Tugumalang.id-Emotional abuse atau kekerasan psikologis sering kali tidak disadari korban karena tidak meninggalkan luka fisik. Namun, dampaknya terhadap kesehatan mental bisa sangat serius dan berkepanjangan. Dalam banyak kasus, emotional abuse hadir dalam bentuk kata-kata merendahkan, kontrol berlebihan, hingga manipulasi emosional yang terselubung.
Apa Itu Emotional Abuse Menurut Psikologi?
Menurut Dr. Beverly Engel, terapis sekaligus penulis buku The Emotionally Abusive Relationship, emotional abuse adalah pola perilaku untuk mengendalikan, merendahkan, atau menakuti orang lain melalui kritik berlebihan, penghinaan, atau manipulasi emosional.
Tidak seperti kekerasan fisik, bentuk ini jarang meninggalkan bekas luka di tubuh, tetapi dapat menghancurkan harga diri dan kepercayaan diri korban secara mendalam. Engel menekankan bahwa sering kali perilaku abusif dibungkus dalam kedok “kepedulian” atau “cinta” manipulatif.
Baca juga: Memutus Rantai Toxic Parenting: Cara Mengatasi Luka Psikologis Anak
Bentuk-Bentuk Emotional Abuse
Psikolog Jill Murray Follingstad dari University of Kentucky mengidentifikasi beberapa bentuk emotional abuse yang paling sering terjadi dalam hubungan:
Gaslighting
Pelaku membuat korban meragukan ingatan, persepsi, bahkan kewarasannya. Misalnya dengan menyangkal fakta atau menyebut korban “terlalu sensitif”.
Kontrol Berlebihan
Pelaku mengatur kehidupan korban, termasuk pilihan pakaian, makanan, aktivitas, hingga lingkaran pertemanan.
Penghinaan dan Kritik Konstan
Komentar negatif terus-menerus, baik secara terang-terangan maupun sarkasme, perlahan menghancurkan harga diri korban.
Penarikan Afeksi
Pelaku sengaja menolak memberikan kasih sayang atau perhatian sebagai bentuk hukuman, sehingga korban semakin tergantung secara emosional.
Meskipun tidak terlihat, dampaknya bisa sama buruknya dengan kekerasan fisik. Luka emosional sering menetap dalam bentuk rasa takut, cemas, dan hilangnya kepercayaan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Dampak Jangka Panjang Emotional Abuse pada Kesehatan Mental
Menurut Dr. Bessel van der Kolk dalam bukunya The Body Keeps the Score, trauma akibat emotional abuse bisa “tersimpan” di sistem saraf dan memengaruhi respons tubuh terhadap stres, bahkan bertahun-tahun setelah hubungan abusif berakhir.
Beberapa dampak jangka panjang antara lain:
Kecemasan kronis: korban selalu merasa waspada meski tanpa ancaman nyata.
Depresi: perasaan tidak berharga, kehilangan motivasi, dan putus asa.
Complex PTSD: kilas balik traumatis, mimpi buruk, dan reaksi emosional berlebihan.
Sulit mempercayai orang lain: trauma membuat korban menutup diri.
Luka tersimpan di tubuh: trauma memengaruhi sistem saraf, sehingga tubuh bereaksi seolah trauma masih berlangsung.
Mengapa Emotional Abuse Sulit Disadari?
Psikolog klinis Dr. Ramani Durvasula menjelaskan bahwa trauma bonding membuat korban terjebak. Ikatan emosional ini terbentuk melalui siklus kasih sayang dan kekerasan dari pelaku. Sering kali, emotional abuse dibungkus sebagai “kritik membangun” atau “kepedulian”, sehingga korban menganggapnya normal.
Jika pelaku adalah pasangan, keluarga, atau sahabat dekat, korban cenderung membenarkan perilaku tersebut. Hal ini memperkuat ketergantungan emosional, membuat korban sulit melepaskan diri meski sadar hubungan itu merugikan.
Baca juga: Fatherless Generation: Pandangan Psikologi tentang Anak yang Tumbuh Tanpa Ayah
Cara Menghadapi Emotional Abuse
Para pakar menyarankan langkah-langkah berikut untuk memutus siklus kekerasan emosional:
Kenali Tanda-tandanya
Bedakan antara kritik sehat dan perilaku merendahkan. Jika komentar seseorang konsisten meremehkan dan mengabaikan perasaanmu, itu tanda abuse.
Tetapkan Batas Tegas
Komunikasi asertif penting untuk melindungi kesehatan emosional. Contoh: “Saya tidak nyaman jika diperlakukan seperti itu.”
Bangun Dukungan Sosial
Temukan orang atau komunitas yang bisa mendukungmu tanpa menghakimi.
Cari Bantuan Profesional
Konsultasi dengan psikolog atau konselor dapat membantu korban memproses trauma dan membangun kembali kepercayaan diri.
Kesimpulan
Emotional abuse adalah kekerasan yang tak terlihat, tetapi meninggalkan luka mendalam di hati dan pikiran korban. Dengan mengenali tanda-tandanya, menetapkan batas sehat, dan mencari dukungan, korban bisa mulai memulihkan diri dan memutus rantai kekerasan psikologis.
Ingatlah, setiap orang berhak merasa aman, dihargai, dan dicintai tanpa syarat—itu adalah hak, bukan hadiah.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Deskripsi
Artikel ini mengulas emotional abuse atau kekerasan emosional, mulai dari definisi, bentuk-bentuk umum, dampak jangka panjang pada kesehatan mental, hingga strategi pemulihan, dengan merujuk pada pandangan dan temuan para pakar.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Risma Elina (Magang).





























