ciri-ciri umum anger issue antara lain:
Reaksi emosional berlebihan terhadap masalah ringan.
Sulit menenangkan diri setelah marah.
Muncul perasaan menyesal atau lelah emosional setelah ledakan emosi.
Bagaimana Otak Memproses Kemarahan?
Psikolog Daniel Goleman memperkenalkan istilah amygdala hijack untuk menjelaskan bagaimana otak emosional bisa “menculik” otak rasional.
Prosesnya meliputi:
Pemicu muncul, seperti hinaan, frustrasi, atau perasaan diperlakukan tidak adil.
Amygdala mendeteksi ancaman dan memicu pelepasan hormon stres (adrenalin, kortisol).
Tubuh bereaksi fisik: napas cepat, detak jantung meningkat, otot menegang.
Respon impulsif muncul sebelum logika sempat bekerja.
Jika mekanisme ini sering terulang, jalur saraf kemarahan akan semakin kuat akibat neuroplastisitas, membuat seseorang lebih mudah marah di kemudian hari.
Baca juga: Memutus Rantai Toxic Parenting: Cara Mengatasi Luka Psikologis Anak
Faktor yang Membuat Seseorang Rentan Mengalami Anger Issue
Menurut Kassinove & Tafrate, ada empat faktor utama:
Biologis – Faktor genetik, sensitivitas sistem saraf, hingga kadar serotonin rendah dapat melemahkan kontrol emosi.
Psikologis – Riwayat trauma masa kecil, perfeksionisme, atau toleransi frustrasi rendah meningkatkan risiko.
Sosial dan lingkungan – Pola asuh keluarga yang penuh kemarahan atau kekerasan bisa menjadi model perilaku yang ditiru.
Kesehatan fisik – Kondisi medis seperti cedera otak atau gangguan tiroid memengaruhi regulasi emosi.
Strategi Praktis Mengelola Anger Issue
Beberapa metode yang terbukti secara ilmiah membantu mengendalikan kemarahan antara lain:
Time-Out – Mengambil jeda 10–20 menit dari situasi pemicu agar tubuh menurunkan kadar adrenalin.
Pernapasan Diafragma – Latihan pernapasan dalam yang mengaktifkan sistem saraf parasimpatik untuk menenangkan tubuh.
Cognitive Reappraisal – Mengubah cara pandang terhadap pemicu, misalnya melihat komentar kasar sebagai bentuk stres orang lain.
Terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy) – Membantu mengganti pola pikir irasional dengan yang lebih adaptif, sekaligus melatih keterampilan mengelola konflik.
Penutup
Kemarahan bukanlah emosi yang harus dihapuskan. Sebaliknya, ia bisa menjadi energi positif jika dikelola dengan benar. Dengan pemahaman psikologis, latihan kesadaran diri, serta strategi yang tepat, anger issue dapat dikendalikan sehingga kemarahan berubah dari musuh menjadi sekutu dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Risma Elina (magang)
redaktur: jatmiko





























