Jumat, Agustus 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Budaya

Tradisi Ater-Ater, Warisan Budaya Jawa Menjaga Hangatnya Silaturahmi

Redaksi by Redaksi
Mei 27, 2026 9:56 am
in Budaya
Ilustrasi tradisi ater-ater di Jawa. (Foto: Instagram/ @perpusipkabtegal)

Ilustrasi tradisi ater-ater di Jawa. (Foto: Instagram/ @perpusipkabtegal)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Tradisi ater-ater atau kebiasaan berbagi makanan atau hantaran kepada keluarga, tetangga, maupun orang yang dituakan. Tradisi ini masih banyak dijumpai di sejumlah daerah di Jawa, terutama menjelang Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi, hingga acara syukuran keluarga.

Secara sederhana, ater-ater berasal dari kata dalam bahasa Jawa “angateri” yang berarti mengantar. Dalam praktiknya, masyarakat mengirimkan makanan, jajanan, atau kebutuhan pokok sebagai bentuk perhatian dan penghormatan kepada orang lain.

READ ALSO

5 Tempat Belajar Membatik di Malang, Cocok untuk Pelajar hingga Wisatawan

Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan

Tradisi ini bukan sekadar memberi makanan, melainkan juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat. Tradisi ater-ater telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.

Baca Juga: Konvoi Kendaraan Listrik PLN UP3 Malang, Akselerasi Nyata Transisi Energi Bersih di Jawa Timur

Biasanya, hantaran diberikan kepada keluarga yang lebih tua, tetangga dekat, kerabat, maupun tokoh masyarakat. Isi hantaran pun beragam, mulai dari nasi lengkap dengan lauk-pauk, kue tradisional, hingga bahan kebutuhan sehari-hari seperti gula, minyak, dan teh.

Dalam budaya Jawa, tradisi ini memiliki makna mendalam. Ater-ater dipandang sebagai simbol kepedulian, rasa syukur, serta bentuk penghormatan kepada sesama.

Selain itu, budaya berbagi ini dipercaya mampu menjaga keharmonisan hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Tidak heran jika tradisi tersebut masih dipertahankan meskipun gaya hidup masyarakat terus berubah.

Menurut penjelasan dalam artikel budaya yang diterbitkan oleh Budaya Indonesia, ater-ater umumnya dilakukan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Tradisi ini juga kerap dibarengi dengan kegiatan ziarah kubur atau nyekar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Dalam pelaksanaannya, generasi muda biasanya mendatangi rumah keluarga yang lebih tua sambil membawa hantaran makanan maupun sembako.

Sementara itu, tradisi serupa juga berkembang di beberapa wilayah lain dengan penyebutan berbeda, seperti “ter-ater” di Madura dan kawasan tapal kuda Jawa Timur.

Baca Juga: Pesona Tradisi Lebaran di Malang: Warna-Warni Idul Fitri yang Tak Lekang Zaman

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman menyebutkan bahwa tradisi ter-ater tidak hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat karena meningkatkan aktivitas perdagangan makanan dan kebutuhan rumah tangga menjelang hari besar.

Nilai filosofis dalam tradisi ater-ater juga tercermin dari makanan yang dibawa. Dalam penjelasan program budaya RRI, beberapa jenis makanan memiliki makna simbolis, seperti nasi putih yang melambangkan kesucian hati, lauk-pauk sebagai ungkapan rasa syukur, dan apem yang identik dengan permohonan maaf.

Di sejumlah daerah, tradisi ini bahkan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Warga saling mengirim makanan kepada tetangga dan nantinya akan saling membalas hantaran tersebut pada kesempatan lain. Pola timbal balik ini menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat dan mempererat hubungan antartetangga.

Meski terlihat sederhana, ater-ater menyimpan pesan sosial yang relevan hingga saat ini. Tradisi tersebut mengajarkan pentingnya berbagi, menjaga silaturahmi, dan memperkuat solidaritas di tengah masyarakat.

Di era digital ketika komunikasi banyak dilakukan melalui layar, tradisi seperti ater-ater menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia tetap membutuhkan kehangatan dan perhatian secara langsung.

Pelestarian tradisi lokal seperti ater-ater juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Indonesia. Generasi muda memiliki peran besar untuk mengenal, memahami, dan meneruskan kebiasaan baik tersebut agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Dengan mempertahankan budaya berbagi seperti ater-ater, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga merawat nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas kehidupan sosial di tanah Jawa.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Maura Sampetoding/ Magang

Editor: Herlianto. A

Tags: Budaya Indonesiabudaya jawaBudaya Lokaljawa timurSilaturahmitradisi ater-atertradisi nusantara

Related Posts

5 Tempat Belajar Membatik di Malang, Cocok untuk Pelajar hingga Wisatawan
Budaya

5 Tempat Belajar Membatik di Malang, Cocok untuk Pelajar hingga Wisatawan

Senin, 20 Jul 2026
Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan
Budaya

Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan

Rabu, 15 Jul 2026
3 Alasan Generasi Muda Memilih Belanja Thrifting 
Budaya

3 Alasan Generasi Muda Memilih Belanja Thrifting 

Jumat, 3 Jul 2026
Aktivitas memutar vinyl wajib jadi itinerary wisatamu di Museum Musik Dunia Jatim Park 3. Foto: Dok
Budaya

List Itinerary Liburan di Kota Batu, Museum Musik Dunia Jatim Park 3 Hadirkan ‘Vinyl Experience

Kamis, 25 Jun 2026
Anjali dan Hal yang Tidak Kembali
Budaya

Anjali dan Hal yang Tidak Kembali

Minggu, 21 Jun 2026
Warga mengarak jolen berisi tumpeng di Gebyar Ritual 1 Suro. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Budaya

Meriah! Gebyar Ritual 1 Suro 2026 di Gunung Kawi Libatkan 1.000 Warga Desa Wonosari

Selasa, 16 Jun 2026
Next Post
Cara Aman Mengonsumsi Olahan Daging saat Idul Adha (Foto: Pexels)

Mengapa Tubuh Bisa Lemas setelah Makan Daging Kurban? Ini Penjelasan dr. Indra Gunawan

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.