Jumat, Agustus 7, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Isra-Mi’raj dan Paradigma Keilmuan Islam

Redaksi by Redaksi
Januari 14, 2026 4:53 pm
in Catatan
Isra-Mi'raj

M. Zainuddin Guru Besar UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh M. Zainuddin*

27 Rajab merupakan peristiwa monumental dalam sejarah kerasulan, dimana pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW dibimbing oleh Allah SWT melalui perjalanan panjang dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina). Meski perjalanan itu jauh dan menembus angkasa, tetapi hanya ditempuh dalam satu malam saja (lihat QS. Al-Isra’:1). Pada perjalanan ini Nabi Muhammad SAW ditunjukkan gambaran dan rekaman manusia dalam berbagai perilakunya, ditunjukkan gambaran manusia yang memiliki perilaku destruktif, korup dan arogan, ditunjukkan pula gambaran manusia yang memiliki perilaku sosial saleh dan santun.

READ ALSO

Kyai Fuad Mun’im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati yang Menghadirkan

Ketika Biaya Hidup Membuka Pintu Eksploitasi Seksual

Setelah melewati perjalanan (isra) kemudian Nabi dibimbing Malaikat Jibril  untuk naik (mi’raj) ke langit (sidrat al-muntaha). Di tempat ini Nabi juga ditunjukkan beberapa peristiwa menarik yang meneguhkan hatinya untuk bekal berjuang menegakkan syariat Islam, menegakkan keadilan dan mengikis segala bentuk kezaliman di tanah Arab untuk menjadi bekal dan tuntunan generasi berikutnya. Peristiwa isra dan mi’raj yang dialami oleh Nabi merupakan rentetan peristiwa dalam sejarah kerasulan dan sebagai proses menuju keberhasilan misi beliau, yaitu menegakkan konsep kemanusiaan universal.

 Isra-Mi’raj dan Sains Modern

Acapkali orang mempertanyakan kebenaran Islam lewat perspektif keilmuan, sementara metode keilmuan selama ini yang dipakai adalah metode keilmuan Barat yang sekuler. Inilah yang seringkali menimbulkan bias. Jika orang hendak melihat Islam secara ilmiah, maka perspektifnya juga harus dibangun dari perspektif keilmuan Islam.

Baca juga: Bencana Alam: Kesalahan Memahami Etika

Ada dua model dalam pendekatan studi Islam, yaitu pendekatan rasional-spikulatif-idealistik dan pendekatan rasional-empirik. Pendekatan pertama adalah pendekatan filosufis, yaitu pendekatan yang digunakan terhadap teks-teks yang terkait dengan masalah yang bersifat metafisik, termasuk dalam hal ini adalah perisatiwa mi’raj Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Aqsha ke Sidrat al-Muntaha yang tidak membutuhkan jawaban empirik; kedua adalah pendekatan keilmuan, yaitu pendekatan terhadap teks-teks yang terkait dengan sunnatullah (ayat-ayat kauniyah), teks-teks hukum yang bersifat perintah dan larangan dan sejarah masa lampau umat manusia.

Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.  dari Masjid al-Aqsha ke Sidrat al-Muntaha pada  27 Rajab dalam waktu yang amat cepat merupakan peristiwa spektakuler yang mengundang reaksi keras dari kalangan kafir Quraisy saat itu, bahkan hingga sekarang. Ada yang mengatakan peristiwa itu terjadi dalam mimpi, bukan dalam alam nyata, atau terjadi pada diri Muhammad dengan ruhnya bukan jasadnya.

Kaum emipris dan rasionalis boleh mempersoalkan dan menggugat dengan mengatakan: Bagaimana mungkin kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui Muhammad tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang membakar tubuhnya? Bagaimana mungkin ia dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Menurut kaum empiris dan rasionalis hal ini tidak mungkin terjadi.

Baca juga: Proporsionalkah Menuntut Guru Profesional?

Ya, bisa dimaklumi jika kaum empiris dan rasionalis mempertanyakan peristiwa yang spektakuler itu. Sebab mereka memandang segala sesuatunya berdasarkan realita empiris dan yang rasional saja. Padahal peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang sublim.

Sebagaimana konsep Barat, bahwa sesuatu disebut ilmiah (secara ontologis) jika lingkup penelaahannya berada pada daerah jelajah atau jangkuan akal pikiran manusia. Dan sesuatu dianggap benar jika didasarkan pada tiga hal: koherensi, korespondensi dan pragmatisme.

