Tugumalang.id – Tak ada yang menyangka, Rizal Bahri (32) yang merupakan lulusan SMK jurusan otomotif bisa menjadi penggerak industri Batik Eljava di Kabupaten Pekalongan dan membuka lapangan kerja bagi puluhan orang di kampung halamannya.
Pemilik Batik Eljava ini pun tak menyangka dirinya akan mengikuti jejak ibunya sebagai pembatik. Awalnya ia hanya iseng mengikuti pelatihan di Rumah Batik milik PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) untuk mengisi waktu sambil menunggu panggilan kerja di perusahaan otomotif.
Baca Juga: Batik Blimbing Tampilkan Keindahan Kota Malang di Atas Kain
Ternyata takdir membawanya menjadi pengusaha batik yang bisa menjual puluhan lembar batik tulis setiap bulannya. Dari rumah produksinya yang berada di Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Rizal kini memberdayakan lebih dari 50 pembatik.
Ikut pelatihan batik untuk mengisi waktu
Perjalanan Rizal bermula dari titik yang jauh dari dunia batik. Setelah lulus SMK, ia sempat menganggur selama 1–2 tahun sambil membantu orang tua di rumah dan mengikuti pengajian di sebuah yayasan.
Baca Juga: Mahasiswa PMM UMM Gelar Workshop Batik Decoupage Bersama Anak Panti Asuhan
Di yayasan tersebut, ia mendapat tawaran yang akan mengubah hidupnya, yakni mengikuti pelatihan batik gratis di Rumah Batik TBIG. Tawaran yang datang pada akhir tahun 2015 itu pun tak disia-siakan oleh Rizal.

“Karena saya belum punya pekerjaan dan saya orang Pekalongan yang awam batik, akhirnya saya ikut pelatihan dan mempelajari tentang batik di Rumah Batik TBIG,” kata Rizal saat ditemui di rumah produksi Batik Eljava beberapa waktu lalu.
Pelatihan batik tersebut berlangsung selama tiga bulan dan kegiatannya hanya berlangsung di akhir pekan. Di pelatihan tersebut, Rizal mempelajari teori hingga praktik membuat batik tulis.
“Dari pelatihan itu, timbul rasa memiliki batik. Setelah selesai pembelajaran, saya mencoba membuat batik sendiri,” ujar pria kelahiran tahun 1993 tersebut.
2 lembar batik pertamanya laku terjual
Setelah pelatihan, Rizal memulai langkah pertamanya di dunia batik hanya dengan dua lembar kain. Meski minim peralatan dan pengalaman, ia melakukan semua proses dengan telaten.

Ia pun menawarkan karyanya tersebut ke toko yang ada di Kota Pekalongan. Awalnya, ada toko yang bersedia menjual produk milik Rizal, tapi dengan sistem pembayaran tempo satu bulan.
“Ada yang langsung cocok dengan karya saya dan tanpa koreksi. Mereka langsung minta banyak, tapi saya nggak cocok dengan sistem pembayarannya,” ujar Rizal.
Rizal yang baru merintis usaha batik merasa keberatan karena butuh uang segera untuk membeli kain dan peralatan lainnya. Tak putus asa, ia mencari toko lain dan menemukan pedagang yang mau membeli langsung batik miliknya.

Toko tersebut membeli dua lembar kain yang dibuat Rizal dengan harga masing-masing sebesar Rp450 ribu. Dari uang Rp900 ribu yang ia dapatkan, Rizal membeli kain yang lebih lebar dan bisa digunakan untuk membuat 13 lembar batik.
Dari hasil penjualan itu, Rizal kembali membeli kain, memproduksi lebih banyak, dan terus mengembangkan desain. Ia mulai mengikuti pameran dan belajar memasarkan produk secara online.
Dari Kandang Ayam Jadi Rumah Produksi
Bagian belakang rumah Rizal yang dulunya kandang kambing dan ayam kini telah disulap menjadi pusat produksi Batik Eljava. Sebanyak 10 pembatik bekerja langsung di rumah produksi, sementara 40 orang sisanya, mengerjakan batik secara borongan di rumah masing-masing.
Proses produksi satu lembar batik bisa melibatkan hingga 8 orang, mulai dari desain, pewarnaan, pelorodan hingga finishing. Setiap bulan, Batik Eljava rata-rata memproduksi sebanyak 20 lembar kain.
Meski demikian, jumlah produksi bergantung pada banyak hal sehingga setiap bulannya tidak sama. Ada kalanya produksi tersendat karena pembatik sakit atau berhalangan. Ada kalanya terkendala cuaca yang sering hujan.
Setiap lembar batik dijual dengan harga yang bervariasi, tergantung kerumitan motif. Batik Eljava dijual mulai dari harga Rp850 ribu hingga lebih dari Rp1 juta.
“Pendapatan per bulan tidak tentu karena batik itu larisnya di momen-momen tertentu seperti akhir tahun, puasa, dan lebaran,” sebut Rizal.
10 tahun bersama Rumah Batik TBIG
Rizal memulai karirnya sebagai pengusaha batik berkat ilmu yang ia dapatkan dari Rumah Batik TBIG. Saat baru merintis usaha, ia pun masih mendapatkan pendampingan dari Rumah Batik TBIG.
Sebagai informasi, Rumah Batik TBIG merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang mendorong kelestarian budaya. Rumah Batik TBIG yang lokasinya tak jauh dari rumah produksi Batik Eljava ini memiliki program bagi anak-anak muda agar bisa membatik dan menghasilkan uang melalui batik.
“Pihak Rumah Batik TBIG pun mendampingi saya di awal usaha. Kalau ada apa-apa, saya diminta datang saja ke sana untuk sharing,” kata Rizal.
Berkat Rumah Batik TBIG, ia juga mendapatkan banyak informasi terkait pameran. Ia pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memasarkan batiknya ke pasar yang lebih luas.
Hingga saat ini, Batik Eljava masih bermitra dengan Rumah Batik TBIG. Produknya pun dipasarkan melalui Koperasi Bangun Bersama yang didirikan oleh TBIG.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A
























