Oleh: Moh. Kholid, S.Pd*
Tugumalang.id – Di tanah air kami, negeri di mana sistem pendidikannya bisa disandingkan dengan plot Standup Komedi, kembali mencatatkan prestasi membanggakan: 1,01 juta lulusan perguruan tinggi menganggur pada 2025, sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 7.465.599 pengangguran di Indonesia per Agustus 2024.
11,28% di antaranya, atau 842.378 orang, merupakan ‘sarjana pengangguran’, yaitu lulusan D4, S1, S2, dan S3.
Bayangkan, setelah menghabiskan bertahun-tahun belajar tentang teori akademis dan cara membuat jurnal akademik yang isinya lebih banyak kutipan dari sumber-sumber umum daripada analisis orisinal, yang sebelumnya mereka tentunya disambut oleh jabat tangan Rektor lalu pada acara puncak formalitas itu mereka diberi selembar Kertas Bernama Ijazah, endingnya para sarjana ini disambut dengan jawaban dingin: “Terima kasih, kami akan hubungi jika ada lowongan.”
Baca Juga: 12 SD Islam Terbaik di Kota Malang 2025: Pilihan Unggul untuk Pendidikan Anak
Oh, tentu saja—lowongan itu pasti ada, mungkin hanya untuk mereka yang bisa joget sambil coding dalam bahasa Python atau JavaScript sambil menyanyi lagu kebangsaan mungkin sembari ngepel lantai juga.
Kementerian Pendidikan juga tak kalah kreatif. Alih-alih fokus membersihkan diri dari skandal korupsi pengadaan proyek—di mana anggaran sebesar Rp1,2 triliun raib tanpa jejak—mereka justru sibuk meluncurkan program pelatihan digitalisasi—dan berita terkininya adalah ternyata Program Digitalisasi Pendidikan di Kemendikbudristek 2019-2023 itu justru lebih fantastis angka Korupsinya, 9,9 triliun.
Padahal peserta program itu diajari cara menggunakan Google Form dan Zoom saja awalnya, rencana penyediaan fasilitas belajar peserta yang awalnya dicanangkan berupa satu set PC Windows bisa berbalik arah menjadi Chromebooks—ada aroma amis dan menyengat hidung dalam kasus ini.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Segera Beroperasi, Dosen UM: Pastikan Pendidikan Bisa Diakses Semua Kalangan
Sementara itu, kurikulum pendidikan tinggi kita yang berubah-ubah tidak menentu seperti daun tertiup angin yang lama-lama akan robek juga—tetap seperti daftar belanja nostalgis, lengkap dengan teori-teori kuno yang lebih cocok disimpan di museum ketimbang diajarkan di kelas.
“Hei, mahasiswa! Kamu harus adaptif!” —ya, kalau bisa adaptif (bergumam dalam hati), kalo tidak bisa? Bagaimana? mungkin kami bisa terbang ke bulan sambil bawa lamaran kerja di sana.
Dan untuk pemerintah yang gemar berpidato tentang “revolusi mental”: mari kita ucapkan terima kasih atas sindiran tak tersirat bahwa lulusan perguruan tinggi di negeri ini adalah bukti kegagalan struktural yang dibiarkan berakar.
“Kami butuh orang yang punya soft skill!” —oh, tentu saja! Kami para sarjana sudah terlatih dalam soft skill bernama “menahan lapar sambil menunggu panggilan kerja yang tak kunjung datang” Seperti kata pepatah, “Di balik kesulitan, ada peluang.”
Tapi mungkin, untuk kali ini, peluang itu hanya ada di iklan lowongan kerja, atau Job Fair yang kapan hari ricuh dan simpang siur itu—HRD nya bilang acara itu hanya Formalitas tapi Wamenaker menyatakan bahwa pernyataan HRD itu merupakan bentuk ketidakbertanggung-jawaban—yang penuh janji palsu—seperti janji kampanye yang hilang setelah pemilu usai.
Oh, dan jangan lupa, para sarjana ini tidak gagal. Mereka hanya terlalu cerdas untuk sistem yang lebih suka melahirkan birokrat daripada innovator—yang sibuk diajari cari relasi daripada mempertajam kompetensi.
Jadi, jika Anda masih percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kesuksesan, mungkin Anda belum membaca berita hari ini. Atau, mungkin Anda salah satu dari mereka yang masih percaya bahwa “lowongan selalu ada, asal rela digaji UMR dan lembur sampai jam 10 malam.”
Selamat berjuang, calon pemimpin bangsa! (pengagguran merata dan meningkat jumlahnya karena dipelihara) Anda adalah masterpiece dari sebuah sistem yang lebih mirip zombie factory daripada tempat mencetak generasi emas (atau minimal dilapisi emas).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana Unisma sekaligus pengajar di STF Al Farabi Malang
Editor: Herlianto. A





























