Senin, Agustus 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Insight

Prof Junaidi Mistar, Guru Besar Unisma yang Pernah Bekerja jadi Patung di Australia

Redaksi by Redaksi
Desember 30, 2023 11:26 am
in Insight
Prof Drs H Junaidi Mistar PhD, guru besar fakultas pendidikan dan keguruan di Universitas Islam Malang (Unisma) sekaligus wakil rektor bidang akademik.

Prof Drs H Junaidi Mistar PhD, guru besar fakultas pendidikan dan keguruan di Universitas Islam Malang (Unisma) sekaligus wakil rektor bidang akademik. Foto/Jakfar

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Puncak kesuksesan seseorang sering kali menjadi ukuran bagi orang lain. Tetapi, ada yang sering dilupakan yaitu bagaimana seseorang itu mewujudkan kesuksesannya.

Prinsipnya, tak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Itulah barangkali gambaran singkat tentang Prof Drs H Junaidi Mistar PhD, guru besar fakultas pendidikan dan keguruan di Universitas Islam Malang (Unisma).

READ ALSO

Mengenal Gus Kikin, Salah Satu Calon Ketua Umum PBNU Terkuat!

Alessa Alvaretta, Alumni SMKN 2 Malang yang Sukses Juara LKS Nasional 2026

Prof Jun, demikian dia disapa oleh para mahasiswanya, merupakan profesor Unisma Malang yang gelar PhD-nya didapatkan di Monash University Australia. Hari ini, dia menjabat sebagai wakil rektor bidang akademik dan kerja sama Unisma.

Baca Juga: Mahasiswa Unisma Ramaikan Expo Kreativitas dan Prestasi Kampus

Dalam suatu kesempatan Prof Jun menceritakan kisahnya yang unik saat menyelesaikan studi S3nya di Australia. Saat itu, kata dia, masa akhir kepemimpinan Presiden Suharto, dia berangkat ke Australia untuk menempuh pendidikan di sana dengan skema beasiswa pemerintah setempat. Selayaknya anak desa, Prof Jun, mengalami shock culture saat berada di Ausy, Australia.

Dibilang Gila saat Makan

Sebelum menjadi seperti yang kita ketahui sekarang, Prof Jun memiliki beragam pengalaman unik selama menempuh pendidikan di Negeri Kangguru, salah satunya dibilang gila saat makan.

“Saat saya pertama kali makan di Ausy salah seorang pelayan restoran mengatakan saya gila, karena saya meminta mie dengan posisi sudah ada nasi di piring saya. Bagi orang Indonesia mie merupakan bagian dari lauk sedangkan di Ausy hal itu merupakan hal tabu,” cerita Prof Jun, sembari tertawa mengenang masa lalunya.

Baca Juga: Unisma Beri Pelatihan Peningkatan Mutu Ma’had Aly Ponpes Nurul Cholil Bangkalan

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, terkhusus para mahasiswa mie diposisikan sebagai lauk, tak heran jika banyak kita temui orang-orang makan hanya menggunakan mie dan nasi. Namun hal itu tidak terjadi di Australia.

Masyarakat Australia, kata Prof Jun, tergolong orang dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang cukup luas. Mereka adalah bangsa yang sangat scientist sampai urusan makan saja mereka sangat teliti akan kandungan dari hidangan yang hendak dimakan.

Mereka memperhatikan betul kandungan gizi dari makanannya. Maka tak heran jika Prof Jun dikatakan gila karena nasi dan mie adalah makanan yang sama-sama memiliki kandungan karbohidrat tinggi.

Bekerja Jadi Patung

Pemerintah dan masyarakat Australia dalam kesehariannya selalu berpegang teguh pada hasil penelitian yang berbasis data. Hal ini membawa dampak positif pada para mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan freelance di sana. Termasuk Prof Jun yang sering mengambil job ini untuk menunjang ekonominya.

“Saya pernah bekerja menjadi researcher, kala itu ada toko yang mau dijual dan untuk menentukan harga dari toko itu dilakukanlah sebuah penelitian di mana jumlah pengunjung yang masuk kepada toko tersebut dihitung. Nah, saya di sana berperan sebagai penghitung si pengunjungnya,” kenangnya.

“Saya berada di depan toko itu sepanjang hari hanya untuk menghitung jumlah orang yang masuk dan keluar dari toko itu,” lanjut Prof Jun dengan tawa khasnya.

Bagi orang Indonesia, kata dia, pada umumnya pekerjaan seperti itu tergolong lucu karena hanya menghitung orang-orang masuk ke toko. Namun, bagi orang Ausy hal itu penting untuk dilaksanakan dengan tujuan untuk mengukur seberapa besar minat orang pada toko itu.

Yang paling unik lagi adalah, saat sosok asal Lumajang itu bekerja sebagai patung di perempatan jalan. Saat itu dia menghitung jumlah kendaraan.

