Minggu, Oktober 25, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Si Pemasang Karpet Istana

Redaksi by Redaksi
November 13, 2022 1:46 pm
in Ruang Cendekia
karpet istana

Dari kiri, Uha Bahaudin, Djoko Intarto (penulis) dan Dahlan Iskan.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Joko Intarto*

——-
Uha Bahauddin namanya. Uha panggilannya. ‘’Orang Istana Negara’’ lebih mengenal karpet merahnya ketimbang Uha. Ya. Uha-lah yang memasang karpet merah di Istana Negara: Jakarta dan Jogja. Sebelum pandemi Covid-19 melanda.
——-

READ ALSO

 Krisis Role Model Elite Agama di Ruang Siber

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

Bisnis karpet sebenarnya dimulai orang tuanya. Ia hanya meneruskan saja. Saat ayahnya merasa sudah terlalu tua.

Uha masih bekerja di Jawa Pos Group saat itu. Permintaan ayahnya membuat Uha memutuskan pensiun muda dari Jawa Pos Group. Pilihannya: Memenuhi permintaan ayahnya, atau perusahaan karpet itu tutup.

Sebagai ‘orang pemasaran’, Uha segera menganalisis kinerja perusahaan karpet itu, saat pertama mulai mengelola manajemennnya. Dengan pendekatan SWOT, Uha menyimpulkan: Pabrik karpetnya tergolong kecil. Tidak mungkin menang bersaing melawan pabrik karpet lain yang raksasa. Agar bisa eksis, pabrik harus bisa menciptakan produk unik supaya tidak head to head dengan pabrik karpet raksasa.

Produk unik itu akhirnya bisa ditemukan: Memproduksi ‘’carpet on demand’’. Begitu ia menyebutkan keunggulan perusahaannya. ‘’Carpet on demand’’ mengubah kelemahan menjadi kekuatan perusahaannya.

‘’Carpet on demand’’ tidak bisa diproduksi pabrik karpet raksasa. Mesinnya terlalu besar. Kecepatannya sangat tinggi. Tidak mungkin ‘’mondag-mandeg’’ beberapa menit sekali. Dalam sekali ‘’giling’’, kata Uha, mesin karpet raksasa menghasilkan ratusan meter karpet.

Sementara mesin di pabrik Uha sangat kecil. Kecepatannya juga rendah. Bisa ‘’mondag-mandeg’’ setiap saat. Sesuai kebutuhan produksi.

Dengan konsep ‘’carpet on demand’’, Uha menawarkan produk karpet dengan desain dan ukuran sesuai permintaan konsumen. Harga sudah lengkap dengan biaya kirim dan pemasangannya di lokasi. ‘’Inilah satu-satunya keunggulan produk kami. Kalau bahan baku dan kualitasnya, produk kami dengan produk pabrik raksasa sama saja,’’ tutur Uha.

‘’Carpet on demand’’ membuat perusahaan warisan ayahnya itu bangkit dengan cepat. Konsumen Uha muncul dari pemilik ruangan kantor berukuran kecil di kota-kota besar seluruh Indonesia.

Satu gedung bertingkat, misalnya, luas lantainya 5 ribu meter persegi. Penyewanya 200 perusahaan. Uha memasang karpet di 20 perusahaan itu. Warna karpetnya unik: Sesuai dengan ‘’corporate color’’-nya. Bisa diberi logo dan kata-kata motivasi juga. Karpet itu hanya diproduksi satu. Untuk konsumen itu saja.

Puncaknya, Uha mendapat kepercayaan Istana Negara untuk memasang karpet merah di Jakarta dan Jogja. Keberhasilannya membuat Uha diundang beberapa stasiun televisi: Lokal maupun nasional. Uha juga menghadiri undangan para Youtuber untuk berbagi cerita soal karpetnya.

Saya salah satu konsumen ‘’carpet on demand’’ perusahaan Uha. Pada awal pandemi, saya terpaksa harus melapisi ruang kerja saya dengan karpet tebal agar bisa dialihfungsikan menjadi studio webinar.

Penerapan PSBB begitu ketatnya. Tidak ada lagi ruangan di hotel dan gedung perkantoran yang bisa saya sewa menjadi studio. Semua ditutup gara-gara Covid-19. Kantor Jagaters yang nyelempit di gang kecil di belakang Pasar PSPT, Tebet Timur, menjadi satu-satunya pilihan.

Boss Aice Cream terpaksa datang ke situ untuk membuat konferensi pers virtual. Pendeta Gereja Isa Almasih, Mangga Besar, terpaksa memimpin ibadah untuk jemaatnya di dalam dan luar negeri secara virtual dari ruangan itu. Begitu pun ustad yang harus mengisi pengajian mingguan.

Dua hari lalu saya mendapat kabar: Uha meninggal dunia. Kabar ini cukup mengejut saya.

Ia memang sakit. Stroke. Sekitar empat bulan lalu. Belakangan, kondisinya membaik. Foto-foto perkembangannya diunggap ke Whatsapp Group hampir setiap pekan.

Inalillahi waina ilaihi rojiuun.Selamat jalan Uha. Saya akan selalu ingat dengan cerita anda tentang ‘’carpet on demand’’. Bagi saya, itulah pelajaran marketing penting: Kenang-kenangan Anda untuk saya.(jto)

*Mantan Wartawan Jawa Pos

Tags: karpet istana

Related Posts

 Krisis Role Model Elite Agama di Ruang Siber
Ruang Cendekia

 Krisis Role Model Elite Agama di Ruang Siber

Minggu, 25 Okt 2026
Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama
Ruang Cendekia

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

Sabtu, 24 Okt 2026
Sepuluh Tahun Menanam, Enam Puluh Lima Tahun Menaungi: Refleksi FKIK untuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Ruang Cendekia

Sepuluh Tahun Menanam, Enam Puluh Lima Tahun Menaungi: Refleksi FKIK untuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Sabtu, 24 Okt 2026
Insinyur Ulul Albab: Meneguhkan Peran Rekayasa dalam 65 Tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Ruang Cendekia

Insinyur Ulul Albab: Meneguhkan Peran Rekayasa dalam 65 Tahun UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Jumat, 23 Okt 2026
Bahasa Arab dan Ekosistem Keilmuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: Menjaga Warisan, Merawat Keunggulan
Ruang Cendekia

Bahasa Arab dan Ekosistem Keilmuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang: Menjaga Warisan, Merawat Keunggulan

Jumat, 23 Okt 2026
Dosen Pascasarjana Universitas Raden Rahmat Malang, Dr. Aries Musnandar, M.Pd. /Foto: Dok.
Ruang Cendekia

Merawat Akar Pesantren, Menguatkan Masa Depan Bangsa

Kamis, 22 Okt 2026
Next Post
Arema FC minta dukungan Aremania untuk bangkit

Arema FC Minta Aremania Dukung Pemulihan Performa Tim

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10222026 3
Iklantm 10222026 2
Iklantm 10212026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10192026 1
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10172026 1
Iklantm 10172026 2
Iklantm 10202026 1
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.