Minggu, Agustus 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Quo Vadis Konsep Pendidikan Kita

Redaksi by Redaksi
Januari 24, 2025 3:07 pm
in Catatan
Moh. Kholid. Foto/Dok

Moh. Kholid. Foto/Dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Moh Kholid*

Tugumalang.id – Manusia terlahir dalam kondisi tidak tahu (ignorant), bukannya bodoh. Pendidikanlah yang membuat mereka menjadi dungu. Kalimat ini terdengar sangat menyinggung dan bahkan sarkastik.

READ ALSO

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Namun apa yang disampaikan Bertrand Russel (filsuf Britania Raya) di awal abad 20-an itu serasa benar dan menemukan titik rasionalitasnya di masa yang sangat mendewakan Sistem Pendidikan yang sangat pekat aroma prosedural dan bercorak sangat melangit (tidak membumi) dewasa ini.

Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2024, tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencapai 4,91% pada Agustus, tertinggi di antara jenjang pendidikan lainnya.

Lebih dari 60% lulusan SMK bekerja tidak sesuai dengan kompetensi yang dipelajari selama pendidikan. Namun angka-angka ini hanyalah permukaan dari krisis sistemik yang jauh lebih kompleks. Seorang lulusan SMK Teknik Komputer, misalnya, menjadi potret hidup dari realitas ini.

Baca Juga: Museum Pendidikan, Menelusuri Jejak Sejarah Perkembangan Pendidikan di Kota Malang

Setelah tiga tahun belajar di jurusan teknologi informasi, ia kini bekerja sebagai pramusaji di sebuah kafe di pinggiran kota. Mimpi-mimpinya tentang teknologi terkubur di balik nampan pesanan dan mesin kopi.

Ini merupakan representasi sistemik dari kegagalan pendidikan. Persoalan paling fundamental terletak pada ketidakstabilan sistem pendidikan itu sendiri. Indonesia telah mengalami minimal enam kali perubahan kurikulum utama sejak era reformasi: dari Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 (KBK), Kurikulum 2006 (KTSP), Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka Belajar.

Setiap pergantian ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan guncangan filosofis yang mempengaruhi nasib jutaan peserta didik. Setiap kali kurikulum diganti, guru dipaksa beradaptasi dalam waktu singkat, siswa kehilangan kontinuitas pembelajaran, dan sistem pendidikan terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Filosofi pendidikan sejati—yang seharusnya menjadi ruang pembebasan dan pengembangan potensi—justru tereduksi menjadi sekadar eksperimen administratif yang tidak berujung. Dampak terburuk dari pergantian kurikulum ini tidak sekadar pada aspek akademis, melainkan pada kesehatan mental generasi muda.

Baca Juga: Dikenal Sosok yang Peduli Pendidikan, Gen Z Kota Batu Bulat Pilih Nurochman-Heli

Generasi Z menghadapi tantangan unik yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi pertama yang tumbuh dalam era digital total, dengan akses informasi tak terbatas namun nirmakna. Sistem pendidikan tidak mampu memahami kompleksitas psikologis mereka—kebutuhan akan makna, autentisitas, dan ruang ekspresi diri yang sesungguhnya.

Paulo Freire pernah mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukanlah proses “menaruh” pengetahuan ke dalam kepala peserta didik, melainkan proses di mana manusia belajar membaca dunia, memahami konteks sosial, dan pada akhirnya mampu mengubahnya. Namun sistem pendidikan kita justru sebaliknya—membatasi, menormalisasi, dan mengabaikan kesehatan mental. Plato di Akademianya dahulu membayangkan pendidikan sebagai perjalanan pencerahan—sebuah proses transformasi yang melampaui sekadar transfer pengetahuan.

Kini, model pendidikan di negara kita telah tereduksi menjadi sekadar mekanisme produksi tenaga kerja yang efisien namun kehilangan jiwanya. Ki Hajar Dewantara, sang pendidik sejati, pernah mengatakan bahwa pendidikan haruslah mampu menumbuhkan kesadaran “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” — membimbing, membangun semangat, dan memberikan kekuatan. Namun sistem saat ini justru sebaliknya: ia membatasi, menormalisasi, dan mengekang potensi kreativitas.

Khusus untuk pendidikan kejuruan, persoalan semakin kompleks. Kurikulum dirancang seakan-akan siswa adalah mesin yang dapat diprogram ulang sesuai kebutuhan pasar. Seorang siswa teknik mesin tidak sekadar diajarkan cara memperbaiki mesin, melainkan seharusnya dibimbing untuk memahami filosofi di balik teknologi.

Mengapa mesin diciptakan? Bagaimana teknologi dapat menjadi perpanjangan tangan kreativitas manusia, bukan sekadar alat produksi? Ironi terbesar terletak pada fakta bahwa semakin canggih teknologi, semakin terdegradasi hubungan manusia dengan makna sejati pendidikan.

Sekolah kejuruan yang seharusnya menjadi tempat mengasah kreativitas, kritis, dan inovatif, justru berubah menjadi ruang reproduksi mekanistis untuk memenuhi kebutuhan industri. Pertanyaan filosofis mendesak dan harus segera dijawab adalah: Dapatkah kita merancang ulang pendidikan?

Dapatkah kita menciptakan sistem yang tidak sekadar mengalihkan keterampilan, melainkan mentransformasi kesadaran? Sebuah pendidikan yang mampu melihat setiap individu sebagai subjek dengan potensi unik yang menunggu untuk dibangkitkan. Pendidikan yang layak bukanlah tentang menghasilkan tenaga kerja atau sekadar mentransfer pengetahuan.

Ia adalah perjalanan pembebasan—membangun manusia seutuhnya, dengan segala kompleksitas pikiran, perasaan, dan potensi transformatifnya. Sanggupkah kita membayangkan ulang pendidikan? Sanggupkah kita mengembalikan jiwa—bukan sekadar menghasilkan tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang utuh, kritis, bermartabat, dan siap menghadapi kompleksitas kehidupan?

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Editor: Herlianto. A

*Penulis adalah staf pengajar di STF Al Farabi Malang dan mahasiswa Pascasarjan Universitas Islam Malang

Tags: Konsep PendidikankurikulumModel PembelajaranPendidikan Kita

Related Posts

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Next Post
Kasus gelapkan tanah

Diduga Gelapkan Tanah 1.071 Meter Persegi Lalu Nyaleg, Seorang Ibu di Kota Malang Tuntut Keadilan

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.