Tugumalang.id – Wajah sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Batu, Jawa Timur mengalami transformasi masif di 1 tahun pertama kepemimpinan duet ‘Mbatu Sae’, Nurochman – Heli Suyanto. Berbagai upaya rigid dari hulu hingga hilir dilakukan hingga membuat grafik pertumbuhannya melonjak signifikan.
Figur putra daerah Nurochman – Heli terbukti mampu membawa pendekatan lokalistik namun progresif terhadap para pelaku UMKM. Sejak awal, keduanya sepakat bahwa UMKM merupakan tulang punggung yang nyata bagi perekonomian daerah.
Sebab itu, sejak awal memimpin, Nurochman-Heli dengan mengusung visi Mbatu Sae (Madani, Berkelanjutan, Agrokreatif, Terpadu, Unggul, Sinergi, Akomodatif, dan Ekologis) ini langsung tancap gas dengan memulai mengubah pola pikir pelaku UMKM dari sekadar ‘bertahan hidup’ menjadi ‘pelaku industri’.
Baca Juga: Pemkot Batu Dukung Implementasi Pidana Kerja Sosial Bagi Narapidana Tipiring
Sebab itu, pemberdayaan UMKM bukan lagi sekadar bantuan modal, melainkan transformasi ekosistem usaha berkelanjutan. Dalam satu tarikan nafas mewujudkan itu juga ditekankan kunci kedaulatan ekonomi berangkat dari asas kolaborasi, bukan kompetisi.

”UMKM bukan sekadar pelaku ekonomi skala kecil. Mereka adalah tulang punggung pergerakan ekonomi daerah yang nyata. Kami berkomitmen merawat keberlanjutannya, termasuk membawa mereka naik kelas ke panggung dunia,” ungkapnya, Rabu (4/3/2026).
Sejumlah strategi utama UMKM menuju naik kelas, Pemkot Batu melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu telah menyiapkan roadmap atau peta jalan untuk memastikan produk lokal Batu mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.
Dalam visi Mbatu Sae, strategi utamanya fokus pada tiga pilar yakni Digitalisasi, Standarisasi Mutu, dan Perluasan Jejaring Pasar. Berikut adalah poin-poin krusial capaian Pemkot Batu di bidang UMKM dalam setahun terakhir:
1. Digitalisasi dan Akses Pasar Global
Nurochman – Heli menyadari bahwa kendala utama UMKM Batu hingga saat ini adalah pemasaran yang masih konvensional.
– Program Batu Go Digital
Dalam setahun terakhir, program ini telah berhasil memfasilitasi lebih dari 1.500 pelaku UMKM untuk masuk ke ekosistem marketplace dan media sosial. Selain itu, mereka juga mengoptimalkan platform digital lokal dan khusus untuk produk asli Batu guna memutus rantai tengkulak.
Baca Juga: Pemkot Batu Percepat Kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Dapur MBG di 2026
Inisiasi program tersebut juga masih ditunjang dengan menghadirkan Creative Hub di masing-masing kecamatan. Wadah ini menyediakan fasilitas studio foto produk, pengemasan (packaging), dan pendampingan content creator gratis untuk membantu UMKM “bersolek” di media sosial.
– Penguatan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT)
Penguatan kapasitas UMKM juga masih diperkuat lewat PLUT yang kini sudah direvitalisasi menjadi co-working space dan pusat inkubasi bisnis yang memberi pendampingan legalitas (NIB, Halal, PIRT) secara gratis dan cepat.

Program terbaru di PLUT adalah program 365 UP (UMKM Maju Bersama), program pendampingan terstruktur selama setahun penuh. Sejauh ini sudah ada 40 UMKM yang terpilih mendapat akses tersebut.
– Perluas Akses Pasar Global
Nurochman – Heli juga beberapa kali melakukan misi dagang ke sejumlah daerah untuk memperluas akses pasar global. Hasilnya, pada tahun ini, produk olahan apel dan keripik tempe khas Batu berhasil menembus pasar Singapura dan Malaysia berkat pendampingan standarisasi internasional.

