Tugumalang.id – Tradisi ater-ater atau kebiasaan berbagi makanan atau hantaran kepada keluarga, tetangga, maupun orang yang dituakan. Tradisi ini masih banyak dijumpai di sejumlah daerah di Jawa, terutama menjelang Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi, hingga acara syukuran keluarga.
Secara sederhana, ater-ater berasal dari kata dalam bahasa Jawa “angateri” yang berarti mengantar. Dalam praktiknya, masyarakat mengirimkan makanan, jajanan, atau kebutuhan pokok sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada orang lain.
Tradisi ini bukan sekadar memberi makanan, melainkan juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat. Tradisi ater-ater telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.
Baca Juga: Konvoi Kendaraan Listrik PLN UP3 Malang, Akselerasi Nyata Transisi Energi Bersih di Jawa Timur
Biasanya, hantaran diberikan kepada keluarga yang lebih tua, tetangga dekat, kerabat, maupun tokoh masyarakat. Isi hantaran pun beragam, mulai dari nasi lengkap dengan lauk-pauk, kue tradisional, hingga bahan kebutuhan sehari-hari seperti gula, minyak, dan teh.
Dalam budaya Jawa, tradisi ini memiliki makna mendalam. Ater-ater dipandang sebagai simbol kepedulian, rasa syukur, serta bentuk penghormatan kepada sesama.
Selain itu, budaya berbagi ini dipercaya mampu menjaga keharmonisan hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Tidak heran jika tradisi tersebut masih dipertahankan meskipun gaya hidup masyarakat terus berubah.
Menurut penjelasan dalam artikel budaya yang diterbitkan oleh Budaya Indonesia, ater-ater umumnya dilakukan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Tradisi ini juga kerap dibarengi dengan kegiatan ziarah kubur atau nyekar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Dalam pelaksanaannya, generasi muda biasanya mendatangi rumah keluarga yang lebih tua sambil membawa hantaran makanan maupun sembako.
Sementara itu, tradisi serupa juga berkembang di beberapa wilayah lain dengan penyebutan berbeda, seperti “ter-ater” di Madura dan kawasan tapal kuda Jawa Timur.
Baca Juga: Pesona Tradisi Lebaran di Malang: Warna-Warni Idul Fitri yang Tak Lekang Zaman
Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman menyebutkan bahwa tradisi ter-ater tidak hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat karena meningkatkan aktivitas perdagangan makanan dan kebutuhan rumah tangga menjelang hari besar.
Nilai filosofis dalam tradisi ater-ater juga tercermin dari makanan yang dibawa. Dalam penjelasan program budaya RRI, beberapa jenis makanan memiliki makna simbolis, seperti nasi putih yang melambangkan kesucian hati, lauk-pauk sebagai ungkapan rasa syukur, dan apem yang identik dengan permohonan maaf.
Di sejumlah daerah, tradisi ini bahkan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Warga saling mengirim makanan kepada tetangga dan nantinya akan saling membalas hantaran tersebut pada kesempatan lain. Pola timbal balik ini menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat dan mempererat hubungan antartetangga.
Meski terlihat sederhana, ater-ater menyimpan pesan sosial yang relevan hingga saat ini. Tradisi tersebut mengajarkan pentingnya berbagi, menjaga silaturahmi, dan memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.
Di era digital ketika komunikasi banyak dilakukan melalui layar, tradisi seperti ater-ater menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia tetap membutuhkan kehangatan dan perhatian secara langsung.
Pelestarian tradisi lokal seperti ater-ater juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Indonesia. Generasi muda memiliki peran besar untuk mengenal, memahami, dan meneruskan kebiasaan baik tersebut agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Dengan mempertahankan budaya berbagi seperti ater-ater, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga merawat nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan sosial di tanah Jawa.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maura Sampetoding/ Magang
Editor: Herlianto. A





























