Jumat, Juli 17, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Insight

Prof Junaidi Mistar, Guru Besar Unisma yang Pernah Bekerja jadi Patung di Australia

Redaksi by Redaksi
Desember 30, 2023 11:26 am
in Insight
Prof Drs H Junaidi Mistar PhD, guru besar fakultas pendidikan dan keguruan di Universitas Islam Malang (Unisma) sekaligus wakil rektor bidang akademik.

Prof Drs H Junaidi Mistar PhD, guru besar fakultas pendidikan dan keguruan di Universitas Islam Malang (Unisma) sekaligus wakil rektor bidang akademik. Foto/Jakfar

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Puncak kesuksesan seseorang sering kali menjadi ukuran bagi orang lain. Tetapi, ada yang sering dilupakan yaitu bagaimana seseorang itu mewujudkan kesuksesannya.

Prinsipnya, tak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Itulah barangkali gambaran singkat tentang Prof Drs H Junaidi Mistar PhD, guru besar fakultas pendidikan dan keguruan di Universitas Islam Malang (Unisma).

READ ALSO

Belajar Kepemimpinan dari Coach Fahmi: Pemimpin Berkarakter Fondasi Bangsa yang Tangguh

Gastronom Malang Arie Aripin Raih Penghargaan Tokoh Teknologi dan Inovasi 2026

Prof Jun, demikian dia disapa oleh para mahasiswanya, merupakan profesor Unisma Malang yang gelar PhD-nya didapatkan di Monash University Australia. Hari ini, dia menjabat sebagai wakil rektor bidang akademik dan kerja sama Unisma.

Baca Juga: Mahasiswa Unisma Ramaikan Expo Kreativitas dan Prestasi Kampus

Dalam suatu kesempatan Prof Jun menceritakan kisahnya yang unik saat menyelesaikan studi S3nya di Australia. Saat itu, kata dia, masa akhir kepemimpinan Presiden Suharto, dia berangkat ke Australia untuk menempuh pendidikan di sana dengan skema beasiswa pemerintah setempat. Selayaknya anak desa, Prof Jun, mengalami shock culture saat berada di Ausy, Australia.

Dibilang Gila saat Makan

Sebelum menjadi seperti yang kita ketahui sekarang, Prof Jun memiliki beragam pengalaman unik selama menempuh pendidikan di Negeri Kangguru, salah satunya dibilang gila saat makan.

“Saat saya pertama kali makan di Ausy salah seorang pelayan restoran mengatakan saya gila, karena saya meminta mie dengan posisi sudah ada nasi di piring saya. Bagi orang Indonesia mie merupakan bagian dari lauk sedangkan di Ausy hal itu merupakan hal tabu,” cerita Prof Jun, sembari tertawa mengenang masa lalunya.

Baca Juga: Unisma Beri Pelatihan Peningkatan Mutu Ma’had Aly Ponpes Nurul Cholil Bangkalan

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, terkhusus para mahasiswa mie diposisikan sebagai lauk, tak heran jika banyak kita temui orang-orang makan hanya menggunakan mie dan nasi. Namun hal itu tidak terjadi di Australia.

Masyarakat Australia, kata Prof Jun, tergolong orang dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang cukup luas. Mereka adalah bangsa yang sangat scientist sampai urusan makan saja mereka sangat teliti akan kandungan dari hidangan yang hendak dimakan.

Mereka memperhatikan betul kandungan gizi dari makanannya. Maka tak heran jika Prof Jun dikatakan gila karena nasi dan mie adalah makanan yang sama-sama memiliki kandungan karbohidrat tinggi.

Bekerja Jadi Patung

Pemerintah dan masyarakat Australia dalam kesehariannya selalu berpegang teguh pada hasil penelitian yang berbasis data. Hal ini membawa dampak positif pada para mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan freelance di sana. Termasuk Prof Jun yang sering mengambil job ini untuk menunjang ekonominya.

“Saya pernah bekerja menjadi researcher, kala itu ada toko yang mau dijual dan untuk menentukan harga dari toko itu dilakukanlah sebuah penelitian di mana jumlah pengunjung yang masuk kepada toko tersebut dihitung. Nah, saya di sana berperan sebagai penghitung si pengunjungnya,” kenangnya.

“Saya berada di depan toko itu sepanjang hari hanya untuk menghitung jumlah orang yang masuk dan keluar dari toko itu,” lanjut Prof Jun dengan tawa khasnya.

Bagi orang Indonesia, kata dia, pada umumnya pekerjaan seperti itu tergolong lucu karena hanya menghitung orang-orang masuk ke toko. Namun, bagi orang Ausy hal itu penting untuk dilaksanakan dengan tujuan untuk mengukur seberapa besar minat orang pada toko itu.

Yang paling unik lagi adalah, saat sosok asal Lumajang itu bekerja sebagai patung di perempatan jalan. Saat itu dia menghitung jumlah kendaraan.

