Sabtu, Juli 18, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Urgensi Peduli Kesehatan Mental Siswa

Redaksi by Redaksi
September 17, 2024 8:01 am
in Catatan
Kesehatan Mental

Masbahur Roziqi.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh : Masbahur Roziqi

Penulis adalah guru Bimbingan dan Konseling SMAN 1 Kraksaan Kabupaten Probolinggo

READ ALSO

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Buku Pelanggaran

“Pak mengapa orang lebih memilih menyakiti orang lain jika mentalnya terganggu? Pak bagaimana jika keluarga menjadi bagian yang membuat saya tidak sehat mentalnya pak? Pak bagaimana cara saya menolong teman yang mentalnya sedang terganggu?” Beberapa pertanyaan itu meluncur deras pada beberapa siswa saya dalam sesi berbagi isu kesehatan mental di sekolah.

Banyak siswa bertanya. Baik perempuan maupun laki-laki. Ada yang menanyakan temannya, ada yang menanyakan tentang diri sendiri, bahkan bertanya mengenai penyikapan dengan lingkungan sekitar. Semuanya fokus menanyakan tentang serba serbi kesehatan mental. Seberapa urgen sih kesehatan mental bagi siswa?

Pertanyaan itu tentu bisa menjadi bahan refleksi bersama. Kaitkan pula dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini. Seperti yang diberitakan Jawa Pos Radar Bromo pada bulan Agustus akhir. Seorang siswa salah satu SMA negeri di Kota Pasuruan mengalami depresi berat.

Siswa tersebut menurut berita, diduga menjadi korban perundungan atau biasa dikenal dengan bullying. Pelakunya tak lain teman sendiri. Remaja berusia setara dengan korban. Berjumlah lebih dari lima orang. Bentuk perundungannya beragam. Korban pun akhirnya mengalami depresi.

Berikutnya, kaitan kesehatan mental dengan fenomena maraknya bunuh diri pada anak usia remaja. Seperti diberitakan salah satu media nasional, seorang siswi SMP di daerah Jawa Barat pada 27 Agustus 2024 lalu dikabarkan menabrakkan diri pada kereta api yang melintas. Sampai saat ini belum ada informasi terbaru apa yang menjadi motifnya.

Baca Juga: Atasi Kecanduan Media Sosial untuk Menjaga Kesehatan Mental, Begini Pandangan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang

Dua kejadian tersebut menunjukkan kondisi kesehatan mental para remaja yang dapat dikatakan memprihatinkan. Isu ini dapat menjadi bumerang bagi bangsa ini yang hendak lepas landas menyongsong Indonesia emas pada usia 100 tahun. Tepatnya tahun 2045.

Saat itu generasi muda kini masih duduk di bangku SMP dan SMA sederajat tentu akan menjadi aset sumber daya manusia bangsa ini. Contoh remaja yang mengalami depresi berat akibat perundungan dan remaja yang memutuskan bunuh diri menjadian banyak mulai mengkhawatirkan kesehatan mental remaja.

Banyak tantangan yang tentu akan dihadapi remaja kita. Dalam hal ini remaja yang menjalani pendidikan formal. Pertanyaan para siswa saya mengenai beragam problem pada kesehatan mental menjadi bukti. Bahwa mereka sebenarnya juga sangat memerhatikan mengenai isu kesehatan mental. Problem itu sangat dekat dengan mereka.

Mereka merasakan, memikirkan, hingga berpengaruh pada keseharian mereka. Entah itu berkaitan dengan interaksi mereka bersama teman sekolah, teman luar sekolah, keluarga, hingga lingkungan sekitar. Bahkan merambah pula pada interaksi tidak hanya offline melainkan online melalui media sosial.

Pertanyaan dan kasus yang menimpa para remaja pada pemberitaan daerah memunculkan pertanyaan pula bagi para orang dewasa baik bapak ibu guru di sekolah maupun orang tua di rumah, sudah sejauh mana kita memahami mengenai urgensi kesehatan mental bagi anak-anak?

Apakah cukup hanya membandingkan apa yang telah para orang dewasa alami saat remaja dengan apa yang anak remaja sekarang alami? Adilkah ketika misalnya para orang dewasa saat ini membandingkan apple to apple kehidupan remaja dulu dengan sekarang?

Apakah ketika ada seorang remaja saat ini mengeluhkan mengenai kesehatan mentalnya sudah dapat dianggap dia cengeng dan tidak memiliki daya lentur (resiliensi) seperti remaja zaman dulu yang saat ini telah memiliki banyak pengalaman dan bekerja sesuai passion masing-masing? Tentu hal ini masih menjadi perdebatan.

