MALANG, Tugumalang.id – Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 (HUT RI ke-80) yang jatuh di tanggal 17 Agustus 2025 ini. Sosok Hamid Rusdi adalah pahlawan nasional yang lahir dan besar di Malang, yang namanya tak terpisahkan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Terkenal sebagai pahlawan tiga masa, Hamid Rusdi berjuang melawan penjajahan Belanda dan Jepang, serta mendukung kemerdekaan bangsa.
Pahlawan dari Malang ini dikenal tidak hanya sebagai pejuang yang gagah berani, tetapi juga ahli strategi yang memimpin laskar perlawanan dan melancarkan taktik unik seperti penggunaan bahasa Walikan untuk mengelabui musuh.
Baca Juga: Sejarah Hamid Rusdi, Pahlawan Asal Malang Pelintas Zaman
Kiprah Hamid Rusdi dimulai dari aktivitas kepanduan dan sebagai guru agama, lalu berlanjut menjadi sopir penjara hingga akhirnya menjadi komandan militer yang memiliki peranan besar dalam peristiwa Malang bumi hangus.
Berkat jasa-jasanya, namanya diabadikan dalam berbagai monumen dan jalan di Malang sebagai penghormatan atas dedikasi dan perjuangannya bagi bangsa Indonesia.
Hamid Rusdi: Jejak Perjuangan Pahlawan Nasional dari Malang
Hamid Rusdi lahir pada tahun 1911 di Desa Sumbermanjing Kulon, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Sejak muda, ia aktif dalam kepanduan dan bergabung dengan organisasi keagamaan serta Partai Nahdlatul Ulama.
Menjelang penjajahan Jepang, Hamid bekerja sebagai sopir di penjara besar Malang (sekarang Lapas Lowokwaru), tempat di mana ia mendapat pelatihan militer dari tentara Jepang pada tahun 1943. Namun, ia tidak tinggal diam, secara diam-diam ia merekrut dan melatih laskar perlawanan melawan penjajah.
Baca Juga: Monumen Hamid Rusdi, Jejak Perjuangan Sang Patriot Asal Malang
Sebagai anggota PETA (Pembela Tanah Air) dengan pangkat Letnan I, Hamid Rusdi menyusun taktik dan strategi perlawanan. Setelah proklamasi kemerdekaan, ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (sekarang TNI) dan mengambil peran penting dalam mempertahankan wilayah Malang.
Pada tahun 1947, sebagai Letnan Kolonel dan Komandan Pertahanan Malang, Pandaan, Pasuruan. Ia memimpin taktik bumi hangus yang dikenal dengan peristiwa Malang Lautan Api. Di mana bangunan-bangunan penting sengaja dibakar agar tidak digunakan oleh tentara Belanda.
Strategi ini menunjukkan keberanian dan komitmen Hamid dalam mempertahankan kemerdekaan dengan segala cara.
Selain keberaniannya, Hamid Rusdi juga dikenal sebagai ahli strategi yang menciptakan bahasa Walikan, sebuah bahasa sandi dalam bentuk kata-kata terbalik yang digunakan untuk mengelabui mata-mata Belanda.
Bahasa ini berhasil menjaga kerahasiaan para pejuang dan memperkuat jaringan perlawanan di Malang.
Sayangnya, pada 8 Maret 1949, Hamid Rusdi gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Wonokoyo, Kedungkandang, Malang. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati sebagai penghormatan akhir atas jasa-jasanya.
Warisan Spirit Perjuangan Rakyat
Hamid Rusdi adalah pahlawan nasional yang mewakili spirit perjuangan rakyat Malang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sosoknya menginspirasi generasi berikutnya dengan keberanian, kecerdasan strategi, serta dedikasi penuh untuk bangsa.
Sebagai pahlawan dari Malang, Hamid Rusdi dikenang bukan hanya melalui monumen dan nama jalan. Tetapi juga lewat kisah perjuangan heroiknya yang menjadi bagian penting sejarah perjuangan Indonesia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























