Jumat, Juni 5, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Gelombang Mosi Tidak Percaya Terkait Penanganan Kasus Tragedi Kanjuruhan Bermunculan

Redaksi by Redaksi
Oktober 25, 2022 7:14 am
in Pilihan Redaksi
mosi tidak percaya dengan aksi gantung syal

'Aksi simpatik suporter gantung syal di Jembatan penyeberangan di wilayah Kecamatan Blimbing, Kota Malang. sebagai respon dari penegakan hukum peristiwa kelam di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022 itu. Foto/Rubianto

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, tugumalang.id – Penanganan atas Tragedi Kanjuruhan yang terkesan berbelit membuat gelombang mosi tidak percaya masyarakat mulai bermunculan. Baik di media sosial maupun lewat aksi simpatik berupa tempelan poster, spanduk hingga gantung syal di sudut-sudut jalan.

Mulai muncul ekspresi suporter untuk memutuskan ‘pensiun ke tribun’ di media sosial. Hal ini tampak lewat tagar ‘Sejenak Menepi’ hingga ‘Gantung Syal’. Tak hanya itu, sudah mulai banyak komentar-komentar sinis tentang penegakan hukum peristiwa kelam di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022 itu.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Selain di media sosial, suporter juga melakukan aksi simpatik dengan mengikat syal kebanggaan mereka di Jembatan penyeberangan di wilayah Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Aksi ini bahkan sudah ada sejak Minggu (2/10/2022). Sehari setelah kejadian.

Usut punya usut, aksi gantung syal di jembatan dekat Masjid Sabilillah itu punya makna mendalam. Aksi simpatik itu dilakukan oleh komunitas suporter Blimbingham sebagai ungkapan duka atas kematian kawan-kawan Aremania dalam tragedi tersebut.

Selain ungkapan duka, aksi tersebut juga dinyatakan sebagai puncak kekecewaan suporter terhadap penegakan hukum yang terkesan bertele-tele. Baik dari tim TGIPF, PSSI, Kepolisian, manajemen klub Arema FC dan juga termasuk gerakan suporter.

Gantung syal suporter Aremania di Jembatan Peyeberangan Jalan A.Yani Depan Masjid Sabilillah Kota Malang, Senin (24/10/2022)./Rubianto

Sindu, perwakilan kelompok suporter Blimbingham tidak ingin berpendapat terlalu jauh. Hanya saja, hingga kini, pihaknya menilai tidak ada keseriusan dari berbagai pihak, terutama Penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini.

Sebagai contoh, hingga saat ini saja, pernyataan resmi atau pengakuan para tersangka pada publik terkait motif dirinya menembakkan gas air mata ke arah tribun tidak ada sama sekali. Berbanding terbalik dengan institusi TNI yang sudah mengakui kesalahan anak buahnya pasca-kejadian.

Di sisi lain, sambung dia, petinggi federasi juga seolah menganggap kejadian yang hingga saat ini sudah merenggut 135 nyawa ini adalah hal sepele. Bahkan sampai hari ini, tidak terlihat respon yang memuaskan dari petinggi federasi.

”Nonton bola saja bisa ada korban meninggal segitu banyak. Gak masuk akal. Kalau kayak gini udah gak usah Arema Arema-an. Kami memutuskan untuk gantung syal sampai kasus ini diusut tuntas,” kata Sindu pada tugumalang.id, Selasa (25/10/2022).

Begitu juga respon dari manajemen klub yang juga menurutnya jauh dari kata puas. “Sampai hari ini kami belum melihat sikap konkrit dari klub. Kalau berkunjung ke rumah-rumah korban, santunan dana itu kan ya kewajiban. Kami gak butuh berita proses-proses saja, kami butuh hasil. Klub harus aktif ikut usut tuntas,” paparnya.

Pada situasi seperti ini, bahkan federasi seolah masih bersikukuh agar kompetisi tetap digelar kembali. Menurut dia, itu sudah di luar nalar, ada 135 orang suporter Aremania meninggal tanpa alasan yang jelas hingga kini

”Ini soal nyawa, kawan-kawan kami yang meninggal butuh kejelasan hukum, butuh keadilan. Untuk kali ini, kami menghormati mereka (respect, red),” kata Sindu.

”Kalau terus-terusan begini, ya sudah. Keputusan kami sudah bulat, untuk gantung syal sampai semua ini diusut tuntas, seadil-adilnya. Kawan-kawan kami yang meninggal butuh keadilan,” tegasnya.

