MALANG, Tugumalang.id – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) baru saja merayakan Dies Maulidiyah ke-65 pada 28 Oktober 2026 kemarin.
Bagi Dosen UIN Malang, Dr. Zainal Habib, M.Hum di usia yang bisa dibilang matang ini, menjadi momentum bagi kampus untuk memperkuat identitas, meneguhkan cita-cita, serta memperluas kontribusi pendidikan Islam bagi bangsa maupun global.
Menurutnya peran perguruan tinggi saat ini tidak dapat dipandang hanya sebagai pusat keilmuan semata. Melainkan ruang untuk membentuk manusia yang beradab, berbudaya, dan juga paham akan nilai-nilai kemanusiaan.
Untuk itu, Dr. Zainal Habib menilai UIN Malang perlu menjadi kurator peradaban dengan ciri khasnya, yakni memadukan tradisi intelektual Islam, sains, teknologi, dan moralitas.
Baca Juga: Setahun Memimpin, Rektor UIN Malang: Ini Amanah, Jangan Ada Lagi Pejabat dan Dosen Tidak Pernah Ngantor
“Dalam lingkungan Kementerian Agama, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki potensi menjadi rujukan pendidikan tinggi Islam yang berkualitas, integratif, dan berdaya saing melalui penguatan pembelajaran, penelitian, pengabdian, dan kolaborasi akademik,” ungkapnya.
Dasar itulah yang menurut Dr. Zainal Habib menjadi pijakan bagi kampus untuk terus meningkatkan kualitas akademik, serta memperluas jejaring kerja sama dengan tujuan memberikan kontribusi bagi masyarakat maupun pendidikan Islam, baik di level nasional hingga internasional dengan cakupan yang semakin luas.
Tumbuh Melalui Tradisi Akademik yang Konsisten
Pencapaian membanggakan yang diukir UIN Malang memasuki Dies Maulidiyah ke-65, tidak dapat dilepaskan dari tradisi akademik yang terus dirawat secara konsisten oleh seluruh sivitas akademika.
Budaya membaca, meneliti, berdiskusi, menulis, dan berbagai pengetahuan menjadi fondasi bagi terciptanya lingkungan intelektual yang produktif, dinamis, serta terbuka terhadap pembaharuan.
Dr. Zainal merujuk pada pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang pentingnya menuntun manusia menemukan potensi terbaiknya. Apabila dikaitkan dengan peran perguruan tinggi, pemikiran tersebut menjadi dasar bagi sivitas akademika UIN Malang untuk menjadi pendamping intelektual yang membuka ruang eksplorasi.
Baca Juga: Ketika AI Tak Punya Nurani: Mengapa Karakter Ulul Albab UIN Malang Makin Relevan?
Selain itu, juga menumbuhkan kemandirian dalam berpikir dan membantu mahasiswa menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.
“Mentradisikan keunggulan berarti menghadirkan suasana kampus yang mendorong kreativitas, kolaborasi, dan pertukaran gagasan. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pemikiran kritis, dosen memperluas penelitian, sedangkan tenaga kependidikan berperan dalam mendukung pelayanan akademik yang profesional dan berkualitas,” bebernya.
Ia menambahkan budaya akademik yang kuat juga membutuhkan penghargaan terhadap integritas, ketekunan, dan prestasi. Pengembangan kompetensi dosen serta mahasiswa dapat berjalan beriringan dengan pembinaan karakter, penguatan kepemimpinan, dan perluasan kesempatan berkolaborasi dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
“Melalui tradisi keunggulan, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dapat terus membangun lingkungan akademik yang menginspirasi lahirnya gagasan baru,” ujar Dr. Zainal Habib.
Baginya keunggulan sebuah perguruan tinggi bukan sekadar pencapaian individual semata, melainkan bersumber pada semangat kolektif untuk mengembangkan ilmu, memperluas manfaat pendidikan, dan memperkuat kontribusi universitas bagi peradaban.
Fondasi Keilmuan sebagai Bekal Menghadapi Kompleksitas Kehidupan Modern
Menurut Dr. Zainal, UIN Malang memiliki bekal dalam membangun peradaban, yakni fonasi keilmuan yang berorientasi pada integrasi ilmu dan agama. Merujuk pada gagasan Ulul Albab yang menginspirasi pembentukan manusia yang memadukan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan kepedulian sosial sebagai bekal menghadapi kompleksitas kehidupan modern.
