Tugumalang.id – Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 stakeholder peduli lingkungan di Malang meluncurkan gerakan bertajuk Beyond Waste pada Kamis, (4/6/2026).
Dalam momen itu, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Grand Mercure Malang Mirama, Local Preneur dan People Hub mempraktikkan langsung pengolahan limbah makanan jadi pakan ternak.
Pakar lingkungan sekaligus Dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., menekankan bahwa pembiaran limbah makanan tanpa pengelolaan yang benar akan memperparah kerusakan bumi.
Baca Juga: Jelang Wisuda 2026, 61 Persen Mahasiswa Unikama Dipastikan Terserap di Dunia Kerja
“Limbah restoran maupun rumah tangga jika tidak dimanfaatkan justru akan menambah cemaran serta meningkatkan emisi gas rumah kaca yang dapat mengganggu dan merusak lapisan atmosfer,” kata Ida saat memberikan edukasi langsung.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah organik ini memiliki cakupan yang luas dan fleksibel, seperti diolah menjadi pakan ternak hingga pupuk untuk sektor pertanian. Ida juga memandang bahwa peluang ekonomi dari pengelolaan limbah di wilayah seperti Malang Raya sangatlah menjanjikan.
“Ekonomi masyarakat saat ini membutuhkan inovasi. Pemanfaatan limbah yang tadinya tidak memiliki nilai guna, jika kita olah dengan baik, akan memberikan nilai ekonomis tinggi yang justru menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat maupun pelaku industri itu sendiri,” tambahnya.
Baca Juga: Jelang Wisuda 2026, Rektor Unikama Tekankan Lulusan Berintegritas dan Berwawasan Global
Namun, ia menyayangkan saat ini masih banyak pelaku industri atau restoran yang belum mengoptimalkan pengolahan limbah mereka.
Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat termasuk pelaku usaha kuliner, perhotelan dan lain sebagainya untuk bergerak bersama memilah dan mengolah limbahnya menjadi barang bernilai lebih.
Sementara itu, General Manager Grand Mercure Malang Mirama, Sugito Adhi menegaskan bahwa program ini bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan sebuah langkah nyata dalam membangun warisan tanggung jawab bagi generasi mendatang melalui penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan sustainability yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, kami sedang membangun warisan tanggung jawab untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Sugito menambahkan, gerakan ini dirancang untuk membuka wawasan baru mengenai potensi besar dari circular economy. Menurutnya, limbah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai justru dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi dan sosial yang tinggi.
“Gerakan ini bukan hanya tentang pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dari pengolahan food waste, masyarakat bisa menciptakan lapangan kerja baru, sementara industri dapat membangun kemandirian material melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini terbuang,” jelasnya.
Grand Mercure Malang menurutnya telah menerapkan pembatasan ketat terhadap produksi sampah makanan sejak awal hotel dibuka pada 2021.
Produksi limbah makanan di hotel ini rata rata mencapai 8-10 kilogram per hari. Namun saat high season, bisa mencapai 15 kilogram per hari. Limbah makanan itu kemudian dilah menjadi pakan ternak hingga pupuk.
Founder Local Preneur, Baskoro, menyatakan dukungannya terhadap transformasi paradigma di dunia industri saat ini.
“Kami mendukung penuh para pelaku industri untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan di sekitarnya. Langkah yang diambil tidak harus selalu muluk muluk, melainkan apa yang bisa dilakukan saat ini, sekecil apa pun itu,” tegasnya.
Baginya, esensi dari dunia usaha di masa depan harus bergeser ke arah yang lebih bertanggung jawab.
“Jadi, bisnis tidak hanya melulu bicara tentang untung dan rugi, namun juga wajib menaruh perhatian dan kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A
























