Tugumalang.id – Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. membedah risetnya soal evolusi media pembelajaran di era perkembangan Artificial Intelligence (AI), Sabtu (6/6)2026). Riset itu mengantarkannya meraih gelar profesor di bidang teknologi dan inovasi pembelajaran fisika.
Ia menyoroti bagaimana AI kini mulai mengubah wajah pendidikan secara signifikan. Menurutnya, dunia pendidikan sedang berada pada titik perubahan besar. Kehadiran AI telah masuk ke ruang ruang kelas melalui sistem pembelajaran adaptif, tutor cerdas hingga teknologi evaluasi otomatis yang mulai banyak digunakan.
Baca Juga: Unikama Buka Beasiswa DPP 50 Persen bagi Peserta UTBK SNBT 2026
Prof Sudi Dul Aji menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan teknologi, tetapi kesiapan pendidik dalam memanfaatkannya.
Banyak guru dinilai masih membutuhkan peningkatan pengetahuan, kepercayaan diri hingga strategi pedagogis agar mampu mengintegrasikan AI secara efektif ke dalam proses pembelajaran.
Dalam bidang pembelajaran fisika, pemanfaatan AI disebut memiliki potensi besar karena banyak konsep fisika bersifat abstrak dan sulit dipahami hanya melalui teori.
Teknologi AI memungkinkan hadirnya simulasi interaktif, eksperimen virtual hingga visualisasi digital yang membuat materi menjadi lebih mudah dipahami siswa.
“AI dapat digunakan untuk menghadirkan simulasi interaktif, eksperimen virtual, sistem pembelajaran adaptif hingga evaluasi otomatis. Dengan demikian pembelajaran fisika menjadi lebih menarik, kontekstual dan sesuai kebutuhan peserta didik,” ungkapnya.
Baca Juga: Mahasiswa Asal Gresik Jadi Lulusan Terbaik Unikama 2026, Teliti Lagu Malang Awe Awe
Dia juga menyoroti pentingnya penguasaan AI-Specific TPACK, yakni kerangka yang menggabungkan kemampuan teknologi, pedagogi dan penguasaan materi secara terintegrasi.
Ia menilai guru tidak cukup hanya memahami cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus mengetahui bagaimana AI diterapkan sesuai tujuan pembelajaran.
Melalui penelitian yang melibatkan 725 guru dari berbagai daerah di Indonesia, ia menemukan bahwa mayoritas guru sebenarnya memiliki kemampuan teknologi dan pedagogi yang cukup baik.
Namun, tantangan terbesar masih terletak pada kemampuan mengintegrasikan ketiga aspek tersebut secara bersamaan dalam pembelajaran.
Hasil penelitian juga menunjukkan guru memiliki pandangan yang cukup positif terhadap pemanfaatan AI. Banyak guru menganggap AI dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran, meski masih terdapat kekhawatiran terkait etika, privasi data hingga potensi ketergantungan terhadap teknologi.
Menariknya, penelitian tersebut justru menemukan bahwa faktor usia dan demografi tidak terlalu berpengaruh terhadap kesiapan menggunakan AI.
Bahkan, guru senior disebut menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap pemanfaatan teknologi karena melihat AI mampu membantu mengurangi beban kerja dan mendukung pembelajaran yang lebih personal.
Selain itu, pengalaman menggunakan teknologi sebelumnya juga menjadi faktor penting. Guru yang telah terbiasa menggunakan perangkat digital dalam proses pembelajaran cenderung memiliki kesiapan yang lebih tinggi dalam mengadopsi teknologi berbasis AI dibanding mereka yang masih mengandalkan metode konvensional.
Dalam rekomendasinya, Prof Sudi menekankan pentingnya perubahan pendekatan pelatihan guru. Menurutnya, pelatihan tidak lagi cukup hanya berfokus pada pengoperasian teknologi, tetapi juga harus memperkuat aspek pedagogi, etika AI, serta kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum.
“Kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat. Dalam pendidikan fisika, AI dapat membantu kita menjelaskan hukum hukum alam semesta dengan lebih visual. Tetapi hanya seorang guru sejati yang dapat menginspirasi siswa untuk mengejar kebenaran ilmiah dengan integritas,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























