MALANG, Tugumalang.id – Gedung Malang Creative Center (MCC) kembali menjadi perbincangan hangat. DPRD Kota Malang meminta Pemkot Malang agar bisa mengelola MCC tanpa bergantung lagi pada APBD Kota Malang.
Sekretaris Komisi B DPRD Kota Malang, Arif Wahyudi mengatakan, Pemkot Malang sejak awal pembangunan MCC telah berkomitmen untuk tidak menjadikan MCC sebagai sentral profit.
Namun Pemkot juga berkomitmen akan memberikan ruang komersial dalam pengelolaan gedung berlantai 8 itu.
“Komersilnya 40 persen dan 60 persen untuk pemberdayaan ekonomi kreatif,” kata Arif, Sabtu (22/6/2024).
Baca Juga: Perputaran Ekonomi MCC di Bulan Maret Melesat Hingga Rp400 Juta
Berdasarkan perhitungan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Arif menyebutkan bahwa 40 persen space komersial di MCC cukup memungkinkan untuk membiayai operasional MCC selama setahun.
“Jadi 40 persen space komersial MCC, itu hitungannya bisa mencukupi biaya rutinitas MCC. Mulai perawatan, gaji, operasional dan lainnya,” ujarnya.
Hingga saat ini, Arif menyampaikan bahwa biaya operasional MCC masih bergantung pada alokasi anggaran APBD Kota Malang. Setidaknya, dana Rp 6 miliar digelontor untuk operasional MCC per tahunnya.
Baca Juga: Beon Intermedia dan MCC Dorong Pengembangan Kapasitas UMKM Kota Malang
Kini, pihaknya mendorong Diskoperindag Kota Malang untuk bisa segera membuat regulasi dan merealisasikan ruang komersial yang telah direncanakan sejak awal pembangunan MCC.
“Kalau MCC sudah mampu membiayai sendiri akan lebih baik. Namun jika komersial tak mencukupi tetap harus disupport APBD,” tuturnya.
Dia juga menyampaikan bahwa alokasi anggaran APBD 2025 untuk MCC belum dilakukan pembahasan. Untuk itu, pihaknya mengatakan DPRD Kota Malang tak bisa serta merta mengurangi atau menetapkan anggaran seperti tahun sebelumnya.
“Karena kami juga masih ingin melihat perencanaan Pemkot melalui Diskopindag tentang rencana komersil itu seperti apa,” kata dia.
Terlebih menurutnya, awal pembangunan MCC juga sempat direncanakan akan ada area hotel hingga bioskop di MCC. Namun rencana itu tak terealisasi hingga saat ini.
“Tahun lalu kami sudah tanyakan kenapa rencana itu tak jalan. Alasan Diskoperindag, investor enggan masuk karena akses di MCC hanya ada 2 litf. Makanya sekarang diberi eskalator,” bebernya.
Di sisi lain, Arif memandang bahwa aktivitas ekonomi kreatif di MCC masih belum berjalan optimal. Bahkan menurutnya, MCC belum banyak dikenal masyarakat sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif.
“Ini tugasnya teman-teman di MCC,” ucapnya.
Dia berharap MCC mampu membawa Kota Malang mendunia di bidang ekonomi kreatif. Kemudian semua pelaku ekraf di Kota Malang harus bisa mengakses MCC dengan mudah.
Sementara itu, Anggota Badan Anggaran DPRD Kota Malang, Ahmad Fuad Rahman mengatakan, pihaknya merekomendasikan MCC agar tak terus bergantung pada APBD. MCC menurutnya juga harus bisa menggaet CSR dari perusahaan perusahaan.
“Ketika di MCC ada anak-anak muda kreatif dan hebat, mereka tentu juga harus bisa meyakinkan perusahaan-perusahaan agar bisa menyalurkan CSR-nya,” kata Fuad.
“Mudah mudahan ke depan, MCC bisa mandiri secara bertahap,” imbuhnya.
Dia berharap Pemkot Malang memiliki skema yang bagus dalam mengembangkan MCC. Dia juga menginginkan nantinya MCC menjadi ikon ekonomi kreatif.
“Tentu indikatornya, MCC mampu memberikan dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat Kota Malang,” ujarnya.
Pj Wali Kota Malang Belum Bahasa Masa Depan MCC
Terpisah, Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyampaikan bahwa pihaknya hingga saat ini masih belum melakukan pembahasan tentang masa depan alokasi anggaran APBD untuk MCC di 2025.
“Kami masih akan membahas. Tentu kita harus flas back, MCC ini seperti apa. Untuk memutuskan ini kan banyak hal yang harus kami bahas bersama,” ucapnya.
“Kami belum bahas (anggaran MCC) untuk 2025,” imbuhnya.
Soal rencana ruang komersial MCC, Wahyu juga menyampaikan bahwa pihaknya masih perlu melakukan kajian bersama pihak pihak terkait. Dikatakan, MCC dibangun untuk mewadahi kreatifitas anak-anak muda di Kota Malang.
“Sebelum kami memastikan untuk dikomersialkan, kami akan melihat dulu progres MCC seperti apa dan melihat tanggapan masyarakat,” jelasnya.
“Untuk mengkomersialkan kan juga harus ada dasar. Gak tiba-tiba (pemanfaatannya) harus bayar sekian. Sementara MCC kami sampaikan seperti itu untuk mengenalkan dulu bahwa ini gratis. Kedepan komersial atau tidak, kami akan bahas lagi,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