Penganut positivisme hanya mengakui satu kebenaran, yaitu kebenaran yang bersifat inderawi, yang teramati dan terukur, yang dapat diulangbuktikan oleh siapa pun.  Dalam konsep Barat, ilmu berhubungan dengan masalah empiri-sensual (induktif), empiri-logik (deduktif) atau logico-hipotetico-verificatif, artinya baru disebut sebagai ilmu jika telah dibuktikan kebenarannya secara empiris.

Jelaslah dari sini, jika peristiwa Mi’raj dilihat dari perspektif keilmuan Barat, maka ia tidak dipandang sebagai sesuatu yang ilmiah melainkan hanya bersifat dogma dan sistem kepercayaan (credo). Namun menjadi berbeda jika dilihat dari prespektif keilmuan Islam, ia tetap ilmiah dan benar, sebab dalam konsep Islam ilmu di samping memiliki paradigma deduktif-induktif juga mengakui paradigma transenden, yaitu pengakuan adanya kebenaran dari Tuhan, pengakuan adanya hal-hal yang bersifat metafisik (misalnya adanya Allah, para Malaikat, hari kebangkitan, surga, neraka dan seterusnya) merupakan kebenaran agama yang tidak memerlukan bukti empiris, melainkan persolan-persoalan metafisik tersebut benar adanya (realistis).

Baca juga: Libur Nataru 2026, Milenial Glow Garden Jadi Destinasi Wisata Romantis Penuh Cahaya

Sesuatu yang tidak atau belum terjangkau oleh akal pikiran manusia tidaklah selalu menjadi dalih akan ketidakbenaran sesuatu itu sendiri, sebab Al-Qur’an menyebutkan: …. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit sekali” (QS. 17: 85). Dalam beberapa ayat yang mengantarkan peristiwa Isra Mi’raj ini berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya, misalnya firman Allah : “Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS. 16: 8). Dan janganlah kamu mengambil sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut, karena sesungguhnya pendengaran, mata dan hati kesemuanya itu akan diminta pertanggung jawaban (QS. 17: 36).

Apa yang ditegaskan Al-Qur’an tentang keterbatasan pengetahuan menusia tersebut juga diakui oleh para ilmuwan abad 20. Schwart misalnya –seorang pakar matematika kenamaan Perancis— menyatakan, bahwa fisikawan abad ke-19 berbangga diri dengan kemampunnya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak sekalipun.

Baca juga: Jawa Timur Menjadi Provinsi Paling Diminati Wisatawan di Tahun 2025

Sedangkan fisikawan abad 20 yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya meski yang disebut materi sekalipun. Teori Black Holes menyatakan, bahwa pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3 persen saja, sedangkan 97 persennya di luar kemampuan manusia. Itulah sebabnya seorang Kierkegaard tokoh eksistensialisme, menyatakan, “Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, melainkan karena ia tidak tahu“. Lalu Imanual Kant juga berkata, “Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya“.

**Guru Besar UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute

redaktur: jatmiko

Tags: Filsafat Ilmu IslamIlmu dan ImanIsra MirajMetafisika dalam IslamParadigma Keilmuan IslamPeristiwa Isra Mi’rajPerspektif Keilmuan IslamSains dan Islam

Related Posts

Kyai Fuad Mun'im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati Yang Menghadirkan
Catatan

Kyai Fuad Mun’im Ploso, Bau Rokok yang Khas, dan Hati yang Menghadirkan

Jumat, 7 Agu 2026
Ketika Biaya Hidup Membuka Pintu Eksploitasi Seksual
Catatan

Ketika Biaya Hidup Membuka Pintu Eksploitasi Seksual

Senin, 3 Agu 2026
Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun
Catatan

Guru yang Menggenggam Tangan Muridnya: Mengenang 24 Tahun Kepergian Ustadz Abdullah Bin Awad Abdun

Sabtu, 1 Agu 2026
Muktamar dan Reposisi Peran Sarjana NU Abad Kedua
Catatan

Muktamar dan Reposisi Peran Sarjana NU Abad Kedua

Jumat, 31 Jul 2026
Ketika Seks Dijadikan Bukti Cinta
Catatan

Ketika Seks Dijadikan Bukti Cinta

Senin, 27 Jul 2026
kepemimpinan nu,PBNU,NU - Menjaga Keseimbangan Kepemimpinan NU
Catatan

Menjaga Keseimbangan Kepemimpinan NU

Selasa, 21 Jul 2026
Next Post
Sekolah Garuda diperluas

Program Sekolah Garuda Diperluas, Ini Perbedaannya dengan Sekolah Rakyat

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 07222026 2
Advtm 07222026 1
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.