‘Aksi simpatik suporter gantung syal di Jembatan penyeberangan di wilayah Kecamatan Blimbing, Kota Malang. sebagai respon dari penegakan hukum peristiwa kelam di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022 itu. Foto/Rubiantongan

Keputusan yang sama juga disampaikan salah satu Aremanita asal Singosari, Rizka Farly (23). Bagi dia, dunia sepak bola yang digemarinya sejak duduk di bangku SMP itu sudah tak lagi aman. Menurut dia, peristiwa 1 Oktober itu tak seharusnya terjadi.

Rizka menuturkan sudah terlanjur mencintai Arema karena suasana tribun yang diciptakan aman sejak dia mengenal Arema. Bahkan, sejak dia menikah, dirinya kerap mengajak anaknya yang kini sudah berusia 4 tahun menonton Arema.

”Tapi semenjak kejadian kemarin saya jadi trauma. Saya putuskan untuk gantung syal, mungkin untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Kemarin itu saya sebenarnya ngotot untuk nonton. Untung aja saya gak diizinin sama suami,” ucapnya.

Pendapat serupa datang dari sejumlah kelompok suporter lain. Seperti lewat tagar ‘Sejenak Menepi’. ”Belum adanya perbaikan di tubuh PSSI, dan para penembak gas air mata, yang sampai hari ini masih berbahagia dengan keluarga mereka setelah membantai ratusan nyawa,” begitu pernyataan dari postingan @arema_bluearmy.

Lebih lanjut, dari pernyataan tersebut mereka memutuskan untuk tidak mendukung Arema FC dalam kegiatan apapun, selain upaya penuntasan hukum dan keadilan bagi para suporter benar-benar ditegakkan.

”Mari menepi, sampai mereka tahu apa itu arti dari kemanusiaan,” timpal Iqbal Pamungkas dalam postingan tersebut.

Seperti diketahui korban meninggal akibat insiden penembakan gas air mata di stadion itu masih terus bertambah. Terakhir, mahasiswa asal UMM, Farza Dwi Kurniawan menjadi korban meninggal ke 135. Ia meninggal saat dalam perawatan di RSSA Malang pada Minggu (23/10/2022).

Dalam hasil investigasi Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) telah melakukan pendataan dan penanganan medis korban Tragedi Kanjuruhan di sejumlah rumah sakit di Kabupaten dan Kota Malang.

Sebagai rumah sakit rujukan utama, RSSA Malang telah menerima 88 orang pasien terdiri dari 20 orang jenazah, 19 orang korban luka berat dan 49 orang korban luka ringan/sedang. Dari enam orang korban yang masih dirawat, empat telah meninggal dunia dan tersisa dua orang yang masih koma.

Penjelasan dr Kohar, Dirut RSSA Malang dalam Laporan TGIPF bahwa umumnya penonton dalam Tragedi Kanjuruhan mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen. Hal ini disebabkan oleh masifnya asap gas air mata dihirup oleh korban.

Namun dari hasil rekonstruksi yang digelar di Lapangan Mapolda Jatim, Surabaya, mendapati para tersangka tidak mengakui menembakkan gas air mata ke arah tribun. Merunut pernyataan dari Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetya menuturkan bahwa keterangan itu sah dalam materi penyidikan.

“Secara materi penyidikan, itu penyidik yang akan menyampaikan. Kalau misal tersangka mau menyebutkan seperti itu (tidak menembak ke arah tribun), itu haknya dia, tersangka punya hak ingkar,” ujar Dedi.

Dedi mengungkapkan penyidik memiliki bukti yang bisa dipertanggunganjawabkan di kejaksaan hingga pengadilan saat proses persidangan nantinya.

“Penyidik memiliki keyakinan. Dengan seluruh kesaksian kemudian alat bukti yang dimiliki penyidik, nanti penyidik akan dipertanggungjawabkan baik kejaksaan maupun dalam persidangan,” ucap dia.

Reporter: Ulul Azmy
editor: jatmiko

Tags: gantung syalHeadlinepensiun tribunsejenak menepitragedi kanjuruhan

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
tersangka dugaan pencabulan anak di bawah umur

Diduga Cabuli 2 Korbannya di Bawah Umur, Pemuda Asal Dampit ini Ditahan Polisi

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.