Malang, Tugumalang.id-Kasus HIV/AIDS di Indonesia masih berada dalam kategori serius di kawasan Asia Tenggara. Meski prevalensi persentasenya tergolong tidak setinggi beberapa negara tetangga, jumlah orang yang hidup dengan HIV di Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di ASEAN. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan HIV tidak semata soal angka persentase, melainkan juga beban absolut yang harus ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.
Dibanding negara lain di Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi teratas untuk jumlah penderita HIV secara absolut. Sementara dari sisi prevalensi persentase populasi dewasa, Indonesia berada di urutan menengah, di bawah negara seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Laos.
Baca juga: Lingga Indonesia Dorong Penghapusan Diskriminasi Terhadap Komunitas HIV/AIDS di Kota Malang
Perbedaan ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia terletak pada skala populasi yang besar, penyebaran geografis luas, serta kompleksitas faktor sosial yang memengaruhi penularan.

Data dari kadata.co.id menyebutkan estimasi orang dengan HIV per tahun 2022 di Indonesia tercatat sebanyak 540.000, menyusul Thailand 520.000, Myanmar 270.000, Vietnam 240.000, Filipina 140.000, Malaysia 80.000, Kamboja 74.000, Laos 15.000, Singapura 8.000, Timor Leste 1.400.
Berdasarkan pola epidemi nasional, terdapat lima faktor utama yang membuat angka HIV/AIDS di Indonesia masih relatif tinggi dan belum menunjukkan penurunan signifikan.
Hubungan Seksual Berisiko Masih Mendominasi
Penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom masih menjadi penyebab terbesar kasus HIV di Indonesia. Praktik berganti pasangan, rendahnya penggunaan alat pengaman, serta hubungan seksual berisiko pada kelompok rentan seperti pekerja seks dan lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki menjadi jalur utama penularan yang terus berulang di berbagai daerah.
Dibanding beberapa negara ASEAN yang berhasil menekan penularan melalui edukasi seksual komprehensif, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjangkau kelompok berisiko secara efektif dan berkelanjutan.
Peran Narkoba Suntik dan Rendahnya Literasi HIV

Penggunaan narkoba suntik secara bergantian menjadi faktor signifikan kedua. Jarum suntik tidak steril memungkinkan virus masuk langsung ke aliran darah, membuat penularan terjadi dengan cepat dan efisien. Di sejumlah wilayah, praktik ini masih terus berlangsung seiring lemahnya pengawasan dan minimnya edukasi harm reduction.
Di sisi lain, rendahnya literasi tentang HIV memperparah situasi. Banyak masyarakat belum memahami secara utuh cara penularan, pencegahan, serta pentingnya tes dini. Hal ini menyebabkan perilaku berisiko tidak disadari dan sulit dikendalikan sejak awal.
Stigma Sosial dan Hambatan Akses Layanan

Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS masih menjadi penghalang besar dalam upaya pengendalian. Banyak individu enggan melakukan tes atau mengakses layanan pengobatan karena takut dikucilkan secara sosial. Situasi ini memperbesar potensi penularan yang tidak terdeteksi.
Selain itu, akses layanan kesehatan yang belum merata, terutama di daerah terpencil dan komunitas rentan, menyebabkan banyak kasus baru ditemukan dalam kondisi sudah memasuki fase AIDS. Keterlambatan deteksi ini membuat beban penanganan semakin berat dan angka penularan sulit ditekan secara cepat.
Secara keseluruhan, tingginya kasus HIV/AIDS di Indonesia mencerminkan kombinasi persoalan perilaku berisiko, rendahnya edukasi, stigma sosial, serta kesenjangan akses layanan kesehatan. Dibanding negara ASEAN lain, tantangan Indonesia lebih kompleks karena jumlah populasi yang besar dan variasi kondisi sosial yang sangat beragam.
Penguatan edukasi publik, strategi pencegahan berbasis komunitas, serta perluasan layanan tes dan pengobatan menjadi kunci utama untuk menekan laju HIV/AIDS di Indonesia sekaligus memperbaiki posisi nasional dalam peta epidemi kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa penanggulangan penyakit HIV/AIDS masih menjadi perhatian serius lintas sektor. Upaya pengendalian epidemi HIV tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari sektor swasta hingga komunitas.
Seluruh pihak saat ini terus memperkuat sinergi dan kolaborasi untuk menekan laju penularan serta meningkatkan akses layanan bagi kelompok rentan.
“Penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi perhatian seluruh sektor swasta, akademisi, LSM, hingga komunitas peduli AIDS. Kami terus berupaya memperkuat kolaborasi untuk mengatasi epidemi HIV,” kata Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, pada sambutan di Temu Media bertajuk ‘Peringatan Hari AIDS/HIV sedunia 2025 ‘di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Prima mengakui, berbagai tantangan masih membayangi upaya pengendalian HIV di Indonesia. Stigma, diskriminasi, serta ketidakmerataan akses layanan kesehatan di sejumlah daerah dinilai menjadi hambatan utama yang harus segera diselesaikan.
“Kita masih menghadapi tantangan besar berupa stigma, diskriminasi, dan ketidakmerataan akses layanan. Ini harus kita selesaikan agar target pengendalian HIV dapat tercapai,” ucap Prima.
Ia menegaskan bahwa peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor secara lebih konkret. Menurutnya, terdapat tiga kata kunci yang harus diterjemahkan dalam aksi nyata di seluruh level.
Komunikasi
Koordinasi
Kolaborasi
“Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini adalah momentum penting untuk memperkuat sinergi lintas sektor dan menghapus berbagai hambatan yang selama ini masih ada. Komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi itu mudah diucapkan tetapi sulit dijalankan,” ujar Prima.
Di sisi lain, Ketua Tim Kerja HIV PIMS Kemenkes, Tiersa Vera Junita, memaparkan adanya tren peningkatan tes dan pengobatan Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada ibu hamil. Sepanjang Januari hingga September 2025, tercatat sebanyak 2.264 ibu hamil terdeteksi positif HIV.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: jatmiko
redaktur: jatmiko





