Namun yang pasti remaja perlu mendapat pendampingan mengenai isu kesehatan mental yang tengah mereka alami. Apalagi remaja pada tahap perkembangannya saat ini tengah melakukan eksplorasi pada berbagai bidang, baik itu bidang pribadi, sosial, akademik, maupun kariernya. Mereka pasti akan mengalami masa melakukan kesalahan atas eksplorasi yang mereka lakukan.

Mereka juga pasti akan mengalami kegagalan dalam mencapai life goals yang telah mereka rancang. Namun tidak sedikit pula mereka akan bisa menikmati kebahagiaan ketika passion mereka telah mereka jalani dengan penuh antusiasme.

Peran orang dewasa dalam hal ini bapak ibu guru, dan keluarga tentu menjadi utama di sini. Yakni mendampingi dan membersamai anak agar mampu menebalkan hal-hal baik atau positif yang akan dan telah mereka kembangkan. Serta berupaya menipiskan hal-hal negatif atau berdmapak buruk yang mungkin akan mereka lakukan atau telah mereka lakukan.

Baca Juga: Berbagi Ilmu di Tugu Inspirasi Talks, Dosen Psikologi UM Berbicara Pentingnya Kesadaran Diri dalam Menjaga Kesehatan Mental

Tentu hal ini tidak mudah dan kompleks. Apalagi dengan tantangan era gadget saat ini. Remaja generasi Z dan alpha tidak lagi hanya berinteraksi melalui tatap muka. Mereka juga telah mahir mengoperasikan alat komunikasi yang mengantarkan mereka menjaid digital native. Isu kesehatan mental pun tidak lagi hanya terbatas pada interaksi offline yang mungkin terjadi antar individu remaja, melainkan telah meluas pada interaksi secara online.

Peduli kesehatan mental anak remaja tentu juga harus mempertimbangkan hal ini. Paham dan melek mengenai komunikasi media sosial remaja menjadi salah satu hal urgen dalam mendampingi remaja melakukan interaksi di media sosial.

Ada beberapa hal yang bisa orang dewasa turut lakukan dalam membantu remaja mengelola diri untuk menjaga kesehatan mentalnya. Pertama kuatkan dan latihkan empati. Mari bersama ajak remaja untuk menumbuhkan dan mengembangkan empatinya. Hal ini agar para remaja walau tengah melakukan kegiatan apa pun, dapat tetap pedulu pada orang lain.

Kepedulian ini akan membawa mereka untuk menggapai hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain. Selain itu empati juga akan membantu remaja untuk memiliki rasa bersyukur (gratitude) atas apa yang Tuhan berikan pada diri mereka dan memanfaatkanya dengan baik melalui peduli pada orang lain.

Kedua, mari latih remaja untuk tangguh atau resilien. Tentu akan ada saja kegagalan yang remaja alami. Baik pada hubungan interpersonal maupun pencapaian akademiknya. Tidak masalah. Gagal selalu ada pada kamus setiap orang, tidak terkecuali remaja.

Bagaimana remaja bangkit, itu yang akan membedakan tiap orang. Bangkit dan belajar dari kegagalan merupakan bagian dari upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan resiliensi diri atau ketangguhan diri. Ketiga asertif. Mari ajak remaja untuk bisa asertif atas dirinya. Artinya mari tinggalkan sikap tidak enakan dalam berelasi sosial. Katakan tidak jika anda menolak dan tidak berkenan, dan katakan iya jika memang anda rela untuk melakukannya.

Namun dalam asertif penolakan dan penerimaan itu harus memperhatikan perasaan orang lain. Penolakan dalam asertif misalnya berarti kita menolak tanpa menggunakan sikap agresif atau keinginan untuk merendahkan orang lain. Asertif membantu kita untuk berbicara sesuai dengan perasaan sendiri dengan rasional dan tanpa kekerasan.(*)

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

editor: jatmiko

Tags: kesehatan metal siswametal siswa

Related Posts

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a
Catatan

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Senin, 13 Jul 2026
Buku Pelanggaran
Catatan

Buku Pelanggaran

Minggu, 12 Jul 2026
Cologne,  Katedral, dan Masjid 
Catatan

Cologne, Katedral dan Masjid 

Kamis, 9 Jul 2026
Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik
Catatan

Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik

Kamis, 9 Jul 2026
Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan
Catatan

Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan

Rabu, 8 Jul 2026
Kota Malang dan El Nino
Catatan

Kota Malang dan El Nino

Rabu, 8 Jul 2026
Next Post
Bulu Mata

5 Cara Ampuh Melentikkan Bulu Mata

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.