Kota Batu, Tugumalang.id – Wakil Ketua I DPRD Kota Batu, Ludi Tanarto, mendorong Pemerintah Kota Batu untuk mengambil langkah strategis guna mengembalikan kejayaan apel sebagai ikon pertanian khas Kota Batu. Penurunan produktivitas apel dari tahun ke tahun dinilai sebagai sinyal perlunya kebijakan yang lebih serius dan terarah.
Fenomena alih komoditas oleh petani apel kian marak. Banyak petani di Kota Batu kini beralih menanam jeruk, kopi, alpukat, hingga sayur mayur. Perubahan ini tak lepas dari tingginya biaya perawatan pohon apel dan rendahnya harga jual di pasaran.
“Permintaan terhadap buah apel melemah. Akibatnya, petani kesulitan mendapat untung dan memilih beralih ke tanaman lain yang lebih menguntungkan,” ujar Ludi Tanarto, Senin (14/7/2025).
Baca juga: DPRD Kota Batu Minta Penghapusan Aset Tak Produktif, Termasuk Rumah Dinas di Cibubur
Meski prihatin, Ludi mengaku optimis dengan semangat baru yang ditunjukkan Wali Kota Batu, Nurochman, dalam menjaga warisan historis Kota Batu sebagai daerah penghasil apel. Ia menegaskan bahwa mempertahankan apel bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut identitas dan sejarah kota.
Integrasi Apel dengan Pariwisata dan Perhotelan
Sebagai bentuk dukungan, politisi PKS tersebut mengusulkan sejumlah strategi, termasuk mengintegrasikan produk apel ke dalam sektor pariwisata dan perhotelan.
“Hotel-hotel di Kota Batu bisa menyajikan apel sebagai welcome fruit untuk tamu. Sementara destinasi wisata bisa membagikan buah apel kepada pengunjung sebagai bagian dari pengalaman wisata khas Kota Batu,” paparnya.
Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan permintaan sekaligus memperkuat branding Kota Batu sebagai “Kota Apel”.
Penghargaan untuk Petani dan Ekspansi Pasar
Selain itu, Ludi juga mendorong Pemkot Batu untuk memberikan penghargaan resmi kepada para petani apel yang masih bertahan. Bentuk penghargaan ini dinilai penting untuk membangkitkan semangat mereka dalam menjaga keberlanjutan komoditas apel.
Ia juga menyarankan agar pemerintah membuka kerja sama dengan daerah-daerah lain untuk memperluas pasar apel, salah satunya melalui potensi penggunaan apel dalam upacara adat di Bali.
“Bali, misalnya, sering menggunakan apel dalam ritual adat. Ini bisa menjadi peluang besar untuk memperluas pasar apel Batu,” tambahnya.
Baca juga: DPRD Kota Batu Minta Pemkot Pertajam Kolaborasi setelah Tetapkan Raperda Pertanggungjawaban APBD 2024
Dalam aspek lain, Pemerintah juga perlu mendorong gerakan simbolis seperti menanam apel di halaman kantor pemerintahan dan swasta sebagai bentuk komitmen bersama dalam mempertahankan identitas kota.
Dari sisi ekonomi, Ludi mengusulkan agar Pemkot Batu memberikan keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi para petani apel. Kebijakan ini diharapkan bisa menjadi motivasi agar petani bertahan membudidayakan apel.
Dia juga menggagas penyelenggaraan ‘Hari Apel Kota Batu’ sebagai agenda tahunan. Event ini diharapkan dapat menjadi momentum promosi, edukasi, sekaligus penguatan citra apel Batu di mata masyarakat dan wisatawan.
“Petani kita sudah sangat ahli dalam teknik budidaya apel. Tantangan kita saat ini bukan pada teknis, tapi bagaimana menciptakan pasar yang stabil dan menguntungkan,” urainya.
Dengan sinergi antara pemerintah, petani dan sektor swasta, kata Ludi, kejayaan apel Batu bisa kembali diraih. Sehingga apel tak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga simbol kebanggaan dan warisan budaya Kota Batu.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























