Tugumalang.id – Kuburan Londo yang terletak di Sukun bukan sekadar tempat pemakaman umum (TPU), tetapi juga pernah menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah di Kota Malang.
Kawasan pemakaman peninggalan kolonial Belanda tersebut menyimpan nilai historis yang cukup tinggi. Namun saat ini pamornya mulai meredup.
Dibangun sekitar tahun 1920 pada masa Boueplan III, lokasi ini menjadi peristirahatan terakhir sejumlah tokoh penting. Mulai dari pendiri RS Lavalette, perintis Sekolah Pendeta Balewiyata, Mami Dolly yang dikenal dalam sejarah lokalisasi Surabaya bahkan ada jejak makam penganut Freemason.
Baca Juga: Misteri Penampakan Belasan Bocah Bermain di TPU Kuburan Londo Kota Malang, Didekati Hilang
Selain kaya cerita masa lalu, area ini juga memiliki ciri khas arsitektur Eropa yang cukup kuat. Beragam ornamen seperti patung malaikat hingga nisan berbahan marmer masih berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu perjalanan peradaban di Kota Malang.
Namun saat ini, potensi tersebut mulai kehilangan pamor dan cenderung terabaikan. Humas Pokdarwis Kuburan Londo, Hariani menyebutkan bahwa kegiatan wisata di kawasan tersebut praktis telah berhenti sejak pandemi Covid-19 melanda negeri.
“Sekarang kondisinya masih stagnan, belum ada aktivitas pengembangan wisata lagi,” ucapnya.
Sebelum pandemi, berbagai program sempat digelar dan menarik minat wisatawan. Salah satu yang cukup populer adalah konsep dark tourism. Dimana, pengunjung diajak menyusuri makam pada malam hari sambil mendengarkan kisah kisah sejarah yang menyertainya.
Baca Juga: Dulu Ramai Wisatawan, Kini 5 Kampung Tematik di Kota Malang Ini Tak Ada Kunjungan
Program tersebut bahkan sempat dibuka dalam beberapa sesi karena tingginya animo pengunjung.
Sayangnya, setelah pandemi, aktivitas Pokdarwis ikut terhenti. Hariani mengaku kini hanya dirinya yang masih aktif, sementara program wisata belum kembali berjalan.
“Sangat disayangkan karena sebenarnya banyak potensi cerita sejarah di sini,” ungkapnya.
Meski begitu, sesekali masih ada saja pengunjung yang datang, terutama dari kalangan mahasiswa dan pegiat sejarah. Salah satu titik yang menarik perhatian adalah makam dengan simbol jangka dan segitiga yang sering dikaitkan dengan Freemason.
Pada nisan tersebut tercantum nama DR. Eyken dan Allaris, yang kerap memicu rasa penasaran pengunjung.
“Beberapa waktu lalu juga sempat ada kolaborasi dengan komunitas pengamat sejarah untuk mengangkat cerita sejarah di sini,” imbuhnya.
Menurutnya, wisata Kuburan Londo perlu kembali digairahkan melalui sinergi yang kuat antar berbagai pihak. Mulai dari komunitas, kelurahan, pengelola makam, Pokdarwis hingga Pemkot Malang.
Dikatakan, gerbang Kuburan Londo sendiri telah masuk dalam daftar bangunan cagar budaya Kota Malang. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai penting yang layak untuk dilestarikan.
Hariani berharap ke depan Kuburan Londo bisa kembali ditata dan dihidupkan sebagai destinasi wisata sejarah sekaligus sarana edukasi.
“Tentu ada keinginan untuk mengaktifkan lagi, tapi tentu butuh dukungan banyak pihak. Potensinya besar, tidak hanya sebagai makam, tapi juga sebagai tempat belajar sejarah,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A
























