MALANG – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) memberangkatkan 618 mahasiswa untuk mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Senin (3/8/2026). Sebanyak 15 mahasiswa di antaranya mendapat kesempatan menjalani KKN internasional di Kampung Paya Dalam, Melaka, Malaysia.
Selain ke Malaysia, ratusan mahasiswa lainnya menjalani KKN di berbagai wilayah di Indonesia. Mereka akan mengabdi selama satu bulan, mulai 3 Agustus hingga 3 September 2026.
Rektor Unikama Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., mengatakan KKN merupakan bagian penting dari perjalanan intelektual dan sosial mahasiswa. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk keluar dari ruang kelas dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah di tengah kehidupan masyarakat.
“KKN itu perjalanan intelektual mereka, kemudian sosial, kemanusiaan, dan pembentukan karakter untuk lepas dari bangku kuliah dan terjun di masyarakat,” ucapnya.
Baca juga: Mahasiswa KKN Unikama Hadirkan Digitalisasi Greenhouse Melon di Desa Tamanharjo Singosari
Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjadi dinamisator sekaligus katalisator pembangunan di wilayah tempat mereka mengabdi. Ilmu yang diperoleh di kampus diharapkan tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat digunakan untuk menjawab persoalan konkret di lapangan.
Misalnya, mahasiswa dapat membantu pelaku UMKM memanfaatkan teknologi, meningkatkan kemampuan pengelolaan media sosial, membantu mempromosikan potensi wisata daerah, maupun berkontribusi dalam bidang pendidikan.
“Yang paling penting, dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat. Tidak terlalu banyak mungkin, tetapi tertentu saja, fokus, dan punya manfaat,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan. Program yang dijalankan mahasiswa diharapkan tidak berhenti ketika masa KKN selesai.
Baca juga: Resmi Diluncurkan, 15 Mahasiswa Unikama Ikuti Program KKN dan PLP Internasional di Malaysia
Menurutnya, ukuran keberhasilan KKN bukan hanya laporan akademik. Lebih dari itu, keberhasilan dapat dilihat dari bagaimana masyarakat merasakan kehadiran mahasiswa selama berada di wilayah tersebut.
“Kalau masyarakat tersenyum, bahagia, senang dengan mereka, maka ada dampak yang bisa kita rasakan,” ujarnya.
Kesempatan bagi 15 mahasiswa menjalani KKN di Malaysia menjadi bagian dari upaya Unikama memperluas pengalaman internasional mahasiswa. Program tersebut juga mendukung capaian indikator kinerja utama (IKU) kampus, khususnya dalam mendorong pengalaman akademik mahasiswa di tingkat internasional.
Ia mengatakan seluruh mahasiswa pada dasarnya memiliki kesempatan mengikuti KKN internasional. Namun, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, terutama terkait kesesuaian bidang keilmuan dan kesiapan mahasiswa.
“Semua kami beri peluang. Tetapi pada saat harus ke luar negeri tentu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat Unikama Prof. Mujiono mengatakan, 618 mahasiswa tersebut terdiri atas 488 mahasiswa reguler, 100 mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), 27 mahasiswa Freeform, serta 15 mahasiswa peserta KKN internasional di Malaysia.
“Jadi pemberangkatan hari ini memberangkatkan 618 mahasiswa. Ada 488 mahasiswa reguler, 100 mahasiswa RPL, 27 mahasiswa Freeform, dan 15 mahasiswa di Kampung Paya Dalam, Melaka, Malaysia,” kata Mujiono.
Program KKN internasional itu dilaksanakan melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk mahasiswa dari perguruan tinggi mitra dan institusi pendidikan di Malaysia. Salah satu kegiatannya membantu merevitalisasi budaya lokal bersama Persatuan Warisan Anak Jawa (PERWAJA) di Melaka.
Mujiono menjelaskan, KKN Unikama tidak sekadar mengarahkan mahasiswa hadir di tengah masyarakat. Sebelum diterjunkan, mahasiswa terlebih dahulu mendapat pembekalan dan melakukan observasi untuk memetakan kebutuhan masyarakat.
Program kemudian diarahkan pada sejumlah pilar, mulai pemberdayaan ekonomi desa, pelestarian muatan lokal, pendidikan dan penguatan sumber daya manusia, inovasi teknologi, hingga lingkungan dan kesehatan.
“Jadi kegiatan itu memang kegiatan yang diminati atau memang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Pemetaan kebutuhan tersebut juga mempertimbangkan arah pembangunan daerah. Dengan pendekatan itu, mahasiswa diharapkan tidak sekadar menjalankan program untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi mampu menghadirkan kegiatan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


