“Saya juga pernah bekerja jadi patung di perempatan. Kala itu pemerintah (Australia) hendak menentukan kebijakan mengenai durasi lampu merah.  Saya bekerja menghitung jumlah kendaraan yang berbelok kiri, kanan, dan lurus. Dengan durasi yang telah ditentukan,” lanjut Prof Jun.

Pekerjaan semacam itu bagi orang Indonesia adalah hal tabu, sangat jarang dan bahkan hampir tidak pernah ada. Namun, di Ausy itu sangat lumrah untuk dilakukan karena akan dijadikan landasan kebijakan pemerintah dalam menentukan durasi lampu merah, dan hijaunya agas pas sesuai kebutuhannya.

Menyuruh Anak Mentri Menurunkan Kayu

Bagi Prof Jun seseorang yang sedang belajar di negara orang adalah sebuah privilege yang tidak semua orang bisa mendapatkanya. Oleh karenanya, mereka yang mendapatkan kesempatan itu harus benar-benar serius dalam belajar di kampus dan juga harus mencari pengalaman sebanyak mungkin agar wawasanya luas.

Prof Jun beranggapan bahwa mereka lulusan luar negeri kelak akan menjadi leader di tempat kerjanya masing-masing. Nah, dalam rangka menyiapkan para pemimpin ini ia mendidik mereka dengan keras dengan mengambil pekerjaan yang bagi sebagian besar orang adalah pekerjaan untuk orang dengan kasta terendah agar kemudian saat menjadi pemimpin nanti tidak berperilaku sewenang-wenang pada bawahannya.

Dalam hal ini, Prof Jun punya cerita pernah menyuruh anak menteri. Ceritanya, saat itu ada seorang mahasiswa program magister datang dari Indonesia.

Tak lama dari itu, dia menyuruhnya untuk bekerja dan kebetulan pekerjaan yang ada adalah menurunkan kayu dari truk. Dia langsung menyuruh anak baru dan dia pun menuruti arahan Prof Jun.

Hingga pada saat anak baru itu pulang kerja dan berkata pada Prof Jun: “Bang Jun saya tidak kuat dengan pekerjaan ini,” kata dia pada Prof Jun.

Namun Prof Jun tidak memperdulikan keluhan itu. Dia berharap jika kelak anak baru itu kembali ke tanah air dia akan menjadi pemimpin di tempat kerjanya dan bahkan pemimpin negara.

“Saya baru paham alasan dia mengeluh dengan pekerjaanya setelah saya pulang ke Indonesia ternyata dia anaknya menteri yang hidupnya sudah terfasilitasi dan berkecukupan sejak kecil,” kenang alumni Monash University itu dengan senyuman khasnya.

 

Penulis: Jakfar Shodiq (Magang)

Editor: Herlianto. A

Tags: AustraliaProf Junaidi MistarUnismaUnisma Malang

Related Posts

Mengenal Gus Kikin, Salah Satu Calon Ketua Umum PBNU Terkuat!
Insight

Mengenal Gus Kikin, Salah Satu Calon Ketua Umum PBNU Terkuat!

Kamis, 27 Agu 2026
Alessa Alvaretta, Alumni SMKN 2 Malang yang Sukses Juara LKS Nasional 2026
Insight

Alessa Alvaretta, Alumni SMKN 2 Malang yang Sukses Juara LKS Nasional 2026

Minggu, 23 Agu 2026
Khanza Aisyah, Dari Pemalu hingga Jadi Pendongeng Cilik
Insight

Khanza Aisyah, Dari Pemalu hingga Jadi Pendongeng Cilik

Sabtu, 22 Agu 2026
Kisah Ahmad Yudhistira Bangun Bisnis Indonesia di Turkiye
Insight

Kisah Ahmad Yudhistira Bangun Bisnis Indonesia di Turkiye

Selasa, 18 Agu 2026
Mengenal Dr Hayat, Dosen Unisma yang Sudah Menerbitkan 65 Judul Buku, Royalti Buat Aqiqah Anak!
Insight

Mengenal Dr Hayat, Dosen Unisma yang Sudah Menerbitkan 65 Judul Buku, Royalti Buat Aqiqah Anak!

Sabtu, 15 Agu 2026
Coach Dr Fahmi - Tak Hanya Mengejar Omzet, Coach Dr Fahmi ajak Pengusaha Pahami Konsep Soul Calling agar Pekerjaan Lebih Bermakna
Insight

Tak Hanya Mengejar Omzet, Coach Dr Fahmi ajak Pengusaha Pahami Konsep Soul Calling agar Pekerjaan Lebih Bermakna

Minggu, 9 Agu 2026
Next Post
Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut (PM) Hendratmo Budi Wibowo saat konferensi pers.

BNN Kabupaten Malang Rehabilitasi 134 Pecandu Narkotika, 3 di Antaranya Masih Anak

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.