MALANG, Tugumalang.id – Penawar Special Learning Centre (PSLC) mengungkapkan fakta mengejutkan tentang anak dengan autisme yang seringkali menyakiti dirinya sendiri.
Kesulitan dalam mengekspresikan perasaan secara verbal, membuat anak dengan autisme merasa terisolasi. Hal ini menjadi pemicu anak melakukan perilaku menyakiti dirinya sendiri sebagai bentuk komunikasi yang terdistorsi.
Di tengah keprihatinan ini, PSLC sebuah pusat terapi dan pendidikan khusus di Indonesia. Mereka mengungkapkan bahwa perilaku menyakiti diri sendiri sering kali merupakan teriakan tanpa suara dari anak yang tidak mampu menyampaikan perasaan mereka.
Baca Juga: PSLC Gelar Autism Management Course 2025 Secara Online Tingkatkan Pemahaman Autisme
“Perilaku menyakiti diri pada anak bisa terjadi karena ketidakmampuan mengungkapkan emosi atau rasa sakit secara verbal. Anak mungkin sedang mengalami frustrasi, panik, atau overstimulasi,” ungkap Clinical Director PSLC, Dr. Ruwinah Abdul Karim.
Fakta permasalahan tersebut didapatkan PSLC dari pengalaman klinis menangani berbagai kasus autisme selama bertahun – tahun.
Anak Autis dan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri: Mengapa Terjadi?
Perilaku anak dengan autisme menyakiti diri sendiri atau self injury behavior, bukanlah sesuatu yang muncul tanpa sebab. Beberapa bentuk umum dari perlaku ini meliputi membenturkan kepala, mencubit pipi, menggigit tangan, atau menjambak rambut.
Baca Juga: Gelar Event Public Talk Pekanbaru, PSLC Ajak Masyarakat Mendukung Kehidupan yang Lebih Inklusif
PSLC mengungkapkan bahwa perilaku yang ditunjukkan anak tersebut merupakan respons terhadap:
· Frustrasi karena tidak dapat berkomunikasi secara verbal
· Stimulasi sensorik yang berlebihan atau tidak memadai
· Kebutuhan akan perhatian
· Kecemasan atau rasa takut yang tidak bisa diungkapkan
Peran Penawar Special Learning Centre dalam Penanganan Autisme
Sebagai langkah konkret dalam mengedukasi orang tua dan memberikan layanan terapi yang tepat kepada anak. PSLC menghadirkan PSLCNet yang kini sudah ada di beberapa daerah, seperti di Batam, Medan, Banjarnegara, Bandung, Samarinda, Jogja, dan beberapa daerah lain.
PSLC mengembangkan pendekatan holistik yang menggabungkan terapi perilaku, terapi wicara. Serta stimulasi sensorik dan motorik untuk membantu anak-anak autis belajar mengekspresikan diri mereka dengan lebih baik.
· Applied Behavior Analysis (ABA): Untuk membentuk dan memperkuat perilaku positif.
· Terapi komunikasi alternatif: Seperti penggunaan gambar (PECS) atau alat bantu berbasis teknologi.
· Sensory Integration Therapy: Untuk membantu anak mengelola rangsangan sensorik yang bisa menjadi pemicu stres.
· Pendekatan keluarga: Melibatkan orang tua dalam proses terapi agar anak mendapatkan dukungan konsisten di rumah.
“Pendekatan yang tepat melibatkan identifikasi pola, penanganan pemicu, dan pengalihan ke respons yang lebih aman. Terapi perilaku dan regulasi emosi membantu anak belajar mengekspresikan kebutuhan secara konstruktif,” terang Ruwinah.
“PSLC menyediakan intervensi yang berfokus pada penguatan emosi dan perlindungan anak,” sambungnya.
Fenomena anak autis yang menyakiti diri sendiri bukanlah tindakan nakal atau tidak normal, melainkan bentuk komunikasi darurat dari jiwa yang kesulitan mengungkapkan rasa.
PSLC melalui PSLCNet mengajak masyarakat, khususnya para orang tua, pendidik, dan tenaga medis, untuk memahami lebih dalam dan tidak menghakimi.
Dengan pendekatan terapi yang tepat dan empati yang kuat, anak-anak autis bisa diajak untuk menemukan cara yang lebih sehat dan positif dalam mengekspresikan diri.
Sehingga, bukan hanya perilaku menyakiti diri yang bisa dikurangi, tetapi kualitas hidup anak dan keluarganya pun bisa meningkat secara signifikan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























