Tugumalang.id – Temuan balita terindikasi suspek wabah campak mulai bermunculan di Kota Malang. Kini, Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang memasifkan imunisasi atau vaksinasi campak kepada anak anak di Kota Malang.
Dinkes Kota Malang mencatat ada 312 kasus suspek campak dengan 52 kasus terkonfirmasi campak di tahun 2025. Kemudian di tahun 2026 ini, ditemukan 61 kasus suspek campak yang hingga saat ini masih menanti hasil final laboratorium.
Baca Juga: Kasus Campak Meningkat, Warga Diimbau Jaga Kontak Fisik Anak Selama Lebaran 2026
Kepala Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif mengatakan bahwa temuan ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, mayoritas merupakan anak anak usia dini.
“Yang terbanyak yakni anak usia 1 sampai 4 tahun,” ucapnya, Senin (6/4/2026).
Meski begitu, ia menegaskan bahwa temuan tersebut masih dalam kategori suspek. Namun berdasarkan sebarannya, kasus tersebut ditemukan di faskes faskes yang ada di Kota Malang.
“Suspek itu berdasarkan gejala yang ditemukan di puskesmas, klinik atau rumah sakit. Jadi kalau mengarah ke campak, langsung diambil sampel dan dikirim ke BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan) Surabaya,” ujarnya.
Dikatakan, temuan ini tetap menjadi alarm kewaspadaan. Sebagai upaya antisipasi, Dinkes Kota Malang menggencarkan program Catch-Up Campaign atau kejar serentak imunisasi campak.
Baca Juga: Kasus Campak di Kota Malang Turun Drastis, Kini Tersisa Satu Pasien Dirawat
Imunisasi ini difokuskan pada anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi lengkap dengan sasaran 1.200 anak.
Sebelumnya pihaknya juga telah menjalankan program Outbreak Response Immunization (ORI) dengan capaian 95,6 persen. Angka tersebut diklaim telah melampaui ambang herd immunity dalam mempersempit celah penularan virus.
“Kalau ORI dulu semua divaksin tanpa melihat status. Kalau sekarang yang sudah imunisasi lengkap tidak diikutkan. Jadi kita fokus ke yang belum,” urainya.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan bahwa masih ada masyarakat yang enggan memberikan imunisasi campak kepada anaknya. Hal ini menjadi PR yang perlu diselesaikan.
“Masih ada beberapa warga yang menganggap imunisasi campak ini tidak berdampak. Ini yang menjadi perhatian serius kami,” kata Wahyu.
Menurutnya, campak merupakan salah satu penyakit paling menular dengan tingkat penularan tinggi. Ia menyebut rasio penularannya bisa mencapai 1 banding 18. Sehingga satu kasus dapat dengan cepat menyebar luas di lingkungan sekitar.
“Prosentasenya memang kecil yang menolak. Tapi karena ini penyakit sangat menular, potensi menjadi KLB itu tetap ada. Ini yang harus dicegah,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























