Kota Batu, Tugumalang.id – Tim Susur Sungai Brantas 2025 telah menyelesaikan tugasnya menyusur kondisi sungai terpanjang di Jawa Timur sejak 15-18 Oktober 2025. Kini, mereka masih menyusun hasil ekspedisi tersebut secara komprehensif.
Lebih dari 300 personel lintas instansi mulai BPBD, DLH, TNI, Polri, BBWS Brantas, PJT, akademisi, hingga komunitas peduli lingkungan turun langsung ke lapangan. Mereka menelusuri aliran Brantas dari titik nol Arboretum Sumberbrantas di Kota Batu hingga Bendungan Sengguruh di Kabupaten Malang.
Mereka ingin membaca ulang kondisi sungai yang mengaliri 17 kabupaten/kota di Jatim tersebut hari ini. Hasil sementara, tim Susur Sungai Brantas 2025 mendapati beberapa catatan penting. Terutama banyaknya timbulan sampah hingga pendangkalan di sungai yang berada di wilayah Kota Malang.
Koordinator Forum Brantas Malang Raya, Doddy Eko Wahyudi menyebutkan jika ekspedisi itu dibagi menjadi 3 etape sesuai wilayah masing-masing. Pertama-tama, di Kota Batu, pihaknya menemukan pencemaran ringan di dua titik berbeda.
Baca juga: Kolaborasi Lintas Pihak di Batu, Kick Off Susur Sungai Brantas 2025 Dimulai dari Hulu Brantas
“Ada limbah industri tahu di Pandanrejo dan limbah peternakan babi di Kelurahan Temas. Populasinya kecil, sekitar sepuluh ekor. Meski begitu tetap berdampak pada kualitas air,” jelas Doddy, Selasa (21/10/2025).
Doddy menjelaskan jika mungkin jika dilihat dari kejauhan, air sungai masih tampak jernih. Namun hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan kadar bahan organik.
“Kalau terus dibiarkan, bisa jadi sumber pencemaran serius. Hasil ekspedisi ini yang nanti berguna untuk ditindaklanjuti,” kata dia.

Pemandangan memprihatinkan terjadi di wilayah Kota Malang. Doddy menuturkan jika pihaknya menemukan berbagai macam potensi pencemaran. Mulai banyaknya timbulan sampah, banyak bangunan dibangun di sempadan sungai hingga ditemui retakan tebing dan potensi longsor.
“Ini sangat mengkhawatirkan. Ada pelanggaran pemanfaatan sempadan sungai. Kalau dibiarkan, potensi longsor besar sekali,” tutur Doddy.
Di wilayah ini pula ditemukan limbah cair domestik, sedimentasi tebal, serta retakan tebing. Sedangkan di Kabupaten Malang, persoalan klasik belum berubah, sampah menumpuk di jembatan dan tepian sungai.
Menurut Doddy, kegiatan susur sungai ini memang difokuskan pada pendataan dan pemetaan masalah, bukan aksi bersih-bersih semata. ”emua hasil akan kami rekap menjadi laporan komprehensif dan dipresentasikan ke kepala daerah se-Malang Raya. Harapannya, bisa jadi dasar kebijakan konkret dalam penyelamatan Brantas,” tegasnya.
Baca juga: Cegah Banjir Bandang Jilid 2, Pemdes Bulukerto – BPBD Kota Batu Susur Sungai Kawasan Pusung Lading
Dari data itu, Forum Brantas akan mengidentifikasi mana yang perlu penanganan cepat, mana yang butuh kebijakan lintas daerah. Sebab Brantas tidak berhenti di batas administrasi.
Nantinya, hasil Susur Sungai Brantas 2025 akan dirumuskan menjadi laporan dan rekomendasi bersama tiga daerah di Malang Raya. Dokumen ini akan menjadi dasar tindak lanjut nyata, mulai dari pengendalian limbah industri, pengawasan pemanfaatan sempadan, hingga edukasi publik.
“Menjaga Brantas bukan tugas satu kota, tapi tugas semua yang menikmati airnya,” tegasnya.
Seperti diketahui, kegiatan Susur Sungai Brantas ini bertujuan untuk mengamati kondisinya secara langsung, mendata masalah, hingga merumuskan solusi dan berbagi peran sesuai tugas dan tanggung jawabnya masing-masing stakeholder untuk menyelesaikannya.
Sementara itu, Wali Kota Batu Nurochman yang turut melepas tim susur sungai menilai kegiatan ini bukan hanya kegiatan rutin, melainkan bentuk nyata sinergi lintas wilayah. Ia menyebut, Sungai Brantas memiliki arti penting bagi masyarakat Jawa Timur, baik sebagai sumber air baku, irigasi, maupun penggerak ekonomi.
“Air Brantas mengaliri kehidupan jutaan orang di bawahnya. Maka menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab PJT I, tapi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi pendekatan kolaboratif yang ditempuh PJT I bersama komunitas. Selama ini, kata dia, banyak kegiatan lingkungan yang berjalan terpisah. ”Hari ini, kita melihat contoh kerja nyata mulai dari lembaga, akademisi, aparat, dan masyarakat bekerja di jalur yang sama. Ini yang harus diperkuat,” ujarnya.
Cak Nur, sapaan akrabnya, memastikan Pemerintah Kota Batu akan menindaklanjuti hasil penyusuran ini dalam pertemuan lintas daerah. ”Kami berencana mengundang 17 kepala daerah yang wilayahnya dilalui Brantas untuk membahas langkah-langkah perbaikan. Hasil dari kegiatan ini akan menjadi bahan rumusan bersama,” ungkapnya.
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























