Minggu, Mei 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Quo Vadis Konsep Pendidikan Kita

Redaksi by Redaksi
Januari 24, 2025 3:07 pm
in Catatan
Moh. Kholid. Foto/Dok

Moh. Kholid. Foto/Dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Moh Kholid*

Tugumalang.id – Manusia terlahir dalam kondisi tidak tahu (ignorant), bukannya bodoh. Pendidikanlah yang membuat mereka menjadi dungu. Kalimat ini terdengar sangat menyinggung dan bahkan sarkastik.

READ ALSO

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Namun apa yang disampaikan Bertrand Russel (filsuf Britania Raya) di awal abad 20-an itu serasa benar dan menemukan titik rasionalitasnya di masa yang sangat mendewakan Sistem Pendidikan yang sangat pekat aroma prosedural dan bercorak sangat melangit (tidak membumi) dewasa ini.

Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2024, tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencapai 4,91% pada Agustus, tertinggi di antara jenjang pendidikan lainnya.

Lebih dari 60% lulusan SMK bekerja tidak sesuai dengan kompetensi yang dipelajari selama pendidikan. Namun angka-angka ini hanyalah permukaan dari krisis sistemik yang jauh lebih kompleks. Seorang lulusan SMK Teknik Komputer, misalnya, menjadi potret hidup dari realitas ini.

Baca Juga: Museum Pendidikan, Menelusuri Jejak Sejarah Perkembangan Pendidikan di Kota Malang

Setelah tiga tahun belajar di jurusan teknologi informasi, ia kini bekerja sebagai pramusaji di sebuah kafe di pinggiran kota. Mimpi-mimpinya tentang teknologi terkubur di balik nampan pesanan dan mesin kopi.

Ini merupakan representasi sistemik dari kegagalan pendidikan. Persoalan paling fundamental terletak pada ketidakstabilan sistem pendidikan itu sendiri. Indonesia telah mengalami minimal enam kali perubahan kurikulum utama sejak era reformasi: dari Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 (KBK), Kurikulum 2006 (KTSP), Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka Belajar.

Setiap pergantian ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan guncangan filosofis yang mempengaruhi nasib jutaan peserta didik. Setiap kali kurikulum diganti, guru dipaksa beradaptasi dalam waktu singkat, siswa kehilangan kontinuitas pembelajaran, dan sistem pendidikan terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Filosofi pendidikan sejati—yang seharusnya menjadi ruang pembebasan dan pengembangan potensi—justru tereduksi menjadi sekadar eksperimen administratif yang tidak berujung. Dampak terburuk dari pergantian kurikulum ini tidak sekadar pada aspek akademis, melainkan pada kesehatan mental generasi muda.

Baca Juga: Dikenal Sosok yang Peduli Pendidikan, Gen Z Kota Batu Bulat Pilih Nurochman-Heli

Generasi Z menghadapi tantangan unik yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi pertama yang tumbuh dalam era digital total, dengan akses informasi tak terbatas namun nirmakna. Sistem pendidikan tidak mampu memahami kompleksitas psikologis mereka—kebutuhan akan makna, autentisitas, dan ruang ekspresi diri yang sesungguhnya.

Paulo Freire pernah mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukanlah proses “menaruh” pengetahuan ke dalam kepala peserta didik, melainkan proses di mana manusia belajar membaca dunia, memahami konteks sosial, dan pada akhirnya mampu mengubahnya. Namun sistem pendidikan kita justru sebaliknya—membatasi, menormalisasi, dan mengabaikan kesehatan mental. Plato di Akademianya dahulu membayangkan pendidikan sebagai perjalanan pencerahan—sebuah proses transformasi yang melampaui sekadar transfer pengetahuan.

Kini, model pendidikan di negara kita telah tereduksi menjadi sekadar mekanisme produksi tenaga kerja yang efisien namun kehilangan jiwanya. Ki Hajar Dewantara, sang pendidik sejati, pernah mengatakan bahwa pendidikan haruslah mampu menumbuhkan kesadaran “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” — membimbing, membangun semangat, dan memberikan kekuatan. Namun sistem saat ini justru sebaliknya: ia membatasi, menormalisasi, dan mengekang potensi kreativitas.

Khusus untuk pendidikan kejuruan, persoalan semakin kompleks. Kurikulum dirancang seakan-akan siswa adalah mesin yang dapat diprogram ulang sesuai kebutuhan pasar. Seorang siswa teknik mesin tidak sekadar diajarkan cara memperbaiki mesin, melainkan seharusnya dibimbing untuk memahami filosofi di balik teknologi.

Mengapa mesin diciptakan? Bagaimana teknologi dapat menjadi perpanjangan tangan kreativitas manusia, bukan sekadar alat produksi? Ironi terbesar terletak pada fakta bahwa semakin canggih teknologi, semakin terdegradasi hubungan manusia dengan makna sejati pendidikan.

Sekolah kejuruan yang seharusnya menjadi tempat mengasah kreativitas, kritis, dan inovatif, justru berubah menjadi ruang reproduksi mekanistis untuk memenuhi kebutuhan industri. Pertanyaan filosofis mendesak dan harus segera dijawab adalah: Dapatkah kita merancang ulang pendidikan?

Dapatkah kita menciptakan sistem yang tidak sekadar mengalihkan keterampilan, melainkan mentransformasi kesadaran? Sebuah pendidikan yang mampu melihat setiap individu sebagai subjek dengan potensi unik yang menunggu untuk dibangkitkan. Pendidikan yang layak bukanlah tentang menghasilkan tenaga kerja atau sekadar mentransfer pengetahuan.

Ia adalah perjalanan pembebasan—membangun manusia seutuhnya, dengan segala kompleksitas pikiran, perasaan, dan potensi transformatifnya. Sanggupkah kita membayangkan ulang pendidikan? Sanggupkah kita mengembalikan jiwa—bukan sekadar menghasilkan tenaga kerja, melainkan membentuk manusia yang utuh, kritis, bermartabat, dan siap menghadapi kompleksitas kehidupan?

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Editor: Herlianto. A

*Penulis adalah staf pengajar di STF Al Farabi Malang dan mahasiswa Pascasarjan Universitas Islam Malang

Tags: Konsep PendidikankurikulumModel PembelajaranPendidikan Kita

Related Posts

Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Selasa, 26 Mei 2026
Momentum Hari Kebangkitan Nasional, refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib tentang kedaulatan algoritma di era digital. /Foto: Dok. Istimewa.
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Rabu, 20 Mei 2026
Tiko Ari. Foto/dok
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional dan Tantangan Nyata Pekerja Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 20 Mei 2026
Agama
Catatan

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (1)

Selasa, 19 Mei 2026
Prophetic Intelligence
Catatan

Prophetic Intelligence: Menyatukan Ideologi dan Strategi Politik PKB di Era Gen Z

Selasa, 12 Mei 2026
Sains dan Agama
Catatan

Paradigma Baru: Mengakhiri “Perang Dingin” antara Sains dan Agama

Minggu, 10 Mei 2026
Next Post
Kasus gelapkan tanah

Diduga Gelapkan Tanah 1.071 Meter Persegi Lalu Nyaleg, Seorang Ibu di Kota Malang Tuntut Keadilan

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.