Selasa, Oktober 13, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (1)

Akar Krisis Pendidikan dan Kemunduran Peradaban Islam

Redaksi by Redaksi
Mei 19, 2026 9:49 am
in Ruang Cendekia
Agama

Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd. & Dr. Aries Musnandar. dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd. & Dr. Aries Musnandar**

DUNIA modern hari ini begitu melimpah dengan orang-orang pintar, namun tampak gersang dari lahirnya manusia bijak. Kita sedang menyaksikan sebuah paradoks besar dalam dinamika kehidupan kontemporer: ketika penetrasi teknologi semakin canggih, praktik korupsi justru kian masif dan sistematis; ketika tingkat pendidikan masyarakat semakin tinggi, krisis moralitas justru kian meluas.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Hari ini, institusi akademik tidak jarang melahirkan individu berkemampuan tinggi yang justru menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi hukum, mengeksploitasi lingkungan, memproduksi distorsi informasi (hoaks), hingga melanggengkan korupsi berjamaah. Sebaliknya, pada kutub yang lain, tidak sedikit institusi keagamaan yang melahirkan figur-figur religiositas ritualistik, namun gagap dan absen dalam panggung kompetisi sains, ekonomi, dan teknologi global. Fenomena akut ini sesungguhnya bukanlah sekadar anomali perilaku individu, melainkan representasi dari sebuah krisis yang jauh lebih mendasar: krisis paradigma pendidikan.

Ketika Sekolah Melahirkan “Manusia Terbelah”

Selama berdekade-dekade, sistem pendidikan kita tumbuh dalam kungkungan sekularisasi yang dikotomis—memisahkan secara tegas antara ilmu agama dan ilmu umum. Sejak usia dini, anak-anak kita dikondisikan oleh cara pandang bahwa matematika, fisika, dan kimia adalah urusan domestik dunia, sementara agama direduksi sebatas urusan formalitas masjid, ritus ibadah, dan bekal akhirat.

Tanpa disadari, bifurkasi (pembelahan) kurikulum ini membentuk generasi dengan kepribadian yang terbelah (split personality). Di pagi hari, mereka menyerap sains dan teknologi tanpa jangkar spiritual yang kokoh. Sore harinya, mereka mengkaji doktrin agama, namun doktrin tersebut tercerabut dari realitas sosiologis kehidupan modern.

Dampaknya terpampang nyata di hadapan kita: Lahirnya intelektual berkualifikasi doktor yang terjebak dalam pusaran korupsi. Lahirnya pakar teknologi yang mendayagunakan keahliannya untuk kejahatan siber (cyber fraud). Lahirnya individu yang fasih beribadah secara komunal, namun proaktif menyebarkan narasi kebencian di ruang digital.

Fenomena pelajar dengan capaian akademik gemilang, namun rapuh secara mental dan kehilangan orientasi eksistensial hidupnya. Pendidikan modern, dalam konteks ini, terjebak pada capaian utilitas: sukses mencetak manusia yang kompeten sebagai sekrup industri (human resources), namun gagal total dalam membangun manusia seutuhnya (human being).

Refleksi Historis: Saat Islam Memimpin Dunia

Ironisme kontemporer ini bertolak belakang secara diametral dengan lembaran sejarah peradaban Islam masa lalu. Pada era keemasan (The Islamic Golden Age), dunia Islam tampil sebagai episentrum pengetahuan global. Kota-kota seperti Baghdad, Cordoba, Damaskus, hingga Jundishapur bukan sekadar pusat kekuasaan, melainkan mercusuar intelektual yang menerangi dunia.

Pada masa itu, dikotomi ilmu sama sekali tidak dikenal. Para ilmuwan Muslim tidak pernah memosisikan iman dan rasio dalam gelanggang pertentangan. Seorang tabib (dokter) besar acapkali merupakan seorang mufasir otoritatif; seorang ulama fikih kerap kali merupakan astronom ulung; dan seorang ahli matematika mumpuni sekaligus mendalami kedalaman filsafat serta tasawuf.

Kita mengenal Ibnu Sina, yang tidak hanya meletakkan fondasi kedokteran modern melalui Al-Qanun fi al-Tibb, tetapi juga seorang teolog dan filosof ulur. Kita melihat Al-Khawarizmi, yang merumuskan dasar aljabar dari kebutuhan praktis pembagian waris (faraidh) dan astronomi Islam. Kita juga mendapati Ibnu Khaldun, yang meletakkan batu pertama sosiologi dan historiografi jauh sebelum dunia Barat mengenalnya. Bagi raksasa intelektual ini, meneliti hukum alam (sunnatullah) adalah manifestasi konkret dari ibadah dan upaya membaca ayat-ayat kebesaran Sang Pencipta. Tidak ada dinding pemisah antara keheningan mihrab masjid dan aktivitas laboratorium.

Baca juga: Paradigma Baru: Mengakhiri “Perang Dingin” antara Sains dan Agama

Genealogi Dikotomi Ilmu

Pertanyaannya, kapan keterbelahan ini bermula? Gejala desintegrasi keilmuan ini mengkristal saat dunia Islam mengalami stagnasi politik, gelombang kolonialisme, dan ketertinggalan teknologi, yang secara simultan bertepatan dengan momentum Revolusi Industri dan Kebangkitan Sains di Barat.

