MALANG, Tugumalang.id – Fenomena kecemasan yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus kini menjadi perhatian utama. Penawar Special Learning Centre (PSLC) sebagai salah satu lembaga pendidikan dan juga pusat terapi yang berfokus pada anak berkebutuhan khusus, baru-baru ini mengungkapkan masalah pemicu kecemasan pada anak.
Salah satu pemicu utama kecemasan tersebut adalah fenomena seringnya anak-anak ini dibanding-bandingkan dengan pencapaian atau kemampuan anak lain. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada psikologis anak, tetapi juga menghambat proses belajar dan perkembangan mereka secara optimal.
Baca Juga: Tugu Media Group Belajar Manfaat Terapi untuk Anak Autis di Penawar Children’s Rehabilitation Centre Malaysia
Clinical Director PSLC, Dr. Ruwinah Abdul Karim mengatakan banyak orang seringkali tidak menyadari perkataan mereka tanpa memperhatikan kondisi anak. Justru memberi dampak buruk bagi anak itu sendiri, maupun orang tua berupa rasa cemas.
“Komentar seperti umur segini kok belum bisa, itu sering menyakiti hati orang tua. Setiap anak tumbuh di jalur berbeda dan itu membuatnya kurang berarti,” ujar Ruwinah pada Jumat (1/8/2025).
“Kita perlu merayakan kemajuan sekecil apapun, bukan membandingkan timeline,” imbuhnya.
Oleh karena itu, pendekatan dan metode yang diterapkan haruslah sesuai dengan kebutuhan individual mereka. Namun, tekanan sosial dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas terkadang membawa konsekuensi negatif.
Baca Juga: Telah Dibuka! Penawar Special Learning Centre Samarinda Berikan Layanan Screening Gratis
Ketika anak terus – menerus diposisikan pada kerangka perbandingan pencapaian, mereka cenderung merasa tidak mampu, kurang percaya diri, dan akhirnya berkembang menjadi anak yang selalu cemas.
Permasalahan Anak Selalu Cemas karena Dibanding-Bandingkan
PSLC dengan pengalaman dan dedikasi dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus, mengungkapkan ada beberapa permasalahan yang muncul ketika anak dibandingkan dengan anak lainnya secara terus-menerus:
· Kecemasan berlebih: anak merasa tertekan dan tidak cukup baik, memicu rasa takut dan khawatir berlebihan terhadap kegagalan atau penilaian negatif.
· Penurunan motivasi: alih-alih termotivasi, anak justru menghindari tantangan karena merasa akan selalu kalah atau tidak bisa memenuhi standar.
· Gangguan konsentrasi dan perkembangan: kecemasan dan tekanan emosional dapat mengganggu fokus dan kemampuan belajar, serta mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak.
· Rendahnya harga diri: anak mulai meragukan kemampuan diri sendiri, merasa tidak dihargai dan kurang percaya diri dalam berinteraksi maupun mengekspresikan diri.
Solusi dan Pendekatan yang Dilakukan PSLC
Melalui PSLCNet yang kini tersebar di beberapa daerah yang ada di Indonesia, PSLC mengimplementasikan beberapa langkah dan metode demi membantu anak-anak bisa mengatasi kecemasan dan merasa diterima:
· Individualized Learning Plan (ILP): rencana belajar khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan tiap anak.
· Terapi pendukung: seperti terapi wicara, terapi perilaku, dan terapi sosial-emosi untuk mendukung perkembangan menyeluruh.
· Edukasi orang tua dan guru: memberi pemahaman kepada lingkungan sekitar agar tidak membandingkan anak, melainkan memberi dorongan dan apresiasi.
· Atmosfer belajar positif: menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan penuh penghargaan agar anak berani berkreasi dan belajar tanpa rasa takut.
· Pendampingan psikologis: memberikan dukungan untuk mengatasi kecemasan dan membangun kepercayaan diri anak.
Melalui pendekatan komprehensif ini, PSLC berharap dapat membantu anak berkebutuhan khusus atau anak autis agar tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, dan mampu meraih potensi terbaiknya tanpa beban perbandingan yang merusak tumbuh kembang mereka.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























