Tugumalang.id – Manfaat ekonomi kerakyatan pada warga lokal dari aktivitas dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai kembali bergeliat pasca libur sekolah 2026 selama 3 pekan kemarin. Seperti terlihat di salah satu dapur MBG yang ada di Desa Beji, Kecamatan Junrejo.
Seperti salah satunya terasa di SPPG Junrejo Beji II di Jalan Syair, Desa Beji, Junrejo pada Selasa (21/7/2026). Hiruk-pikuk aktivitas relawan yang menyiapkan ribuan porsi makan bergizi mulai menggeliatkan nadi perekonomian warga sekitar. Begitu juga simpul lain yang ada di rantai pasok, mulai petani, peternak hingga pelaku UMKM sekitar.
Baca Juga: Pemkot Batu Percepat Kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Dapur MBG di 2026
Kepala SPPG Kota Batu Junrejo Beji II, Ahmad Jalaludin membenarkan jika aktivitas di dapur MBG hari ini kembali bergeliat. Tak hanya relawan SPPG, tapi juga berdampak berantai terhadap perputaran ekonomi lokal, mulai dari sektor pertanian, pelaku UMKM hingga penyerapan tenaga kerja warga sekitar.
”Hasil panen petani terserap, produk UMKM kembali mendapatkan pasar, sementara warga sekitar memperoleh kesempatan bekerja sebagai relawan di dapur MBG,” ungkapnya.

Ahmad menegaskan selama ini, pihaknya berupaya memprioritaskan penggunaan bahan baku dari petani lokal, khususnya yang berada di wilayah Desa Beji dan sekitarnya. Khususnya bagi mereka yang dapat memenuhi sejumlah persyaratan administratif.
Misalnya, pelaku usaha harus memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), produk telur dilengkapi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) hingga UMKM yang memiliki sertifikasi halal. Meski ia juga mengakui dalam niat baik membawa kebermanfaatan bersama ini masih menjadi kendala utama.
“Kadang prosedur seperti itu menjadi tantangan bagi petani. Tapi kami tidak serta merta menutup akses. Kami tetap mencari solusi agar hasil pertanian lokal bisa terserap,” katanya.
Baca Juga: SPPG Prokids Anak Indonesia di Malang Didapuk Jadi Role Model Dapur MBG Percontohan
Selain aspek legalitas, bahan pangan yang dipasok kata dia juga harus memenuhi standar kualitas dan layak konsumsi. “Bahan baku harus fresh dan bersih. Karena itu, petani diminta mengirimkan hasil panen sesuai standar yang dibutuhkan dapur,” imbuhnya.
Di sisi lain, aktivitas dapur MBG ini juga berdampak domino dari sisi ketenagakerjaan. Jalaludin menyebut, mayoritas relawan yang bekerja di dapur ini berasal dari masyarakat sekitar. Bahkan, sekitar 30 persen di antaranya diambil dari kelompok masyarakat desil 1 dan desil 2.
Ia membeberkan untuk dapur berkapasitas produksi 3.000 porsi, setidaknya dibutuhkan sekitar 47 relawan. Sedangkan dapur dengan kapasitas 1.000 hingga 2.000 porsi mempekerjakan sekitar 30 sampai 35 relawan. “Khusus dapur di Beji ini ada sekitar 40 relawan dan mayoritas warga setempat,” jelasnya.
Saat ini, dapur SPPG Beji II melayani sekitar 1.900 penerima manfaat yang terdiri atas tujuh satuan pendidikan dan empat posyandu. Tak hanya tenaga kerja, perputaran ekonomi juga dirasakan pelaku UMKM. Berbagai kebutuhan dapur, mulai bahan pangan seperti tempe, tahu hingga produk lainnya.
Sementara itu, Ketua DPD Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD Gemas) Kota Batu, Naufal Athallah juga menuturkan jika beroperasinya dapur ini memang menjadi penggerak ekonomi baru bagi petani lokal.
“Keberadaan dapur ini sangat menggerakkan ekonomi petani. Kami melihat sendiri bagaimana hasil pertanian lokal lebih terserap,” ujarnya.
Ia mencontohkan, saat operasional MBG sempat berhenti selama sekitar tiga pekan lalu, sejumlah komoditas hortikultura mengalami penurunan harga karena permintaan berkurang. “Ketika MBG libur, banyak petani mengeluh. Harga timun, tomat dan beberapa komoditas lain sempat turun drastis karena serapan menurun,” katanya.
Ke depan, pihaknya berkomitmen mendorong dapur SPPG memprioritaskan bahan baku dari daerah sekitar agar kebermanfaatan ekonomi kerakyatan dari program Presiden RI Prabowo Subianto ini terus meluas. HMD Gemas juga siap menjadi jembatan antara petani dengan pengelola dapur.
Sejumlah komoditas yang memiliki permintaan tinggi di dapur MBG di antaranya sawi, wortel dan selada. Bahkan, selada digunakan sebagai alas makanan agar lauk tidak langsung bersentuhan dengan wadah makan atau ompreng.
Meski begitu, Naufal mengakui produksi pertanian Kota Batu belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan seluruh dapur SPPG yang ada. ”Untuk beberapa komoditas buah masih harus didatangkan dari luar daerah. Seperti anggur, melon dan leci, sebagian kami ambil dari supplier di Kabupaten Malang,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A
























