MALANG, Tugumalang.id – Mutiara merupakan salah satu komoditas dari Indonesia yang terkenal di kancah internasional. Bahkan, mutiara asli Indonesia banyak ditemukan di Jepang dengan harga yang sangat tinggi.
Rasa penasaran Rinda Puspasari membuncah saat menemukan mutiara Indonesia dengan harga ratusan juta Rupiah di Jepang. Ia menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa sebagai penghasil mutiara terbaik. Sayangnya, tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui hal itu.
“Saya ingin orang Indonesia tahu bahwa kita punya potensi laut. Saya tidak mau hanya orang akademis yang tahu. Saya ingin buku ini dibaca oleh anak-anak juga,” ujar Rinda saat ditemui usai peluncuran buku Bertemu Mutiara, Indonesia di Hotel Tugu, Kota Malang, Sabtu (22/2/2025).
Baca Juga: Tulis Buku Filsafat untuk Pemalas, Ach Dhofir Zuhry Ingin Filsafat Lebih Diminati Generasi Muda
Rinda merupakan pengoleksi mutiara sejak tahun 2018. Dari hobi tersebut, ia kemudian menelusuri filosofi, sejarah, budidaya, hingga teknologi yang melahirkan mutiara di Indonesia. Ia kemudian menuang temuannya dalam buku Bertemu Mutiara, Indonesia.

Lulusan Magister Budidaya Perairan Universitas Brawijaya ini menghabiskan waktu tiga tahun untuk melakukan riset dan menulis buku tentang mutiara setebal 401 halaman tersebut. Meski memiliki bekal ilmu tentang perikanan dan kelautan, Rinda tidak pernah fokus mempelajari mutiara. Akhirnya, ia membuat kerangka buku dan melalukan riset mandiri untuk mendalami mutiara yang ada di Indonesia hingga di Jepang.
“Saya paham mutiara justru dari menulis karena proses risetnya memberikan saya ilmu,” kata Rinda.
Tak puas hanya dengan menuliskan buku dalam bahasa Indonesia, Rinda juga akan menulis buku ini dalam bahasa Inggris dan Jepang. Saat ini ia sedang dalam proses menulis buku yang berbahasa Jepang.
“Sekarang saya sedang menulis dalam bahasa Jepang. Tidak ada yang menceritakan mutiara Indonesia dalam bahasa Jepang,” ujarnya.
Baca Juga: Ingin Nulis Dapat Hadiah Buku dari Togamas? Mulai Sekarang Kirim Tulisan Anda ke Tugumalang
Menurutnya, hubungan antara Indonesia dan Jepang bukan hanya sekedar tentang tenaga kerja dan studi. Sejak seratus tahun yang lalu, Indonesia dan Jepang sudah memilik ikatan melalui mutiara.
Teknologi untuk budidaya mutiara di Indonesia pertama kali dipasok oleh perusahaan Jepang, Mikimoto di tahun 1920an. Teknologi tersebut masuk dengan dibantu perusahaan Mitsubishi.
“Jadi Mitsubishi yang pertama kali mendanai budidaya mutiara Indonesia di Baubau. Dari situlah kita mengenal mutiara dan budidaya mutiara,” jelas Rinda.
Peluncuran buku pertama karya Rinda ini disertai dengan diskusi yang dipandu oleh dosen Universitas Ma Chung, Wawan Eko Yulianto. Selain Rinda, diskusi ini juga diisi oleh ahli oseanografi perikanan dan dinamika ekosistem laut Universitas Brawijaya, Prof Aida Sartimbul dan aktris sekaligus pegiat usaha perhiasan, Happy Salma.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatimiko





























