Tugumalang.id – Semakin menyempitnya ruang demokrasi bagi masyarakat sipil secara nasional dan termasuk di Malang Raya menjadi perhatian serius Yayasan Penguatan Partisipasi dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (YAPPIKA) dan Serikat Pengajar Hak Asasi Manusia (SEPAHAM).
Dua organisasi ini mengadakan program BASIS (Building an Enabling Environment and Strong Civil Society in Indonesia) di Hotel Santika Kota Malang pada 31 Januari hingga 1 Februari 2026.
Hadir tiga pembicara dalam acara tersebut, yaitu Cekli Setya Pratiwi dari akademisi fakultas hukum UMM Malang, Riza Imaduddin Abdali, civil society advocacy specialiss-YAPPIKA, dan Fredy Torang W. Munthe, peneliti lokal RA IMS Malang.
Baca Juga: AMSI dan 12 Organisasi Masyarakat Sipil Tandatangani Komitmen Pemilu Damai 2024
Dalam pemaparannya, Cekli Setya Pratiwi mengatakan bahwa demokrasi hari ini masih sebatas prosedural, belum substansial. “Demokrasi kita secara prosedur okay, tetapi secara substansi belum. Ruang sipil semakin sempit, peran sipil semakin berkurang,” kata dia.

Kata dia, harusnya demokrasi di Malang terkawal dengan baik, karena Malang menjadi barometer. Ada banyak OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) yang bergerak di bidang berbeda-beda serta sebagai basis kampus. “Tetapi sepertinya di Malang masih ada masalah berkaitan dengan ruang sipil,” katanya.
Cekli, sapaan akrabnya, mengatakan demokrasi harusnya ada kedaulatan rakyat, akuntabilitas publik, kebebasan berekspresi, dan perlindungan minoritas.
Riza Imaduddin Abdali memaparkan berbagai bentuk kekerasan yang diterima oleh Organisasi Masyarakat Sipi (OMS) selama ini. Misalnya, kekerasan dalam bentuk proyek nasional, kontrol administratif, stigmatisasi. “Selain itu, kekerasan fisik dan intimidasi, kriminalisasi dan pembatasan digital,” katanya.

Berbagai persoalan ini belum tertangani dengan baik, karena salah satunya OMS masih bergerak sendiri-sendiri belum berjejaring. Jarangnya OMS untuk berjejaring ini disebabkan oleh ada masalah di internal OMS tersebut, soal pendanaan dan keberlanjutan dan jejaring serta SDM.
Fredy Torang W. Munthe menjelaskan hasil surveinya dari 100 OMS di Malang. Hasil penelian ini menunjukkan bahwa OMS di Malang kuat secara nilai tetapi rentan secara struktural. “Kolaborasi antar OMS terbatas, bergantung pada donor, dana yang ada masih swadaya dan diversifikasi usahanya terbatas,” paparnya.

Sementara Ketua SEPAHAM, Muktiono menjelaskan bahwa acara BASIS yang diselenggarakan bersama YAPPIKA ini memang dirancang untuk menguatkan posisi masyarakat sipil yang ada di Malang Raya.
“Kita ingin membangun kolaborasi, antara OMS dengan akademisi dan dengan pemerintah juga,” katanya.
Turut hadir dalam acara tersebut, Fransisca Fitri Kurnia Sri, Direktur Eksekutif YAPPIKA. Kemudian juga turut hadir para Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Malang Raya dan daerah sekitarnya. Seperti Aksi Kamisan, Gusdurian Malang, hingga PATTIRO. Kemudian perwakilan Dinas Sosial Kota Malang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Herlianto. A
Editor: Jatmiko





























