MALANG, Tugumalang.id – Sosok Roehana Koeddoes (1884 – 1972) atau yang kerap disapa dengan Ruhana Kuddus. Ia merupakan sosok penting dibalik tonggak awal pergerakan kaum perempuan di Indonesia.
Roehana Koeddoes dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia, pendidik, dan penggerak sosial dengan gagasannya terkait pendidikan dan emansipasi perempuan. Pemikiran ini menunjukkan bahwa sosoknya sebagai jurnalis perempuan, memiliki pemikiran yang jauh melampaui zamannya.
Karena saat itu, di era pemerintahan kolonial Hindia Belanda, kaum perempuan umumnya tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak dan dibatasi dalam ruang publik.
Baca Juga: Hampir 200 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Malang, Dinsos Masifkan Berani Speak Up
Dalam artikel ilmiah berjudul “Pers Perempuan dan Konstruksi Kesadaran Gender pada Masa Kolonial” yang ditulis Nabila dan Nurhayati dan dipublikasi di Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) tahun 2020. Sosok Roehana muncul di tengah keadaan yang sulit bagi kaum perempuan pada saat itu.

Melalui suara kritis, Roehana muncul menentang norma sosial patriarkal melalui tulisan dan kiprahnya dalam pendidikan.
Gagasan Pendidikan Perempuan sebagai Dasar Emansipasi
Salah satu fondasi utama pemikiran Roehana adalah bahwa pendidikan perempuan bukan sekadar hak, tetapi kebutuhan fundamental untuk mencapai kemandirian dan kesetaraan.
Walaupun tidak menerima pendidikan formal, Roehana dibimbing oleh ayahnya untuk membaca, menulis, dan mempelajari bahasa.
Kesadaran ini mendorongnya pada 11 Februari 1911 mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang, Sumatera Barat.
Sekolah ini membuka ruang bagi perempuan untuk belajar membaca dan menulis, kerajinan tangan, hingga keterampilan ekonomi yang selama ini hanya diasosiasikan dengan peran domestik semata.
Baca Juga: Lansia Perempuan Hilang 6 Hari, Ditemukan Tewas di Pinggir Sungai Ampelgading
Dengan menyediakan pendidikan yang menggabungkan kemampuan literasi dan keterampilan praktis, Roehana memperluas konsep pendidikan perempuan dari sekadar ilmu dasar menjadi alat pemberdayaan sosial dan ekonomi.

Hal ini mengoreksi pemahaman tradisional yang menempatkan pendidikan perempuan di bawah sekadar tanggung jawab rumah tangga (Silfia, Hanani: 2020).
Jurnalisme sebagai Instrumen Perubahan Sosial
Pemikiran Roehana berikutnya adalah bahwa media bukan sekadar alat informasi, tetapi juga alat perjuangan sosial. Pada 1912, Roehana mendirikan surat kabar Soenting Melajoe, sebuah media yang ditujukan khusus untuk perempuan dan dikelola oleh perempuan, dari pemimpin redaksi hingga penulisnya.
Surat kabar ini membawa gagasan bahwa perempuan memiliki suara dan pengalaman yang layak disampaikan kepada publik luas. Sesuatu yang masih jarang terjadi pada masa itu.
Lewat Soenting Melajoe, Roehana mengangkat isu-isu pendidikan perempuan, kesehatan, sosial, serta tantangan ketidaksetaraan gender.
Dengan motto “Dari, Oleh, dan Untuk Perempuan”, Roehana menempatkan media sebagai ruang dialog dan pemberdayaan perempuan, bukan sekadar peliputan berita. Ini merupakan langkah radikal pada era kolonial di mana media hampir seluruhnya dikuasai oleh kaum laki-laki.
Kritik Terhadap Struktur Sosial Patriarkal dan Kolonial
Pemikiran Roehana tidak hanya mendorong perempuan untuk belajar, tetapi juga mengkritik struktur sosial yang membatasi aktivitas dan pengakuan perempuan di ruang publik.
Melalui tulisan-tulisannya, Roehana sering memaparkan bagaimana perempuan diposisikan di bawah laki-laki, termasuk dalam akses pendidikan dan kesempatan berkarya serta menuntut perubahan.
Dalam konteks Minangkabau yang meskipun memiliki budaya matrilineal, akses pendidikan perempuan tetap rendah. Roehana memanfaatkan kekuatan media dan pendidikan untuk menantang stereotip tersebut.
Dengan menuliskan cerita perempuan lain di jurnal dan koran, ia memperlihatkan bahwa pengalaman perempuan patut mendapat perhatian serius.
Lebih jauh, Roehana memandang bahwa perjuangan perempuan juga berkaitan dengan perjuangan melawan struktur kolonial yang mengekang rakyat pribumi.
Tulisan-tulisan Roehana sering bersinggungan dengan gagasan nasionalisme dan kebangkitan bangsa, menunjukkan bahwa masalah gender tak bisa dipisahkan dari konteks sejarah kolonialisme.
Sebagaimana yang dipaparkan Nabila dan Nurhayati (2020) tentang Roehana Koeddoes dalam pers perempuan dan konstruksi kesadaran gender.
Memberdayakan Perempuan Lewat Pendidikan dan Ekonomi
Lebih dari sekadar pendidikan formal, Roehana juga melihat bahwa perempuan perlu memiliki kemampuan ekonomi sebagai bagian dari proses pembebasan.
Sekolah Kerajinan Amai Setia yang dirintisnya membuka peluang bagi perempuan untuk mengembangkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan secara komersial, seperti kerajinan tangan dan wirausaha.
Rahmi Ramayanti (2021) dalam artikel ilmiahnya berjudul Roehana Koeddoes’s Resistance to Dutch Colonialism in Belenggu Emas by Iksaka Banu, menyebut pemikiran Roehana tentang pemberdayaan perempuan adalah pemikiran yang holistik.
Pemikirannya mencakup pendidikan literasi, keterampilan teknis, dan kesadaran sosial, sehingga mereka tidak hanya bergantung pada peran domestik semata.
Roehana membangun komunitas perempuan yang saling mendukung, menguatkan keterampilan ekonominya, dan membangun jaringan sosial yang lebih luas.
Pendekatan ini menjadi cikal bakal prakarsa pemberdayaan ekonomi perempuan yang kemudian berkembang pada abad-abad berikutnya.
Warisan Pemikiran dan Pengaruhnya
Roehana Koeddoes tak hanya diakui sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai pionir yang membuka ruang bagi perempuan dalam dunia jurnalisme, pendidikan, dan publik.
Prestasinya diakui secara resmi lewat gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan pada 7 November 2019 oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Pemikirannya tentang pendidikan perempuan, media sebagai alat perubahan, dan pemberdayaan sosial tetap menginspirasi generasi modern dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan akses pendidikan.
Warisannya hidup dalam berbagai organisasi perempuan dan media yang terus memperjuangkan suara dan perspektif perempuan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























