Sabtu, Mei 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Budaya

Tradisi Ater-Ater, Warisan Budaya Jawa Menjaga Hangatnya Silaturahmi

Redaksi by Redaksi
Mei 27, 2026 9:56 am
in Budaya
Ilustrasi tradisi ater-ater di Jawa. (Foto: Instagram/ @perpusipkabtegal)

Ilustrasi tradisi ater-ater di Jawa. (Foto: Instagram/ @perpusipkabtegal)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Tradisi ater-ater atau kebiasaan berbagi makanan atau hantaran kepada keluarga, tetangga, maupun orang yang dituakan. Tradisi ini masih banyak dijumpai di sejumlah daerah di Jawa, terutama menjelang Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi, hingga acara syukuran keluarga.

Secara sederhana, ater-ater berasal dari kata dalam bahasa Jawa “angateri” yang berarti mengantar. Dalam praktiknya, masyarakat mengirimkan makanan, jajanan, atau kebutuhan pokok sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada orang lain.

READ ALSO

Tradisi Bersih Desa Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi Masyarakat Jawa

Pemkot Batu Perluas Pendataan Objek Cagar Budaya di 2026, Ada Bunker Jepang hingga Situs Petirtaan

Tradisi ini bukan sekadar memberi makanan, melainkan juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat. Tradisi ater-ater telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.

Baca Juga: Konvoi Kendaraan Listrik PLN UP3 Malang, Akselerasi Nyata Transisi Energi Bersih di Jawa Timur

Biasanya, hantaran diberikan kepada keluarga yang lebih tua, tetangga dekat, kerabat, maupun tokoh masyarakat. Isi hantaran pun beragam, mulai dari nasi lengkap dengan lauk-pauk, kue tradisional, hingga bahan kebutuhan sehari-hari seperti gula, minyak, dan teh.

Dalam budaya Jawa, tradisi ini memiliki makna mendalam. Ater-ater dipandang sebagai simbol kepedulian, rasa syukur, serta bentuk penghormatan kepada sesama.

Selain itu, budaya berbagi ini dipercaya mampu menjaga keharmonisan hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Tidak heran jika tradisi tersebut masih dipertahankan meskipun gaya hidup masyarakat terus berubah.

Menurut penjelasan dalam artikel budaya yang diterbitkan oleh Budaya Indonesia, ater-ater umumnya dilakukan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Tradisi ini juga kerap dibarengi dengan kegiatan ziarah kubur atau nyekar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Dalam pelaksanaannya, generasi muda biasanya mendatangi rumah keluarga yang lebih tua sambil membawa hantaran makanan maupun sembako.

Sementara itu, tradisi serupa juga berkembang di beberapa wilayah lain dengan penyebutan berbeda, seperti “ter-ater” di Madura dan kawasan tapal kuda Jawa Timur.

Baca Juga: Pesona Tradisi Lebaran di Malang: Warna-Warni Idul Fitri yang Tak Lekang Zaman

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman menyebutkan bahwa tradisi ter-ater tidak hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat karena meningkatkan aktivitas perdagangan makanan dan kebutuhan rumah tangga menjelang hari besar.

Nilai filosofis dalam tradisi ater-ater juga tercermin dari makanan yang dibawa. Dalam penjelasan program budaya RRI, beberapa jenis makanan memiliki makna simbolis, seperti nasi putih yang melambangkan kesucian hati, lauk-pauk sebagai ungkapan rasa syukur, dan apem yang identik dengan permohonan maaf.

Di sejumlah daerah, tradisi ini bahkan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Warga saling mengirim makanan kepada tetangga dan nantinya akan saling membalas hantaran tersebut pada kesempatan lain. Pola timbal balik ini menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat dan mempererat hubungan antartetangga.

Meski terlihat sederhana, ater-ater menyimpan pesan sosial yang relevan hingga saat ini. Tradisi tersebut mengajarkan pentingnya berbagi, menjaga silaturahmi, dan memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.

Di era digital ketika komunikasi banyak dilakukan melalui layar, tradisi seperti ater-ater menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia tetap membutuhkan kehangatan dan perhatian secara langsung.

Pelestarian tradisi lokal seperti ater-ater juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Indonesia. Generasi muda memiliki peran besar untuk mengenal, memahami, dan meneruskan kebiasaan baik tersebut agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Dengan mempertahankan budaya berbagi seperti ater-ater, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga merawat nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan sosial di tanah Jawa.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Maura Sampetoding/ Magang

Editor: Herlianto. A

Tags: Budaya Indonesiabudaya jawaBudaya Lokaljawa timurSilaturahmitradisi ater-atertradisi nusantara

Related Posts

Tradisi bersih desa
Budaya

Tradisi Bersih Desa Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi Masyarakat Jawa

Kamis, 28 Mei 2026
Ilustrasi Wamen Kebudayaan RI Giring Ganesha saat mengunjungi objek cagar budaya Villa Bima Shakti di Selecta Kota Batu. Foto: Azmy
Budaya

Pemkot Batu Perluas Pendataan Objek Cagar Budaya di 2026, Ada Bunker Jepang hingga Situs Petirtaan

Selasa, 12 Mei 2026
Fakta menarik busana khas Malangan yang diluncurkan pada rangkaian HUT ke-112 Kota Malang sebagai identitas baru. /Foto: Instagram @pemkotmalang
Budaya

Identitas Budaya Baru, 8 Fakta Menarik Busana Khas Malangan yang Perlu Diketahui

Senin, 6 Apr 2026
Pertunjukan di rumah kelahiran Shakespeare. Foto: Shakespeare's Birthplace
Budaya

Sastrawan di Inggris, Menyusuri Jejak Sastra Klasik di Negeri Matahari Tak Pernah Tenggelam

Selasa, 31 Mar 2026
Ilustrasi Lepet ketan lacang merah yang dibungkus dengan janur dan tali rafia (Foto: Pinterest @Rien_Borneo)
Budaya

Ini 5 Macam Varian Lepet Pendamping Ketupat yang Tidak Boleh Terlewat

Minggu, 29 Mar 2026
Kuburan Londo, Kota Malang. (Foto/M Sholeh)
Budaya

Wisata Sejarah Kuburan Londo Malang yang Mulai Redup

Selasa, 24 Mar 2026
Next Post
Cara Aman Mengonsumsi Olahan Daging saat Idul Adha (Foto: Pexels)

Mengapa Tubuh Bisa Lemas setelah Makan Daging Kurban? Ini Penjelasan dr. Indra Gunawan

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.