Oleh: Jatmiko, Redaktur Tugumalang.id
Tugumalang.id – Mari kita tepuk tangan—bukan hanya untuk otot dada para binaragawan Kabupaten Malang yang tegap dan penuh definisi itu, tapi juga untuk kekuatan tekad mereka yang ditopang oleh ayam tiren.
Iya, Anda tidak salah baca. Di balik gemerlap medali emas dan pose-pose gagah di atas panggung Porprov Jatim 2025, ada kisah heroik nan getir soal logistik protein yang jauh dari kata ideal.
Alih-alih dada ayam segar yang berkilau di etalase supermarket, mereka memilih versi hemat: ayam tiren, alias ayam yang “sudah lebih dulu pergi” sebelum sempat bertemu penggorengan.
Baca Juga: Uang Habis, Atlet Binaraga Kabupaten Malang Kembali Makan Ayam Tiren
Tapi, jangan buru-buru jijik. Menurut atlet binaraga Salsa Hafidz Firmansyah, rasa ayam tiren tak jauh beda dengan ayam segar. Hanya warnanya saja yang, yah… sedikit lebih merah. Mungkin itu semacam “blush on alami”, siapa tahu.
Di tengah harga dada ayam yang melonjak hingga Rp45 ribu per kilogram, para atlet ini memilih beli grosiran ayam tiren—tiga karung seharga Rp100 ribu. Dari situ, mereka menyelamatkan bagian dada ayam yang “masih kelihatan hidup” demi satu hal: mempertahankan massa otot dan mimpi juara.
Dan seperti di sinetron-sinetron penuh drama, perjuangan itu berbuah manis. Kabupaten Malang sukses mempertahankan gelar juara umum cabang binaraga untuk ketiga kalinya.
Baca Juga: Cerita Atlet Binaraga Kabupaten Malang Makan Ayam Tiren Selama Sebulan
Total enam medali diraih: tiga emas, satu perak, dua perunggu. Semua dari otot-otot yang barangkali tumbuh berkat “protein diskonan”.
Kemenangan ini jelas bukan semata karena genetika unggul atau latihan keras. Ini juga soal bagaimana kreativitas dapur bisa jadi senjata. Tentu, kita harus bertanya: mengapa sampai atlet harus makan ayam yang bahkan tak lolos uji nyawa?
Ketua PBFI Kabupaten Malang, Indra Khusnul, dengan nada penuh harap (dan mungkin sedikit lelah), meminta agar pemerintah daerah tidak tutup mata. Ini sudah tahun ketiga mereka juara umum. Bukan waktunya lagi prestasi mereka di-backup dengan kantong pribadi dan karung ayam tak bernyawa.
Karena jujur saja, kalau jalan menuju podium masih diaspal dengan dana talangan sendiri, jangan heran kalau suatu saat nanti mereka bukan cuma beli ayam tiren, tapi mungkin… ternak sendiri?
Mari kita angkat topi untuk para atlet yang membuktikan bahwa semangat juara tidak harus mahal. Tapi ya, masa iya negara segede ini, pahlawan olahraganya masih harus beli ayam expired demi medali?
Semoga ke depan, bantuan dana tak lagi datang after dead chicken, tapi justru sebelum semangat para atlet ikut ‘tiren’.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A





























