Oleh: Dr. Ahmad Syaifudin, S.H., M.H*
Tugumalang.id – 10 Muharam, yang dikenal sebagai Hari Asyura, adalah salah satu hari paling mulia dalam kalender Islam. Kata Asyura berasal dari bahasa Arab “’asyarah” yang berarti sepuluh, merujuk pada hari ke-10 bulan Muharam.
Hari ini memiliki makna spiritual yang sangat tinggi banyak peristiwa yang terjadi pada 10 Muharam dalam catatan sejarah misalnya, diciptakan oleh Allah dan taubatnya Nabi Adam diterima setelah diturunkan ke bumi.
Berlabuhnya Kapal Nabi Nuh dengan selamat di Bukit Zuhdi setelah banjir besar, diselamatkannya Nabi Ibrahim AS dari api Raja Namrud, dibebaskan Nabi Yusuf AS dari penjara Mesir setelah difitnah oleh istri raja.
Baca Juga: Peringatan 10 Muharam 1444 H, FEB Unisma Santuni 200 Yatim Piatu Duafa
Kemudian, dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari perut ikan besar setelah bertaubat kepada Allah, disembuhkannya Nabi Ayyub AS dari penyakit berat yang dideritanya bertahun-tahun, diselamatkannya Nabi Musa AS bersama Bani Israil dari kejaran Firaun (laut terbelah dan Firaun tenggelam), diikembalikannya kerajaan Nabi Sulaiman AS oleh Allah setelah diuji, diangkatnya ke langit Nabi Isa AS oleh Allah.
Karenanya Nabi Muhammad SA menganjurkan puasa Asyura sebagai bentuk syukur dan mengenang keselamatan para nabi sebelumnya.
Hari Asyura juga menjadi momen untuk introspeksi, memperkuat iman, serta memperbanyak amal kebaikan. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada hari ini, dengan harapan puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.
Bulan Muharam, khususnya hari ke-10, sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan baik. Banyak kitab klasik yang memuat amalan-amalan khusus di bulan ini, di antaranya I’anatut Thalibin, Kanzun al-Najah wa al-Surur, dan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Baca Juga: Suro: Antara Tradisi dan Religi
Berikut adalah amalan-amalan yang dianjurkan dalam kitab-kitab klasik selama bulan Muharam; 1) Puasa Asyura disunahkan berpuasa pada 10 Muharam, bahkan dianjurkan juga pada 9 dan 11 Muharam (puasa Tasu’a dan Asyura).
2) salat sunah malam dan salat tasbih di malam Asyura, 3) menyambung tali persaudaraan dan mempererat hubungan keluarga serta sesama muslim, 4) mengunjungi para ulama dan orang saleh sebagai bentuk penghormatan dan mencari keberkahan.
5) menjenguk rang akit menunjukkan kepedulian sosial dan meneladani akhlak Rasulullah SAW, 6) mengusap kepala anak yatim dengan memuliakan dan menyantuni anak yatim, 7) memberikan sedekah kepada yang membutuhkan, terutama anak yatim dan fakir miskin, 8) mandi, 9) memakai celak mata guna menjaga kebersihan dan kesehatan, serta mengikuti sunnah,
10) meluaskan belanja kepada keluarga pada hari Asyura, dengan harapan Allah akan melapangkan rezeki sepanjang tahun, 11) memotong kuku, 12) membaca Surat Al-Ikhlas 1.000 Kali (I’anatut Thalibin dan Kanzun al-Najah wa al-Surur).
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin meriwayatkan keutamaan puasa tiga hari di bulan-bulan haram (termasuk Muharam), yaitu Kamis, Jumat, dan Sabtu, yang pahalanya setara ibadah 700 tahun.
Selain aspek ibadah, amalan-amalan di bulan Muharam juga mengandung nilai sosial yang tinggi, seperti menyantuni anak yatim, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak sedekah. Semua ini bertujuan untuk menumbuhkan empati, kepedulian, dan memperbaiki hubungan antarsesama manusia.
