Tugumalang.id – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek), Prof. Fauzan membuka langsung perhelatan Living Lab Summit 2026 : Seminar Nasional dan Pameran Living Lab di Auditorium Pandhita Majapahit Universitas Brawijaya (UB), Jumat (30/10/2026).
Diketahui, Seminar Nasional dan Pameran Living Lab ini digagas Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UB bekerja sama dengan LPDP dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Rangkaian Living Lab Summit 2026 ini diisi dengan pameran poster poster BESTARI, pameran 13 booth Living Lab dari berbagai perguruan tinggi, plenary session, hingga temu media khusus penerima hibah BESTARI.
Baca Juga: Koperasi Universitas Brawijaya dan Podo Rukun Grup Jalin Kolaborasi
Dalam kesempatan itu, Prof. Fauzan menegaskan ekosistem akademik hari ini perlu memegang prinsip ‘mission-driven activity’. Artinya, riset maupun pengabdian akademik tak hanya sekadar menjadi seminar dan publikasi semata, tapi hadir menjadi juru solusi (problem solver) masyarakat secara nyata.

Prof. Fauzan, menegaskan semangat utama dari ekosistem Living Lab dan program Bestari Saintek ini adalah membawa perguruan tinggi menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan sosial-ekonomi di daerah.
”Jadi ini sebenarnya mission driven activity. Ada misi untuk memecahkan masalah di daerah-daerah tadi. Jadi, sejak awal sudah harua dilihat dulu masalah di lapangan, lokus dan fokus program didefinisikan sejak awal,” ungkapnya.
Baca Juga: Koperasi Universitas Brawijaya dan Podo Rukun Grup Jalin Kolaborasi
Prof. Fauzan mengklaim dari semua riset Living Lab yang terkurasi, 80 persen terbukti telah memberikan dampak nyata, baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Meski begitu, ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan program bergantung pada karakteristik dan variasi kompleksitas masing-masing daerah.
Oleh sebab itu, perguruan tinggi diharapkan aktif terjun mengidentifikasi serta menyelesaikan persoalan lokal secara langsung. ”Tentu saja ini semua proses karena memang problematika yang dihadapi masyarakat itu rentangannya luar biasa jauhnya. Makanya, kampus harus ikut terjun ke bawah,” tegasnya.
Sementara, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo membenarkan jika kompleksitas masalah masyarakat tidak bisa diselesaikan oleh kampus sendirian, melainkan butuh sinergi erat (pentahelix) bersama pemerintah daerah, industri, dan komunitas warga.
”Saya sepakat dengan arahan Pak Wamen tadi. Tugas perguruan tinggi adalah menggali ilmu dan memanfaatkannya untuk membantu menyelesaikan masalah masyarakat,” tegasnya.
Prof. Widodo menjelaskan jika sejauh ini UB juga sudah banyak berkontribusi langsung ke masyarakat. Sebagai contoh, UB sendiri telah mengembangkan banyak desa binaan dan living lab, baik di wilayah Malang Raya, Malang Selatan, hingga luar pulau seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua,
Di NTT misalnya, UB berhasil menerapkan program terintegrasi sektor pertanian jagung dan peternakan sapi. Di mana hasil sampingan tanaman jagung bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak produktif hingga produk turunan lain dengan memberdayakan warga lokal. ”Semua terintegrasi, ekonomi juga jalan,” kata dia.
Selain itu, UB juga menerjunkan mahasiswa dan alumni melalui program Dokter Mengabdi, KKN, serta pendampingan masyarakat di Sorong, Papua melalui program Patriot. Selain desa binaan di pelosok, UB juga menaruh perhatian besar pada kawasan perkampungan di sekitar lingkar kampus.
“Harapannya, kampung di lingkar kampus ini bisa menjadi semacam kampus kedua bagi mahasiswa. Ketika mereka tinggal di sana, ekosistem akademis juga akan kita bangun ke arah sana,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A






































