Malang, Tugumalang.id – Di berbagai wilayah di Pulau Jawa, termasuk Malang dan sejumlah daerah di Jawa Timur, tradisi Bersih Desa masih rutin digelar oleh masyarakat hingga sekarang. Tradisi turun-temurun tersebut umumnya dilaksanakan setiap tahun. Sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, keselamatan, dan kesejahteraan desa.
Bersih Desa tidak sekadar menjadi ritual adat, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa yang tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman. Penelitian dari IAIN Kediri menyebutkan, tradisi Bersih Desa banyak ditemukan di wilayah Jawa Timur, sebagai wujud syukur masyarakat kepada Tuhan atas rezeki yang diperoleh.
Tradisi Bersih Desa Masih Dilestarikan Masyarakat
Dalam pelaksanaannya, Bersih Desa biasanya diawali dengan kerja bakti membersihkan lingkungan, jalan desa, sumber air, hingga makam leluhur. Setelah itu, masyarakat menggelar doa bersama atau selametan yang diikuti warga desa.
Di sejumlah daerah, tradisi tersebut juga dilengkapi kirab budaya, pagelaran wayang kulit, campursari, hingga pertunjukan seni tradisional lain yang menjadi hiburan masyarakat. Kehadiran berbagai pertunjukan itu membuat Bersih Desa tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya lokal.
Tradisi Bersih Desa juga memiliki nilai sosial yang kuat. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat berkumpul dan bekerja bersama tanpa memandang latar belakang sosial. Nilai gotong royong dan solidaritas antarwarga menjadi bagian penting yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Penelitian berjudul Analisis Nilai Sosial-Religius dalam Tradisi Bersih Desa di Desa Sonoageng Kabupaten Nganjuk yang dimuat dalam Jurnal TANDA: Kajian Budaya, Bahasa dan Sastra menjelaskan bahwa tradisi Bersih Desa mengandung nilai sosial-religius yang mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus memperkuat kebersamaan warga desa.
Baca juga: Menyelami Keagungan Tradisi Suro di Malang, Antara Sakral dan Kebersamaan
Makna Bersih Desa bagi Masyarakat Jawa
Sebagian masyarakat Jawa juga memaknai Bersih Desa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penjaga desa atau danyang. Karena itu, pelaksanaannya sering dilakukan pada waktu tertentu dalam kalender Jawa, seperti bulan Suro atau setelah musim panen selesai.
Dalam kajian mengenai tradisi Bersih Desa di lereng Gunung Bromo, disebutkan masyarakat masih menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui ritual tersebut.
Di Malang sendiri, tradisi Bersih Desa masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah dan masyarakat tetap melaksanakannya secara rutin. Terkait ritual bersih dea di Dinoyo, penelitian UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyebutkan, masyarakat tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari warisan budaya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maura Sampetoding/Magang
redaktur: jatmiko





























