Tugumalang.id – CEO SIRCLO, Brian Marshal mengupas perjalanannya dalam membangun bisnis digital atau startup yang dimulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Perjalanan itu ulas dalam seminar interaktif bertajuk “TirAI Inovasi: Menyingkap Masa Depan Startup di Era Kecerdasan Artifisial” yang digelar di Malang Creative Center (MCC), Kota Malang pada Kamis (9/10/2025).
Dihadapan ratusan peserta seminar, Brian Marshal mengungkap perjalanannya dalam membangun perusahaan teknologi e-commerce.
Keikutsertaannya dalam ajang OSN saat masih pelajar menjadi titik balik kariernya. Satu pelajaran berharga yang ia paparkan adalah soal kepemimpinan.
Baca Juga: Sukses Helat UNISCON 2022, Kompetisi HMPS Fisika Unikama Diikuti Puluhan Peserta Nasional
“Dalam hal kepemimpinan, saya memulai dari belajar memimpin diri sendiri. Misalnya di sekolah atau di OSN. Kemudian di dunia kerja memimpin tim. Disitu ada perubahan bagaimana dari fokus hard skill ke soft skill,” ucapnya.

“Kemudian setelah dipercaya untuk mengemban tanggungjawab yang lebih besar, akan ada tantangan untuk memimpin perubahan besar. Jadi dari memimpin diri sendiri menjadi memimpin suatu perubahan besar,” sambungnya.
Soal perubahan besar, kata Brian, seorang pemimpin harus bisa berkomunitas di berbagai lintas sektor. Tujuannya, agar mampu memahami banyak sudut pandang sehingga bisa memetakan peluang besar bahkan mampu melihat tren masa depan.
Lebih jauh, ia juga mengurai soal tantangan bisnis digital masa depan seiring perkembangan Artificial Intelligence (AI).
Baca Juga: Cerita Finalis EKKA OSN 2025, Jauh-jauh Dari Bitung Sulawesi Utara hingga Misi Revenge Pembuktian Diri
Dia memandang AI memang telah membawa perubahan besar di dunia teknologi digital. Namun ia menekankan teknologi AI tak akan bisa menggantikan peran manusia secara fundamental.
“Jadi yang jadi tantangan itu adalah manusia bukan versus teknologi atau AI. Tapi adalah bagaimana manusia mampu mengusasi teknologi dengan baik dibandingkan manusia lain. Tentu bagi perusahaan yang berbasis digital, juga perlu menguasai perkembangan AI,” tuturnya.
Tantangan selanjutnya adalah soal stabilitas finansial. Menurutnya, bisnis digital atau startup tak boleh terus bergantung pada pendanaan dari investor. Dikatakan, banyak startup yang bertumbangan lantaran tak bisa menjaga stabilitas fondasi finansialnya.
“Pada akhirnya, menurut saya kembali lagi pada fundamental usaha. Jadi ukurannya bukan sebesar apa investasi yang didapat, tetapi seberapa besar omzetnya,” kata dia.
Di sisi lain, ia juga mengajak generasi muda untuk tidak minder dengan potensi diri. Belajar kepemimpinan, memperluas wawasan dan berpikir jauh ke depan adalah kunci meraih mimpi.
“Jangan pernah minder. Perbanyak wawasan, kembangkan hard skill dan soft skill, lalu pantau perkembangan zaman. Terpenting latih jiwa kepemimpinan untuk perubahan besar masa depan,” tandasnya.
Sebagai informasi, seminar TirAI Inovasi 2025 yang digelar di MCC diikuti rarusan peserta berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, guru, UMKM, pelaku sturtup, profesional teknologi hingga masyarakat umum.
Event kolaborasi antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Garuda Spark Innovation Hub, Radyalabs, dan Alkademi itu menjadi ajang penting untuk mengeksplorasi teknologi AI dalam mempercepat perkembangan bisnis.
Seminar ini tak hanya menekankan pemahaman teknis, tetapi juga strategi dan inovasi relevan dengan kebutuhan masa kini.
Event ini juga menjadi momentum emas untuk menyiapkan generasi startup yang adaptif dengan perubahan teknologi yang begitu pesat. Kemudian juga mendorong lahirnya inovasi yang berdampak positif bagi ekonomi digital di Indonesia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























