Kota Batu, Tugumalang.id— Upaya menjaga kelestarian ekosistem sumber daya air kembali digaungkan melalui Kick Off Susur Sungai Brantas 2025 yang digelar di Arboretum, hulu Sungai Brantas, Kota Batu, Senin (13/10/2025). Kegiatan ini menjadi momentum penting kolaborasi lintas pihak dalam menjaga keberlanjutan Sungai Brantas sebagai sumber kehidupan masyarakat Jawa Timur.
Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen mulai dari Pemerintah Kota Batu, Perum Jasa Tirta I (PJT I), DPRD Jawa Timur, Forum Brantas Malang Raya, komunitas lingkungan, hingga masyarakat umum. Program ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa yang pertama kali dilaksanakan pada tahun 2019.
Susur Sungai Brantas 2025, Rute Lebih Panjang dan Fokus Pengamatan Ekosistem
Kepala Sub Divisi Wilayah Sungai (WS) Brantas 1 bagian hulu Perum Jasa Tirta I, Sucipto Eko, menjelaskan bahwa rute susur sungai tahun ini lebih panjang dari tahun sebelumnya.
“Tahun 2025 ini, perjalanan akan berakhir di Bendungan Sengguruh, salah satu infrastruktur keairan yang kami kelola di Kabupaten Malang,” jelasnya.
Baca juga: Upaya PJT I Pulihkan Ekologi Kali Brantas Lewat Susur Sungai
Menurutnya, kegiatan Susur Sungai Brantas 2025 bertujuan untuk mengamati kondisi sungai secara langsung, mendata permasalahan, serta merumuskan solusi bersama antar-stakeholder agar upaya pelestarian bisa lebih efektif dan berkelanjutan.
Wali Kota Batu: Menjaga Brantas adalah Tanggung Jawab Bersama
Wali Kota Batu, Nurochman, yang turut melepas keberangkatan tim susur sungai menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud nyata sinergi lintas daerah.
“Air Brantas mengaliri kehidupan jutaan orang di bawahnya. Maka menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab PJT I, tapi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Ia mengapresiasi pendekatan kolaboratif yang ditempuh PJT I bersama komunitas lingkungan.
“Hari ini kita melihat kerja nyata antara lembaga, akademisi, aparat, dan masyarakat berjalan di jalur yang sama. Ini yang harus terus diperkuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Cak Nur—sapaan akrabnya—mengungkapkan bahwa Pemkot Batu akan menindaklanjuti hasil susur sungai melalui pertemuan lintas daerah.
“Kami berencana mengundang 17 kepala daerah yang wilayahnya dilalui Brantas untuk membahas langkah-langkah perbaikan. Hasil kegiatan ini akan menjadi bahan rumusan bersama,” tambahnya.
Menelusuri 15 Etape Sungai Brantas dari Hulu hingga Sengguruh
Sementara itu, Koordinator Forum Brantas Malang Raya, Doddy Eko, menjelaskan bahwa kegiatan Susur Sungai Brantas 2025 akan berlangsung selama tiga hari, 13–15 Oktober 2025, dengan rute dari Titik Nol Brantas Arboretum, Kota Batu hingga Bendungan Sengguruh, Kabupaten Malang.
Rute tersebut terbagi menjadi tiga sektor:
Sektor Kota Batu (Arboretum Brantas – Dam Klerek UMM) terdiri dari 6 etape.
Sektor Kota Malang (Kampus III UMM – Jembatan Pasar Gadang) terdiri dari 4 etape.
Sektor Kabupaten Malang (Jembatan Gadang – Bendungan Sengguruh) terdiri dari 5 etape.
Fokus pada Pemetaan Kondisi dan Potensi Kerusakan
Koordinator sektor Kota Batu, Achmad Rifai atau Mad Berlin, menuturkan bahwa kegiatan ini tidak sekadar eksplorasi sungai, melainkan juga pemetaan kondisi lingkungan secara menyeluruh.
“Kami mencatat kondisi mata air, titik pengambilan air, pembuangan limbah cair, longsoran tebing, tumpukan sampah, hingga flora dan fauna yang ada di sepanjang sungai,” jelasnya.
Selain aspek ekologis, tim juga mendokumentasikan produk kebudayaan masyarakat sekitar sungai, baik benda maupun nirbenda, yang menjadi bagian dari kehidupan dan sejarah Sungai Brantas.
Menjaga Brantas, Menjaga Kehidupan
Kegiatan Susur Sungai Brantas 2025 menjadi simbol semangat bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan sumber daya air. Dengan keterlibatan pemerintah, komunitas, akademisi, dan masyarakat, diharapkan Sungai Brantas tetap lestari dan terus menjadi sumber kehidupan bagi jutaan warga Jawa Timur.
Doddy menambahkan, langkah PJT I melibatkan komunitas dan akademisi merupakan praktik baik dalam manajemen lingkungan. ”PJT I tidak hanya mengedepankan infrastruktur, tapi juga edukasi. Mereka mengajak masyarakat ikut melihat, belajar, dan terlibat langsung. Ini yang membedakan kegiatan ini dari sebelumnya,” ujarnya.
Ia berharap gerakan ini tidak berhenti pada momentum tahunan, tetapi menjadi agenda berkelanjutan. ”Forum Brantas akan terus ikut mengawal tindak lanjutnya. Kita ingin memastikan hasil penyusuran ini benar-benar digunakan untuk memperbaiki tata kelola sungai,” tambahnya.
Kegiatan Susur Sungai Brantas 2025 berlangsung selama tiga hari, 13–15 Oktober, melewati 15 etape: enam di Kota Batu, empat di Kota Malang, dan lima di Kabupaten Malang. Tim gabungan akan menggunakan jalur darat dan air dengan dukungan peralatan pemantauan, drone, serta perahu karet di titik tertentu.
“Brantas adalah wajah dari perilaku manusia terhadap lingkungannya. Kalau sungainya bersih, berarti kesadarannya juga baik,” pesannya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























