MALANG, Tugumalang.id – Setiap Juli hingga Desember, wilayah Malang Raya kerap diramaikan dengan suara dentuman sound horeg. Pengeras suara raksasa yang diangkut menggunakan truk tersebut biasanya dihadirkan sebagai pelengkap di kegiatan karnaval.
Seorang pemuda asal Kecamatan Sukun, Kota Malang, Andi Surya (24) mengaku merasa tak nyaman dengan suara dentuman dan getaran yang berasal dari sound horeg.
Oleh karenanya, ia berinisiatif mengembangkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) untuk memantau keberadaan event sound horeg.
EWS tersebut dapat diakses di ews.soundhoreg.id. Andi yang merupakan lulusan Teknik Informatika tahun 2025 dari Institut Asia Malang dan kini bekerja sebagai programmer tersebut mengaku ide pembuatan platform digital ini bermula dari pengalaman pribadinya.
Baca Juga: Pro Kontra Sound Horeg dan Tanggapan Warga Menurut Polling Tugumalang.id
“Setiap bulan Juli sampai akhir tahun, polanya selalu berulang di Malang Raya. Suaranya sangat keras bahkan dari jarak berkilometer-kilometer,” ujar Andi saat dihubungi wartawan Tugu Malang ID melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Karnaval dan sound horeg yang digelar di Malang Raya biasanya berlangsung semalam suntuk. Andi menilai kegiatan ini membuat masyarakat sulit beristirahat, padahal rumahnya jauh dari pusat acara.
“Dari situ saya berpikir untuk mengumpulkan semua data event ini jadi satu platform sebagai bentuk peringatan dini,” kata Andi.
Platform berbasis website ini bekerja dengan cara mengumpulkan (crawling) data jadwal dan lokasi acara dari berbagai media sosial, seperti TikTok, Facebook, Instagram, hingga Threads.
Data yang didapat kemudian dikurasi secara otomatis menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memastikan keabsahan informasi acara tersebut.
Baca Juga: Tok! Polres Batu Resmi Batasi Karnaval Sound Horeg, Maksimal Pakai 4 Subwoofer
Setelah dikurasi, EWS Sound Horeg akan memetakan (mapping) lokasi acara beserta prediksi tingkat kebisingannya yang dibagi menjadi tiga radius kategori, yaitu:
• Sangat Bising (75 dB): Tingkat kebisingan sangat tinggi hingga sulit mendengar percakapan orang lain secara normal.
• Terasa Getaran (>65 dB): Suara keras yang berpotensi menggetarkan pintu, kaca, dan jendela bangunan.
• Samar-samar (55 dB): Suara dentuman horeg masih terdengar samar-samar dalam radius jarak beberapa kilometer.
Selain peta pemantauan, platform ini juga dilengkapi dengan fitur Cek Posisi Saya yang memungkinkan pengguna mengetahui apakah lokasi keberadaan mereka saat ini terjangkau dampak kebisingan dari acara sound horeg terdekat.
Sejak resmi diluncurkan pada Sabtu (11/7/2026) siang, website EWS Sound Horeg langsung menyita perhatian publik. Hanya dalam satu hari, setidaknya ada sekitar 15.000 kunjungan (visits) di platform tersebut.
Melihat respons masyarakat yang tinggi, Andi merencanakan beberapa pengembangan fitur ke depan. Salah satunya adalah mengembangkan platform ini menjadi aplikasi di ponsel pintar agar lebih praktis.
“Rencananya saya juga akan menambahkan sistem laporan balik mirip aplikasi Waze. Melalui sistem itu, pengguna dapat mengonfirmasi keberlangsungan acara dan tingkat kebisingan secara real-time,” kata Andi.
Ia menyebut, hadirnya EWS Sound Horeg ini adalah sarana kritik konstruktif kepada pemerintah daerah terkait ketegasan regulasi sound horeg. Ia berharap pemerintah dapat memfasilitasi kedua belah pihak secara bijak.
“Harapannya ada win-win solution. Bagi masyarakat yang menyukai sound horeg, silakan difasilitasi di tempat yang sesuai dan tidak mengganggu masyarakat lain,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A
























