MALANG, Tugumalang.id – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang mencatat angka kekerasan perempuan dan anak di Kota Malang mencapai hampir 200 kasus sepanjang 2025. Memasuki 2026, gerakan Berani Speak Up terus digaungkan secara masif sebagai upaya menekan angka kekerasan tersebut.
Sekretaris Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Kenprabandari Aprilia, menyampaikan bahwa Kota Malang telah meraih predikat Kota Layak Anak sebanyak empat kali berturut-turut. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kasus kekerasan terhadap anak masih ditemukan.
Berdasarkan catatan Dinsos P3AP2KB, hampir 200 kasus kekerasan perempuan dan anak terjadi sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan kasus kekerasan terhadap anak.
“Di 2025 kemarin memang masih banyak kasus tentang kekerasan, baik itu perempuan dan anak. Di mana ada hampir 200 kasus yang 60-80 persennya itu adalah kekerasan terhadap anak,” ungkapnya, Rabu (11/2/2026).
Baca juga: Angka Kekerasan Perempuan dan Anak Capai 142 Kasus di Kota Batu Sepanjang 2022-2025
Mayoritas Kasus Didominasi Kekerasan terhadap Anak
Selain kekerasan fisik, Dinsos P3AP2KB juga menyoroti kasus perundungan dan kekerasan seksual yang menimpa anak di Kota Malang. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk terus melakukan langkah pencegahan dan penanganan secara berkelanjutan.
Kenprabandari menegaskan, gerakan Berani Speak Up menjadi salah satu strategi utama agar korban tidak takut melapor. Menurutnya, semakin banyak korban yang berani bersuara, semakin besar peluang penanganan cepat dilakukan dan ruang gerak pelaku dapat dipersempit.
“Harapannya di 2026 ini kasusnya terus menurun. Kami juga masifkan Berani Speak Up agar banyak yang berani melapor sehingga segera mendapat penanganan,” ujarnya.
Baca juga: Polres Malang Tangani 317 Kasus Perempuan dan Anak Sepanjang Januari-November 2025
Kolaborasi dan Penguatan Forum Anak
Dinsos P3AP2KB Kota Malang juga memiliki Forum Anak yang menjadi wadah penguatan gerakan Berani Speak Up. Di dalamnya terdapat penyintas yang turut membantu memberikan dukungan kepada korban baru agar berani melapor dan mendapatkan pendampingan.
Selain itu, Dinsos P3AP2KB menggandeng PWI Malang Raya untuk menyuarakan informasi ramah anak di Kota Malang. Kolaborasi tersebut juga diwujudkan melalui deklarasi Jurnalis Ramah Anak.
“Jurnalis adalah motor penggerak dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi tentang dunia anak. Sehingga ke depan anak-anak ini benar-benar bisa menjadi generasi penerus bangsa,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko
