“Integrasi tersebut relevan dengan perkembangan dunia yang semakin membutuhkan dialog antar disiplin. Persoalan ekonomi, perubahan iklim, kesehatan, kecerdasan buatan, dan dinamika geopolitik. Hal ini membuka peluang bagi kampus untuk mempertemukan sains, teknologi, humaniora, serta pertimbangan etika,” beber pria yang juga menjabat sebagai Plt Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) masa jabatan 2025-2029.
Merujuk pada pendapat yang dikemukakan oleh filsuf pendidikan, John Dewey tentang hubungan pendidikan dengan pengalaman kehidupan. Ia menilai pemikiran tersebut memberikan inspirasi bagi pembelajaran yang menghubungkan teori dan praktik melalui penelitian lapangan, proyek kolaboratif, kemitraan industri, serta pengabdian masyarakat yang menghasilkan manfaat berkelanjutan.
Selain itu, prestasi akademik dan kelembagaan merupakan modal berharga untuk memperluas kontribusi universitas. Berbagai capaian dapat menjadi pijakan bagi pengembangan program baru, peningkatan kualitas penelitian, penguatan jejaring akademik, dan pembentukan lingkungan pembelajaran yang semakin produktif.
“Dengan memadukan fondasi keilmuan dan semangat berprestasi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki peluang untuk memperkuat perannya, sebagai pusat pengembangan pengetahuan berlandaskan nilai keislaman,” terangnya.
Orientasi ini memungkinkan universitas menghadirkan kontribusi bagi kemajuan pendidikan, inovasi, kebudayaan, dan pembangunan masyarakat.
UIN Malang sebagai Kurator Peradaban
Mengaktivasi UIN Malang dalam perannya sebagai kurator peradaban, menempatkan posisi universitas bukan sekadar pewaris tradisi intelektual. Tetapi kini sebagai penggerak dari pembaharuan pengetahuan.
Artinya kampus menjadi ruang pertemuan antara warisan Islam, kemajuan sains, transformasi teknologi, serta tanggung jawab kemanusiaan guna membentuk masa depan yang bermartabat.
Dr. Zainal Habib mengutip pandangan dari John Dewey (1916) yang memandang pentingnya pendidikan sebagai proses pertumbuhan yang berlangsung melalui pengalaman dan interaksi sosial, dalam karya berjudul Democracy and Education.
Serta pendapat dari pemikir Islam, Al-Ghazali yang menempatkan pencarian ilmu dalam hubungan erat dengan pembentukan akhlak.
Kedua perspektif ini dirasa menjadi landasan bagi UIN Malang untuk terus mengembangkan tradisi keilmuan melalui kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan juga tanggung jawab sosial.
Hal itu terbukti dari pencapaian kampus beberapa waktu terakhir. Salah satunya di tahun 2026 ini, 68 persen program studi yang ada di UIN Malang meraih akreditasi Unggul dan 35 persen di antaranya meraih akreditasi internasional.
Dari sisi jumlah riset juga mengalami peningkatan, dari 120 judul di tahun 2025 menjadi 258 judul di 2026 ini. sebanyak 302 dosen juga memperoleh ruang untuk melakukan riset mandiri.
Pada akhirnya, kurator peradaban adalah institusi yang mampu mempertemukan tiga tanggung jawab sekaligus, yaitu menjaga kebijaksanaan masa lalu, mengembangkan pengetahuan masa kini, dan menyiapkan kemanusiaan di masa depan.
“Dalam kerangka ini UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki kesempatan untuk memperluas kontribusi pendidikan Islam melalui keunggulan akademik, integritas moral, dan dialog intelektual lintas bangsa,” tandasnya.
Memasuki usia ke-65 bukanlah menjadi garis akhir, tetapi menjadi fondasi untuk memasuki babak baru sejarah pendidikan Islam di Indonesia.
UIN Malang dikenal sebagai kampus yang bukan dikenal karena hanya pencapaian akademiknya saja, melainkan kampus dengan gagasan, lulusan, dan juga karya akademik yang memberi dampak positif bagi peradaban.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A






