“Saya juga pernah bekerja jadi patung di perempatan. Kala itu pemerintah (Australia) hendak menentukan kebijakan mengenai durasi lampu merah.  Saya bekerja menghitung jumlah kendaraan yang berbelok kiri, kanan, dan lurus. Dengan durasi yang telah ditentukan,” lanjut Prof Jun.

Pekerjaan semacam itu bagi orang Indonesia adalah hal tabu, sangat jarang dan bahkan hampir tidak pernah ada. Namun, di Ausy itu sangat lumrah untuk dilakukan karena akan dijadikan landasan kebijakan pemerintah dalam menentukan durasi lampu merah, dan hijaunya agas pas sesuai kebutuhannya.

Menyuruh Anak Mentri Menurunkan Kayu

Bagi Prof Jun seseorang yang sedang belajar di negara orang adalah sebuah privilege yang tidak semua orang bisa mendapatkanya. Oleh karenanya, mereka yang mendapatkan kesempatan itu harus benar-benar serius dalam belajar di kampus dan juga harus mencari pengalaman sebanyak mungkin agar wawasanya luas.

Prof Jun beranggapan bahwa mereka lulusan luar negeri kelak akan menjadi leader di tempat kerjanya masing-masing. Nah, dalam rangka menyiapkan para pemimpin ini ia mendidik mereka dengan keras dengan mengambil pekerjaan yang bagi sebagian besar orang adalah pekerjaan untuk orang dengan kasta terendah agar kemudian saat menjadi pemimpin nanti tidak berperilaku sewenang-wenang pada bawahannya.

Dalam hal ini, Prof Jun punya cerita pernah menyuruh anak menteri. Ceritanya, saat itu ada seorang mahasiswa program magister datang dari Indonesia.

Tak lama dari itu, dia menyuruhnya untuk bekerja dan kebetulan pekerjaan yang ada adalah menurunkan kayu dari truk. Dia langsung menyuruh anak baru dan dia pun menuruti arahan Prof Jun.

Hingga pada saat anak baru itu pulang kerja dan berkata pada Prof Jun: “Bang Jun saya tidak kuat dengan pekerjaan ini,” kata dia pada Prof Jun.

Namun Prof Jun tidak memperdulikan keluhan itu. Dia berharap jika kelak anak baru itu kembali ke tanah air dia akan menjadi pemimpin di tempat kerjanya dan bahkan pemimpin negara.

“Saya baru paham alasan dia mengeluh dengan pekerjaanya setelah saya pulang ke Indonesia ternyata dia anaknya menteri yang hidupnya sudah terfasilitasi dan berkecukupan sejak kecil,” kenang alumni Monash University itu dengan senyuman khasnya.

 

Penulis: Jakfar Shodiq (Magang)

Editor: Herlianto. A

Tags: AustraliaProf Junaidi MistarUnismaUnisma Malang

Related Posts

Coach Fahmi berbagi pandangan tentang kepemimpinan berkarakter sebagai fondasi bangsa yang tangguh. /Foto: Dok.
Insight

Belajar Kepemimpinan dari Coach Fahmi: Pemimpin Berkarakter Fondasi Bangsa yang Tangguh

Rabu, 15 Jul 2026
Gastronom Malang
Insight

Gastronom Malang Arie Aripin Raih Penghargaan Tokoh Teknologi dan Inovasi 2026

Sabtu, 27 Jun 2026
Konsep Louisana style atau makan bar-bar seafood di Uniccrab Malang. Foto: Dok
Insight

Uniccrab, Jujugan Nomor Satu Kuliner Seafood with Louisiana Style alias Makan Bar-bar di Malang

Rabu, 24 Jun 2026
Surya Burhanuddin (lima dari kiri) dan Sjenny Burhanuddin (empat dari kiri) melakukan potong kue di sela acara. Foto-foto: rubianto (tugumalang.id)
Insight

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Berlangsung Gayeng, Surya dan Sjenny Bisa jadi Role Model Anak Muda di Indonesia

Sabtu, 20 Jun 2026
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Arie Arifin dan Owner Hilda + Hana Bakery Hillda Naura Ashilah saat ngopi bareng. Foto: Azmy
Insight

Kisah Hillda Naura Ashilah Women’s Youth Preneur Malang, Rintis Usaha Bakery Sejak Usia 18 Tahun

Senin, 8 Jun 2026
Rachel Ruwaida, mahasiswa UB yang raih cuan melalui Komunitas UB Mager (Foto: Nathasya Amalia)
Insight

Mahasiswa Ini Raup Cuan sambil Kuliah Melalui UB Mager

Kamis, 4 Jun 2026
Next Post
Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut (PM) Hendratmo Budi Wibowo saat konferensi pers.

BNN Kabupaten Malang Rehabilitasi 134 Pecandu Narkotika, 3 di Antaranya Masih Anak

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.