2. Penguatan Legalitas dan Sertifikasi Gratis
Nurochman – Heli juga menata road map UMKM go global dengan memperkuat produk UMKM dari sisi legalitas dengan mempercepat proses sertifikasi bagi pelaku usaha lokal. Agar UMKM bisa naik kelas ke pasar ekspor atau ritel modern, standarisasi adalah kunci.
Sejauh ini, Pemkot Batu telah menerbitkan 2.000 lebih Sertifikat Halal secara gratis melalui skema self-declare. Mereka juga memfasilitasi percepatan NIB (Nomor Induk Berusaha) lewat skema jemput bola di tingkat desa/kelurahan agar UMKM memiliki payung hukum yang kuat untuk mengakses permodalan bank.
3. Integrasi UMKM dan Pariwisata
Dalam visi “Mbatu Sae”, Nurochman-Helo juga selalu menekankan sinergi antara memadukan keindahan alam dan produk lokal. Hal ini diimplementasikan melalui kebijakan baru yang mewajibkan hotel dan destinasi wisata di Kota Batu untuk menyediakan ruang display khusus produk UMKM lokal.

Tak hanya itu, Event Kalender Wisata yang disusun Dinas Pariwisata juga diintegrasikan dengan para pelaku UMKM. Kebijakannya di mana aetiap festival budaya dan pariwisata kini diintegrasikan dengan pasar rakyat yang tercatat meningkatkan omzet pelaku usaha kecil hingga 40% dibanding tahun sebelumnya.
4. Permudah Akses Modal Bunga Minim
Pemkot Batu juga memberi kemudahan akses permodalan berbasis komunitas. Melalui program ‘Kredit Usaha Masyarakat Batu’, pemerintah bekerja sama dengan perbankan daerah untuk menekan bunga pinjaman bagi pelaku UMKM yang ingin melakukan ekspansi produksi. Saat ini, bantuan tersebut sudah mulai tersalurkan ke 500 lebih pelaku usaha.
5. Target Goal Akhir Bangun Mall UMKM
Berbagai upaya yang dilakukan itu nantinya akan semakin paripurna dengan pembangunan Mall UMKM. Nurochman menuturkan Mall UMKM atau SAE Mall yang digagas akan menjadi ujung tombak hilirisasi UMKM yang terus digenjot dan semakin dikenal khalayak luas.
Gagasan pendirian mal UMKM telah masuk dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batu tahun 2025–2030.
Mall UMKM ditujukan sebagai wadah pengembangan usaha dari segi akses pemasaran yang lebih luas dan berkelanjutan bagi produk UMKM. Kehadiran Mall UMKM akan menumbuhkan gerakan cinta bela dan beli produk lokal.
”Semoga SAE Mall yang sedanh kita persiapkan bisa segera diwujudkan. Ini adalah bentuk nyata kehadiran dan keberpihakan pemerintah atas tumbuh kembang UMKM,” harapnya.
Selain itu juga masih ada banyak strategi turunan lain yang dilakukan seperti kebijakan Satu Desa, Satu Produk yang kini sudah mencapai progres 85 persen. Batik Kamulyan di Desa Bulukerto menjadi salah satu hasilnya.
Melihat berbagai kemajuan tersebut, ke depan Pemkot Batu mulai akan berfokus pada hilirisasi produk UMKM dengan melakukan industrialisasi bisnis skala rumah tangga.
Alih-alih hanya menjual apel atau sayur mentah, masyarakat didorong turut berinovasi dengan membuat diversifikasi produk turunan bernilai tambah tinggi seperti pasta, kosmetik berbahan organik, atau produk herbal.
Membangun Ekosistem ‘Sae’
Lebih lanjut, Nurochman menekankan komitmen keberlanjutannya dengan membangun ekosistem SAE. Istilah “Sae” merujuk pada arti baik yang harus tercermin dalam kualitas produk yang dihasilkan.
“Visi Mbatu Sae adalah tentang kualitas. Kita ingin produk UMKM Kota Batu punya identitas yang kuat. Jika orang ingat apel, ingat keripik, atau ingat bunga hias, mereka ingat kualitas terbaik dari Batu,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya.
Fokus ke depan adalah penguatan logistik melalui pembangunan gudang distribusi bersama untuk menekan biaya operasional UMKM, serta pengembangan ekonomi hijau (ekologis) sesuai nafas visi Mbatu Sae.
Dengan semakin bertumbuhnya jumlah UMKM yang mencapai puluhan ribu unit di Kota Batu, pemerintah optimistis bahwa penguatan sektor ekonomi kreatif dan UMKM akan menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan di tahun 2026.
Langkah strategis ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi warga Kota Batu, sejalan dengan semangat pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























