New York, Tugumalang.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis Laporan Hipertensi Global Kedua pada Sidang Umum PBB ke-80, Rabu lalu (24/9/2025), yang mengungkapkan bahwa 1,4 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan hipertensi pada 2024. Ironisnya, hanya lebih dari satu dari lima penderita yang mampu mengendalikan tekanan darah tinggi mereka melalui pengobatan maupun upaya pencegahan.
Laporan yang disusun bersama WHO, Bloomberg Philanthropies, dan Resolve to Save Lives ini juga menunjukkan kesenjangan besar antarnegara. Hanya 28% negara berpenghasilan rendah melaporkan bahwa semua obat hipertensi yang direkomendasikan WHO tersedia di fasilitas kesehatan primer atau apotek, dibandingkan dengan 93% negara berpenghasilan tinggi.

Hipertensi: Ancaman Global yang Dapat Dicegah
Hipertensi adalah penyebab utama serangan jantung, stroke, penyakit ginjal kronis, hingga demensia. WHO menegaskan penyakit ini dapat dicegah dan diobati, namun tanpa tindakan serius, jutaan orang berisiko meninggal lebih awal.
Beban ekonomi juga tidak kalah besar. Dari 2011–2025, penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi, diproyeksikan merugikan negara berpenghasilan rendah dan menengah hingga US$3,7 triliun, setara dengan 2% PDB gabungan mereka.
“Setiap jam, lebih dari 1.000 orang meninggal akibat komplikasi tekanan darah tinggi. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. “Dengan kemauan politik, investasi berkelanjutan, dan reformasi layanan kesehatan, kita bisa menyelamatkan jutaan nyawa.”
Baca juga: 6 Minuman Bisa Kurangi Kolesterol dan Hipertensi
Hambatan Global dalam Penanganan Hipertensi
Analisis WHO terhadap 195 negara menemukan bahwa 99 negara memiliki tingkat pengendalian hipertensi nasional di bawah 20%. Hambatan yang paling umum meliputi:
Rendahnya promosi kesehatan terkait gaya hidup (alkohol, rokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi garam, lemak trans).
Akses terbatas ke alat ukur tekanan darah yang tervalidasi.
Kurangnya standar protokol perawatan serta tenaga medis terlatih.
Harga obat yang mahal dan rantai pasok yang tidak stabil.
Sistem informasi kesehatan yang lemah dalam memantau tren hipertensi.
Dr. Kelly Henning dari Bloomberg Philanthropies menekankan pentingnya kebijakan kuat. “Tekanan darah tinggi merenggut lebih dari 10 juta jiwa tiap tahun. Negara yang mengintegrasikan perawatan hipertensi ke dalam layanan kesehatan primer terbukti mampu menurunkan angka kematian.”
Akses Obat: Kunci Pencegahan Kematian Dini
WHO menegaskan bahwa obat antihipertensi termasuk salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling hemat biaya. Namun, ketersediaannya masih timpang.
“Obat yang aman dan efektif sebenarnya ada, tapi jutaan orang tidak bisa mengaksesnya,” kata Dr. Tom Frieden, Presiden & CEO Resolve to Save Lives. “Menutup kesenjangan ini bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menghemat miliaran dolar tiap tahun.”
Baca juga: Inovasi Antihipertensi, Unisma Peringkat 3 Kategori Pengabdian kepada Masyarakat
Contoh Keberhasilan di Beberapa Negara
Meski menghadapi tantangan besar, sejumlah negara berhasil menunjukkan kemajuan:
Bangladesh: Pengendalian hipertensi meningkat dari 15% menjadi 56% (2019–2025) berkat integrasi layanan pengobatan hipertensi dalam paket layanan esensial dan penguatan skrining.
Filipina: Menerapkan paket teknis HEARTS WHO ke tingkat komunitas secara nasional.
Republik Korea: Memberlakukan biaya rendah untuk obat antihipertensi dan subsidi pasien, hingga mencapai tingkat pengendalian nasional sebesar 59% pada 2022.
Ajakan WHO: Integrasi ke Jaminan Kesehatan Nasional
WHO menyerukan semua negara untuk mengintegrasikan pengendalian hipertensi ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jika rekomendasi WHO dijalankan, jutaan kematian dini bisa dicegah, sekaligus mengurangi kerugian ekonomi akibat hipertensi yang tidak terkendali.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: WHO
redaktur: jatmiko





