Di falsafah kehidupan Jawa “Asyura” dikenal dengan istilah “Suro”, merujuk pada tanggal 10 Muharam. Sinkronisasi antara kalender Saka (Hindu) dan kalender Hijriah terjadi pada masa Sultan Agung Mataram, yang menetapkan 1 Suro sebagai awal tahun Jawa bertepatan dengan 1 Muharam.
Sejak itu, perayaan-perayaan tradisional Jawa dapat berjalan seiring dengan peringatan hari-hari besar Islam. Masyarakat Jawa memandang bulan Suro sebagai bulan sakral dan penuh aura magis.
Malam Satu Suro (1 Muharam) diyakini sebagai malam keramat, di mana gerbang alam gaib terbuka dan roh leluhur turun untuk memberikan berkah dan perlindungan.
Tradisi ini menjadi sarana refleksi diri, syukur, dan permohonan keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Nilai-nilai spiritual ini diwujudkan dalam berbagai ritual dan larangan, seperti tidak mengadakan pesta atau hajatan besar selama bulan Suro, sebagai bentuk penghormatan dan keprihatinan, terutama terkait tragedi Karbala yang menimpa cucu Nabi Muhammad SAW.
Tradisi di masyarakat Jawa selama bulan Suro yang berkembang sebagai bentuk akulturasi budaya yaitu; 1) penyajian bubur Asyura secara gotong royong di masjid atau mushola, sebagai simbol solidaritas, kebersamaan, dan syukur.
Bubur ini juga menjadi media berbagi rezeki dan mempererat hubungan sosial, 2) menyantuni anak yatim, mengadakan pengajian, dan makan bersama sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian sosial;
3) malam Satu Suro diisi dengan tirakatan, doa bersama, dan ritual tapa bisu (berdiam diri tanpa bicara) untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
4) ritual melarung sesaji ke sungai atau laut, serta memandikan pusaka (keris dan benda keramat) sebagai simbol pembersihan diri dan harapan keselamatan, 5) di beberapa daerah seperti Solo dan Yogyakarta, digelar kirab budaya yang melibatkan masyarakat dan keraton, memperkuat identitas budaya dan spiritualitas Jawa.
Bulan Suro dimaknai sebagai waktu untuk muhasabah (evaluasi diri), menahan diri dari hawa nafsu, serta memperbanyak doa dan amal baik.
Tradisi ini menekankan pentingnya harmoni antara ajaran Islam dan kearifan lokal, di mana nilai-nilai syariat diakulturasi dengan budaya Jawa tanpa menghilangkan esensi ajaran agama dalam proses internalisasi ajaran yang dapat menguatkan kharakter perilaku akhlakul karimah yang tercermin dalam wujud sikap manusia berbudi luhur, menjunjung tinggi adab dengan karakter sopan dan rendah hati, jujur, suka menolong, dapat membedakan benar dan salah, meyakini hidup itu harus bermanfaat (urip iku urup), tetap mawas diri walau dalam kondisi apapun (Jroning suko kudhu eling lan waspodo), hilangnya sikap sombong dan meyakini yang benar akan benar dan yang salah akan terlihat salah serta ujungnya adalah kebermanfaat untuk semua makhluk sebagai ajaran hakikinya (Memayu Hayuning Bawono/Khoirun nas anfa’uhum linnas).
Melihat tradisi jawa dan ajaran islam dengan amalan selama Muharamnya adalah contoh nyata harmonisasi nilai Islam dan tradisi lokal.
Melalui berbagai ritual dan tradisi, masyarakat Jawa tidak hanya melestarikan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat spiritualitas, solidaritas sosial, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Bulan Suro menjadi waktu sakral yang mengajak masyarakat untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan mempererat kebersamaan dalam bingkai kearifan lokal dan nilai-nilai Islam.
Muharam harus dapat digunakan menjadi momentum penuh hikmah untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan meneladani perjuangan para nabi untuk menjadikan kehidupan manusia yang lebih baik dan bermakna.
*Penulis adalah dosen FH Unisma Juga Koordinator Bidang Politik & Pemerintahan PW Ansor Jatim
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





























