Malang, Tugumalang.id – Pantai Bajul Mati di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, kini mendapat julukan baru sebagai Ibu Kota Penyu. Julukan ini bukan sekadar simbolik, melainkan hasil dari komitmen panjang dalam kegiatan konservasi penyu yang telah berjalan sejak 2009.
Konservasi Penyu Sejak 2009: Kolaborasi Tiga Lembaga

Kesuksesan konservasi ini merupakan buah kerja kolaboratif dari lembaga Three Parted, yang terdiri atas Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC), Perhutani KPH Malang, dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur. Sejak dibentuk, lembaga ini fokus melakukan penyelamatan sarang penyu, relokasi telur, hingga pelepasliaran tukik (anak penyu).
Program ini menunjukkan hasil yang signifikan. Berdasarkan data, sejak 2012 hingga 2023, sekitar 15.000 telur penyu berhasil direlokasi, dan 12.000 tukik dilepasliarkan ke habitat alaminya di laut.
Ribuan Tukik Dilepasliarkan Setiap Tahun
Ketua BSTC, Sutari, dalam keterangannya kepada Tugumalang.id menyampaikan bahwa dukungan dari Perhutani KPH Malang dan Balai Besar KSDA Jatim sangat penting dalam keberhasilan konservasi ini.
“Berkat dukungan Perhutani KPH Malang dan Balai Besar KSDA Jatim, kami bisa melepasliarkan belasan ribu tukik sejak 2012,” ujar Sutari.
Baca juga: Eksplorasi Konservasi Penyu di Pantai Bajul Mati, Kolaborasi Tugumalang.id dan Perhutani KPH Malang

Pada tahun 2024, tercatat ada 2.400 telur penyu dari 32 sarang yang berhasil diselamatkan, dengan hasil pelepasliaran sebanyak 2.000 tukik. Sementara itu, dari Maret hingga Mei 2025, sebanyak 163 tukik dilepasliarkan. Terbaru, pada Sabtu, 12 Juli 2025, tercatat ada 464 tukik yang kembali dilepas ke laut lepas.
“Jumlah tukik yang berhasil dilepasliarkan memang naik turun tergantung musim kawin. Tapi secara umum, angka pelepasliaran selalu tinggi dari telur yang berhasil kami selamatkan,” tambah Sutari.
Bajul Mati, Simbol Keseriusan Konservasi Penyu di Indonesia

Dengan pencapaian ini, Pantai Bajul Mati tidak hanya menjadi tempat wisata alam yang memesona, tapi juga simbol keberhasilan program konservasi penyu di Indonesia. Julukan Ibu Kota Penyu menjadi bukti bahwa pelestarian satwa laut bisa berjalan berdampingan dengan edukasi dan pariwisata yang berkelanjutan.
Bukan tanpa alasan Pantai Bajul Mati dinobatkan sebagai Ibu Kota Penyu. Menurut Sutari, banyak nya telur penyu yang berhasil diselamatkan dan dilepasliarkan. Lebih dari itu, para relawan BSTC turut andil besar dalam proses konservasi.
“Ini bukan hanya sekedar pelepas liaran, ada proses lain yang menguras tenaga dan pikiran, yaitu patroli telur malam hari, memberi makan dan merawat tukik hingga siap dilepas liarkan supaya bisa hidup di laut lepas secara alami,” jelasnya.
Baca juga: Sepenggal Kisah Tentang Pantai Bajul Mati dan Ibu Kota Penyu
Menurutnya butuh perjuangan yang keras untuk menjadikan Pantai Bajul Mati rumah yang nyaman bagi penyu.
“Saya sampaikan terima kasih kepada Perhutani KPH Malang yang sudah memberi support dengan maksimal upaya konservasi ini, manfaat ini tidak hanya untuk sekarang, tapi untuk anak cucu dan masa depan kelestarian alam,” pungkas Sutari kepada Tugumalang.id.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Rully Novianto (Tim Expedisi Tugumalang.id)
redaktur: jatmiko
























