Tugumalang.id – Bayangan banyak orang, perjalanan 18 jam bisa sampai Amerika Serikat dengan pesawat. Tetapi kali ini dalam pejalanan hampir sehari semalam itu, hanya tiba di ujung terjauh Provinsi Jawa Timur. Yaitu pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep. Apa istimewanya pulau ini dan ada apa di sana?
Saya asli orang Masalembu, lahir di sana, menempuh pendidikan dari SD hingga SMA di pulau ini juga. Sejak tahun 2009, saya mulai tinggal di Kota Malang untuk belajar di jenjang perguruan tinggi.
Setiap tahun sekali saya pulang terutama di Hari Raya Idul Fitri. Ini sudah menjadi tradisi bagi warga Masalembu lainnya yang berada di luar pulau. Orang-orang menyebutnya sebagai tradisi mudik.
Baca Juga: Nelayan Tradisional Masalembu Gelar Pawai Sambut Pelarangan Cantrang
Lebaran 2025 ini, saya juga pulang ke pulau kelahiran ini. Tetapi sudah tidak sendirian, melainkan bersama keluarga sebanyak total lima orang. Kami berangkat dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan kapal perintis Sabuk Nusantara. Kapal ini berkapasitas sekitar 300 orang saja.

Sabuk Nusantara berlayar menghubungkan pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumenep, seperti Keramian, Kangean, Sapeken, Nonggunong, dst. Setelah itu, balik lagi ke Surabaya. Jadi kapal dari Masalembu ke Surabaya hanya ada sekitar sembilan hari sekali setelah berputar dari pulau ke pulau tersebut.
Jarak pulau Masalembu dari Surabaya sekitar 160 mil atau sekitar 317 kilometer. Jarak ini diperkirakan dari Kota Malang ke ujung timur Banyuwangi.
Baca Juga: Ekonomi Madura, Kemiskinan dan Keterbelakangan
Tapi mengapa selama itu perjalanannya? Kami menggunakan kapal laut tentu tidak bisa banter seperti bus, kereta api apalagi pesawat. Karena itu, kami berusaha menikmati perjalanan ini dengan menu-menu di atas kapal yang tentunya dengan harga “kurang wajar”. Misalnya saja, air minum ukuran botol menengah Rp10 ribu.
Kala Pulau Masalembu Terlihat
Kami berangkat dari Surabaya sekitar pukul 18.00 WIB, tiba di Masalembu keesokan harinya pukul 12.00 WIB. Meski perjalanan cukup lama, tetapi semua seperti terbayar tuntas ketika pulau dengan luas sekitar 41,79 kilometer itu mulai terlihat dari atas kapal. Terlihat dari atas kapal, perahu-perahu nelayan tampak melaju di sudut kejauhan memburu ikan.

Mereka sedang mengelilingi rompong, rumah ikan yang sengaja dibuat dari ikatan bambu, daun kelapa dan diikat dengan pemberat batu sehingga tidak hilang ditelan arus laut. Pada rompong inilah warga Masalembu mendapat ikan untuk menyambung hidupnya dari tahun ke tahun.
Rumah-rumah ikan ini, berjarak sekitar 20 mil dari bibir pantai Masalembu. Biasanya, dua jam kemudian akan tiba di pelabuhan yang berada di bagian selatan pulau yang dikenal sebagai segitiga bermuda Indonesia tersebut.
Rumah saya hanya berjarak sekitar lima menit saja dari pelabuhan ini dengan mengendarai motor. Ini terbilang sangat dekat.
Pulau Masalembu adalah satu kecamatan kepulauan dengan empat desa, yaitu desa Masalima, Masakambing, Sukajeruk dan Keramian. Adapun Masakambing dan Keramian berada di pulau yang berbeda.
Untuk menuju ke pulau Masakambing kita harus berlayar lagi kearah utara dengan perahu kecil sekitar dua jam perjalanan laut. Sementara untuk ke pulau Keramian lebih jauh lagi yaitu lima jam perjalanan. Pulau ini sudah lebih dekat ke Kalimantan Selatan ketimbang ke Surabaya. Entah mengapa administrasinya tidak ikut Kalsel saja.

Emangnya ada apa di Masalembu? Banyak hal-hal unik di pulau ini. Mulai dari ditemukannya burung kakak tua jambul kuning yang disebut sudah punah. Disebut pulau segitiga bermuda Indonesia. Ada banyak kapal yang karam di pulau laut Jawa ini, termasuk yang paling fenomenal adalah tenggelamnya kapal Tampomas II pada tahun 1981.
Selain itu, tentu saja sebagai kepulauan ada kekayaan laut yang melimpah, tradisi kehidupan warganya yang dipengaruhi struktur alam Masalembu, potensi wisata laut, hingga kuliner khas yang mungkin hanya ada di pulau ini.
Lebih-lebih warga Masalembu yang diperkirakan jumlahnya menurut data BPS Sumenep tahun 2019 sekitar 26.676 jiwa, terdiri dari tiga suku, yaitu Madura, Bugis, dan Mandar. Tiga suku ini hidup berdampingan secara damai dan tentu saja ada proses akulturasi yang unik, mulai dari tradisi ritual keagamaan hingga pernikahan.
Pembaca yang budiman saya akan melanjutkan cerita tentang Masalembu secara berseri di Tugumalang.id. Bersambung…
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Herlianto. A
Editor: Herlianto. A





























