Tugumalang.id – Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II Kementerian Keuangan menggelar Festival Budaya dengan agenda utama Pameran Keris dan Pusaka Budaya di Gedung Heritage RCE Center KPPN Malang, Kota Malang, Jumat (24/10/2025) hingga Minggu (26/10/2025).
Ratusan keris dan pusaka bernilai historisitas tinggi berasal dari berbagai era kerajaan turut dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Bahkan salah satunya ada keris peninggalan Kerajaan Singosari yang sudah berusia hampir 1 abad.
Mungkin tidak sedikit pembaca berpikir bagaimana ceritanya lembaga keuangan menggelar Pameran Keris? Ternyata, Kanwil DJBC Jatim II Kemenkeu ini juga memiliki komunitas pecinta keris dan pusaka bernama Paguyuban Seni Tempa Indonesia (PASTI).

Baca Juga: Festival Anak Nusantara 2025: MMI Tanamkan Cinta Budaya pada Generasi Muda
Pameran Keris ini diisi dengan beragam kegiatan seperti lelang keris untuk amal, bazar UMKM dan budaya, workshop pembuatan keris, diskusi hingga pertunjukan budaya.
Selain itu juga digelar Seminar KCOC terdiri dari dua sesi. Sesi pertama bertajuk ‘Ngobrol Santai UMKM, Pajak Aman, Ekspor Lancar’ dan sesi kedua bertajuk: Akar yang Kuat, Langkah yang Hebat: Inspirasi Generasi Muda dari Tokoh Sejahtera Nusantara’ yang menghadirkan narasumber Founder Asisi Channel F. Asisi Suhariyanto.
Turut hadir Kepala Perwakilan Kemenkeu Jatim Dudung Rudi H. , Kepala Kanwil DJBC Jatim II Agus Sudarmadi, Kepala Kanwil DJP Jatim II Untung Supardi beserta undangan dan jajaran lain.
Ketua Panitia Festival Budaya, Jimi menjelaskan jika ratusan keris dan pusaka yang dipamerkan ini tak hanya datang dari masa kerajaan, tapi juga buatan dari para Mpu atau pembuat keris di Malang Raya masa kini.
Harapan dengan dipamerkannya berbagai macam koleksi para empu ini menjadi bentuk Uri-Uri Budaya sehingga dapat diwarisi generasi penerus. ”Leluhur kita sudah mencapai tingkat kebudayaan yang sangat tinggi dan sudah seharusnya kita generasi muda meneruskannya,” ungkapnya.
Baca Juga: Festival Sekarbanjar 2025 Digelar Meriah tanpa Meninggalkan Unsur Budaya
Lebih lanjut, Jimi merincikan jika 90 persen di antara koleksi yang dipamerkan ini merupakan pusaka asli dari era kerajaan zaman Majapahit, Mataram hingga Singosari. Sisanya, adalah karya baru dari para mpu masa kini.
Ia menambahkan dalam pameran itu juga dipajang pusaka tertua yakni sebuah betok Jalapudo dari era Singosari. Pusaka ini termasuk pusaka tindih yang dapat berfungsi menetralisir aura negatif dari pusaka lain. ”Perkiraan usia pusaka tindih ini hampir 900 tahun,” kata Jimi.
Menariknya, pusaka betok tersebut merupakan hasil temuan di aliran Sungai Brantas sekitar tahun 2010. Temuan itu berawal dari pengerukan sungai yang memicu para kolektor dan pencinta pusaka dan keris ikut mencari, baik menggunakan detektor logam maupun menyelam.
Koleksi yang dipamerkan dalam kegiatan ini juga berasal dari berbagai komunitas di Nusantara, seperti Lombok, Jakarta, Cirebon, Bali, dan Malang Raya. Sebagian merupakan koleksi turun-temurun yang pada akhirnya dijual karena ahli warisnya tidak lagi menggemari.
Jimi menjelaskan dalam pameran keris ini juga ada yang dijual. Harganya bervariasi dari kisaran Rp1 juta hingga ratusan juta rupiah. ”Kalau yang mahal itu biasanya ‘kinata’, ada emasnya. Itu biasanya di angka ratusan juta,” ungkap Jimi.
Sementara, Kepala Kanwil DJBC Jatim II Agus Sudarmadi yang juga pecinta keris menuturkan jika dirinya turut menjadi kolektor yang memajang koleksi pribadinya. Total ada sekitar 150 bilah yang ia pajang di sana.

”Kolpri saya paling berharga ini adalah Keris Nogorojo ini didapat dari era Mataram Sultan Agung dan beberapa tombak era Demak serta Majapahit,” bebernya.
Agus menjelaskan pihaknya di Kemenkeu melalui Paguyuban PASTI ini menggelar Pameran Keris bukan hanya sekedar hobi. Melainkan sebagai wadah transformasi pengetahuan kebudayaan ke generasi muda.
Ia menjelaskan, bahwa pihaknya juga memiliki tugas menjaga negara dan neraca dalam keuangan negara tidak bisa lepas dari peradaban dan budaya. Lewat keris, ada banyak tahapan spiritual dan doa yang wajib kita maknai sebagai generasi muda.
“Tanpa kita melibatkan budaya, ya mendayakan budi, melihat orang, barang, dokumen, transport, maka tidak akan berjalan dengan sejahtera,” kata Agus.
Ia menegaskan untuk maju, suatu bangsa harus belajar dari para pendahulunya, termasuk kerajaan besar di Jawa Timur seperti Singhasari dan Majapahit. ”Apa yang membuat dia bangkit, yang membuat dia runtuh, itu menjadi pembelajaran bagi kita. Kementerian Keuangan hadir di situ,” ujarnya.
Selain itu, dalam kegiatan lelang amal yang digelar, kata Agus juga sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai salah satu tugas pokok Kemenkeu melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN).

“Salah satu fungsi dari Kementerian Keuangan itu ada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Salah satunya adalah lelang, untuk amal. itu kan ada biaya lelang, biaya lelang itu masuk dalam penerimaan negara,” terangnya.
Salah satu keris yang dilelang dalam kegiatan amal tersebut didapat oleh Bayu Sakti asal Malang. Ia mendapatkan keris bernama Sang Ismoyo dengan harga Rp #7,5 juta ditambah 2 persen biaya lelang.
Bayu mengisahkan tertarik mendapatkan keris Sang Ismoyo tersebut karena merupakan karya mpu generasi terbaru asal Malang. Bayu mengaku alasannya ikut lelang adalah untuk mendukung para mpu muda agar tetap produktif dan lestari.
“Pertimbangannya, satu tertarik. Kedua ini kan mpu Malang, yang generasi terbaru. Kalau kita yang tidak mendukung, terus siapa? Supaya tetap produktif dan kebudayaan keris tetap lestari,” ujar Bayu.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A
























