Oleh: Sunardji Dahri Tiam & Aries Musnandar*
SELAMA berabad-abad, dunia pendidikan seolah dipisahkan oleh tembok besar. Di satu sisi terdapat perguruan tinggi yang dipandang sebagai simbol kemodernan, rasionalitas, dan keterbukaan. Di sisi lain, pesantren identik dengan tradisi, kehidupan pedesaan, serta keteguhan dalam menjaga moralitas.
Pemisahan tersebut bukan sekadar persoalan lokasi pendidikan, melainkan menyangkut cara pandang atau dikotomi keilmuan. Dampaknya, lahir sosok-sosok dengan pribadi yang timpang. Ada yang sangat cerdas secara intelektual dan menguasai teknologi, tetapi kering secara etika. Sebaliknya, ada pula yang kuat secara moral, namun kesulitan menghadapi realitas perkembangan zaman.
Pesantren: Tradisi Besar yang Dihadapkan pada Perubahan Zaman
Secara historis, pesantren merupakan akar pendidikan asli Indonesia. Tokoh intelektual Muslim, Nurcholish Madjid atau Cak Nur, bahkan pernah berandai-andai bahwa jika Indonesia tidak mengalami penjajahan, universitas ternama saat ini mungkin bukan UI atau UGM, melainkan Universitas Tremas atau Tebuireng.
Pesantren memiliki kekuatan besar dalam pembentukan karakter dan internalisasi nilai. Salah satu contohnya adalah Pesantren An-Nuqayah di Madura yang pernah meraih penghargaan Kalpataru berkat kepeduliannya terhadap lingkungan.
Namun demikian, tantangan besar tetap ada. Pola manajemen yang terlalu sentralistik pada figur kiai, serta metode pembelajaran yang cenderung mengulang khazanah klasik tanpa banyak improvisasi, membuat sebagian pesantren masih tertatih dalam merespons perubahan global yang berlangsung sangat cepat.
Baca juga: Kultur Pesantren dan Peradaban Internet of Things
Fenomena “Saling Mendekat” antara Kampus dan Pesantren
Dalam beberapa tahun terakhir, dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum mulai menunjukkan tanda-tanda mencair. Fenomena ini terlihat dari banyaknya pesantren yang mendirikan universitas, seperti di Paiton, Genggong, hingga Jombang.
Di sisi lain, sejumlah perguruan tinggi negeri juga mulai menghadirkan sistem pesantren di lingkungan kampus, sebagaimana dilakukan UIN Malang dan UIN Jakarta.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya kesadaran baru bahwa manusia tidak dapat hidup hanya dengan satu dimensi keilmuan. Dunia pendidikan mulai bergerak menuju konsep unitas atau kesatuan ilmu.
Pola pendidikan lama yang memisahkan “ilmu umum” dan “ilmu agama” perlahan mulai dipertanyakan. Alam semesta hanya akan memberi manfaat optimal bagi manusia yang mampu menyeimbangkan zikir dan fikir, sebagaimana konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an.
Integrasi Keilmuan Tidak Cukup Sekadar Label
Meski demikian, penyatuan agama dan sains tidak cukup dilakukan secara simbolik atau administratif semata. Banyak lembaga pendidikan yang hanya menyandingkan dua kurikulum dalam satu atap, seperti sekolah umum di siang hari dan pengajian kitab pada malam hari.
Sebagian lainnya hanya menambahkan label “Islam” pada cabang ilmu tertentu, seperti Ekonomi Islam atau Hukum Islam. Pendekatan seperti ini dinilai belum mencerminkan integrasi yang substansial.
Integrasi sejati harus menyentuh akar filosofis pendidikan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah membongkar miskonsepsi warisan kolonial yang memisahkan ilmu umum dari nilai-nilai ketuhanan.
Pandangan bahwa ayat Tuhan hanya terdapat dalam kitab suci dianggap terlalu sempit. Hukum-hukum alam yang dipelajari dalam fisika, biologi, sosiologi, hingga teknologi kedokteran sejatinya juga merupakan bagian dari Sunnatullah atau ayat kauniyah.
Baca juga: Menguatkan Partisipasi Semesta: Pendidikan sebagai Jalan Damai dan Peradaban
Teknologi ponsel, eksplorasi ruang angkasa, hingga kemajuan medis bukanlah ilmu yang terpisah dari agama. Seluruhnya bersumber dari hukum Allah yang bekerja di alam semesta.
“Al-Qur’an dan Hadis bukan sekadar bagian dari ilmu, melainkan harus menjadi fondasi bagi seluruh ilmu pengetahuan.”
Jika umat Islam ingin mengejar ketertinggalan dari dunia Barat, paradigma lama yang memojokkan ilmu umum sebagai sesuatu yang asing harus segera ditinggalkan. Paradigma baru pendidikan Islam menuntut setiap peneliti, baik sosiolog, dokter, maupun insinyur, untuk berpijak pada nilai-nilai ketuhanan.
Sebaliknya, para ahli agama juga dituntut membuka diri terhadap validitas hukum alam dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Hanya dengan menyatukan moralitas dan rasionalitas, antara IPTEK dan IMTAQ, akan lahir Insan Kamil atau manusia paripurna yang mampu membawa rahmat bagi semesta alam atau rahmatan lil-‘alamin.
Sudah saatnya dunia pendidikan berhenti memisahkan sesuatu yang sejatinya telah disatukan oleh Sang Pencipta.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis :
Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd.
Guru Besar Emeritus dan Direktur Pascasarjana UNIRA Malang. Pakar filsafat ilmu dan pendidikan Islam.
Dr. Aries Musnandar
Wakil Direktur Pascasarjana UNIRA Malang. Doktor pendidikan dengan pengalaman 40 tahun sebagai praktisi manajerial korporasi dan akademisi, serta kolumnis aktif di media nasional dan internasional.
redaktur: jatmiko
























