Kota Batu, Tugumalang.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu akan mengkaji ulang rencana pembangunan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau yang dikenal sebagai dapur MBG di kawasan Sumber Umbul Gemulo, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji. Keputusan ini diambil menyusul penolakan dari warga dan pemerhati lingkungan yang khawatir terhadap dampak ekologis pembangunan di kawasan sumber mata air.
Rencana pembangunan dapur MBG sebelumnya sempat menuai kontroversi karena lokasinya yang berdekatan dengan Sumber Air Umbul Gemulo—salah satu mata air utama yang menyuplai kebutuhan air bersih warga Kota Batu.
“Soal itu (lokasi dapur MBG), kami tentunya masih akan mengkaji ulang untuk memilih opsi lokasi yang tidak menimbulkan masalah,” ujar Pj Wali Kota Batu, Nurochman, Senin (21/7/2025).
Baca juga: Resik-resik Sumber Mata Air Umbul Gemulo di Kota Batu Diwarnai Kritik Program Dapur MBG
Warga dan Aktivis Tolak Lokasi Dapur MBG di Kawasan Sumber Air
Penolakan muncul karena kekhawatiran akan terganggunya kualitas dan kuantitas air bersih dari Umbul Gemulo jika aktivitas pembangunan berlangsung di sekitar area tersebut. Pasalnya, kawasan sumber air tersebut tergolong sebagai area sensitif lingkungan dan memiliki fungsi penting dalam sistem tata air Kota Batu.
Sumber Umbul Gemulo sendiri merupakan satu dari enam sumber mata air utama yang masih terjaga keberlangsungannya di wilayah tersebut. Data dari Perumdam Among Tirto mencatat enam sumber utama meliputi Sumber Darmi, Kasinan, Torongbelok, Gemulo, Banyuning, dan Ngesong.
Kepala Seksi Perencanaan dan Pengembangan Teknik Perumdam Among Tirto Kota Batu, Wahyudin, membenarkan adanya potensi gangguan pada produktivitas mata air jika pembangunan dilakukan terlalu dekat dengan titik sumber.
“Secara teknis memang ada potensi gangguan. Tapi untuk memastikan lebih detail, perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai catchment area-nya,” jelas Wahyudin.
Pemkot Batu Diminta Prioritaskan Aspek Lingkungan
Terlepas dari itu, sebenarnya ada sejumlah upaya yang bisa dilakukan jika pembangunan berlokasi di sekitar mata air. Seperti pembangunan sumur resapan di masing-masing blok rumah.
Baca juga: Sekolah Rakyat di Kota Malang Menggunakan Gedung Poltekom
Ia mencontohkan studi di daerah Trawas, Kabupaten Mojokerto, di mana satu sumur resapan seluas delapan meter persegi per rumah idealnya dipasang di area tadah hujan.
Upaya tersebut, kata Udin, bisa meningkatkan debit dan bahkan memunculkan sumber mata air baru. “Tapi prosesnya juga panjang, sekitar 2 tahun, itu pun bergantung volume curah hujan,” paparnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