Barat yang sekuler berhasil menyublimasikan sains dari nilai-nilai ketuhanan. Sayangnya, model inilah yang diadopsi secara mentah oleh dunia Islam melalui modernisasi pendidikan yang latah. Implikasinya, institusi pendidikan kita ikut terfragmentasi:

Pesantren dan madrasah memosisikan diri secara eksklusif pada pengosongan ilmu-ilmu keagamaan (tafaqquh fiddin). Sekolah umum modern bergerak sekuler dengan fokus pada disiplin ilmu pragmatis-duniawi.

Dampak turunannya masih mengakar hingga detik ini. Secara sosiologis, kita melihat adanya kasta akademik: “anak IPA” atau jurusan teknik dianggap memiliki prestise sosial yang lebih tinggi, sementara pendidikan agama sering kali diletakkan sebagai pilihan sekunder bagi mereka yang tersisih. Cara pandang ini jelas keliru, sebab dalam epistemologi Islam, semua ilmu yang bermanfaat pada hakikatnya bersumber dari Allah SWT.

Kekeliruan Epistemologis: Memisahkan Qauliyah dan Kauniyah

Di sinilah letak salah kaprah terbesar kita. Selama ini, hukum-hukum alam (sains) sering kali diidentifikasi sebagai domain yang profan dan sekuler. Padahal, hukum gravitasi, proses presipitasi hujan, rotasi tata surya, hingga struktur neurologi manusia adalah sunnatullah—hukum-hukum Allah yang mewujud di alam semesta.

Maka, ketika seorang ilmuwan meneliti genetika, mengeksplorasi astrofisika, atau merancang kecerdasan buatan, ia sesungguhnya sedang membaca dan menafsirkan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda Allah di alam semesta). Aktivitas ini setara mulianya dengan seorang mujtahid atau ulama yang meneliti teks-teks Al-Qur’an dan Hadis sebagai ayat-ayat qauliyah (tanda-tanda Allah dalam firman-Nya). Keduanya berada dalam satu tarikan napas epistemologis yang sama karena bersumber dari Zat Yang Maha Satu (Tauhidul Ilmi).

Baca juga: Ground Breaking Edupark Ar-Rahim UIN Malang Raih Rekor MURI dari Menteri Agama RI

Realitas Hari Ini dan Tantangan Masa Depan

Absennya kesadaran integratif ini membuat umat Islam gagap menghadapi realitas modern. Di satu sisi, ada kebanggaan berlebih dari orang tua ketika anaknya berhasil menjadi dokter, insinyur, atau software engineer, namun permisif terhadap pendangkalan akhlak dan spiritualitas mereka. Di sisi lain, ada faksi yang sangat rigid menekankan pendidikan agama, namun menutup mata terhadap pentingnya penguasaan sains dan teknologi, sehingga melahirkan generasi yang gagap zaman.

Akibat krisis dikotomi ini, umat Islam global kerap kali hanya menjadi konsumen pasif dari produk peradaban bangsa lain. Ketika diskursus dunia hari ini sudah mengeksplorasi Artificial Intelligence (AI), teknologi satelit quantum, energi terbarukan (renewable energy), bioteknologi molekuler, hingga ekonomi digital, sebagian besar institusi pendidikan kita justru masih berkutat pada perdebatan klasik mengenai batasan antara yang “sekuler” dan yang “islami”. Kita lupa bahwa bangsa-bangsa maju menguasai panggung dunia karena mereka memegang kunci keilmuan.

Menuju Pendidikan Islam yang Integratif: Melahirkan Manusia Utuh

Pendidikan Islam masa depan tidak boleh lagi sekadar puas melahirkan individu yang saleh secara ritualitas personal (kesalehan individu), melainkan harus mampu memproyeksikan kesalehan kultural dan peradaban (kesalehan publik). Kiblat baru pendidikan kita harus diarahkan untuk melahirkan:

Ilmuwan yang bertakwa, yang meletakkan risetnya di atas prinsip tauhid. Teknokrat yang berakhlak, yang tidak menggadaikan integritas demi profit. Pengusaha yang jujur, yang melihat bisnis sebagai wasilah dakwah ekonomi.

Pemimpin yang berintegritas moral, yang memiliki rasa takut (khauf) kepada Allah SWT.

Umat Islam hari ini tidak kekurangan orang pintar, melainkan krisis Insan Kamil—manusia utuh. Kita membutuhkan dokter yang tidak mereduksi pasien sekadar komoditas finansial; insinyur yang menolak merusak ekosistem demi pembangunan; politisi yang menempatkan etika di atas kekuasaan; serta ahli teknologi yang mendedikasikan algoritmanya demi kemaslahatan kemanusiaan.

Reorientasi ini adalah langkah krusial yang tidak bisa ditawar lagi. Jika umat Islam bertekad untuk merebut kembali estafet kepemimpinan peradaban (izzul Islam wal muslimin), maka agenda rekonstruksi pertama dan utama yang harus dituntaskan adalah mengakhiri dikotomi ilmu pengetahuan.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Profil Penulis

Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd merupakan akademisi dan pemikir pendidikan Islam yang aktif mengembangkan paradigma integrasi keilmuan dalam dunia pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Dr. Aries Musnandar adalah akademisi dan Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang yang aktif menulis tentang pendidikan Islam, integrasi ilmu, spiritual leadership, dan transformasi peradaban Islam di era modern.

redaktur: jatmiko

Tags: dikotomi ilmuilmu agama dan sainsinsan kamilintegrasi ilmukrisis pendidikanpendidikan Islampendidikan modernperadaban Islam

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Toko jamu dan minuman herbal di Malang

6 Rekomendasi Toko Jamu dan Minuman Herbal di Malang yang Wajib Dicoba

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.