Malang, Tugumalang.id – Psikolog Universitas Negeri Malang (UM), Dr Ika Andrini Farida mengatakan, reaksi amarah berlebihan pada umumnya disebabkan karena ada persoalan atau konflik yang belum terselesaikan dan terpendam hingga menumpuk numpuk. Untuk itulah pentingnya kelola emosi.
Penegasan ini disampaikan Ika Andrini Farida, yang juga Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UM, terkait Aksi seorang polwan di Mojokerto yakni Briptu FN yang nekad membakar suaminya, Briptu RDW hingga berujung maut. Polwan yang memiliki 3 anak balita itu diduga kesal karena suaminya menghabiskan uang untuk judi online.
“Mungkin ada konflik yang menumpuk hingga pada puncak kemarahannya muncul, bisa terjadi hal yang tak terduga. Saat orang sangat marah kadang memang kesadarannya hilang. Jadi sampai seperti itu,” jelasnya.
Menurutnya, orang yang terbakar amarah dan tak dapat mengendalikan amarah biasanya memang kehilangan kesadaran atau akal sehatnya. Otak orang yang memberikan reaksi amarah tak terduga, menurutnya telah dikendalikan ketidaksadarannya.
Baca Juga: Dampak Serius Lelah dan Stres bagi Fisik dan Mental, Begini Cara Mengatasinya
“Jadi ada di bawah kesadaran. Tentu kita tak tahu konflik terpendam apa sampai orang terdorong melakukan hal tak terduga. Sebab setiap orang punya persoalan masing masing,” ujarnya.
“Orang marah kan banyak, tapi tak banyak yang melakukan itu (membakar suami). Jadi ini perlu pemeriksaan karena sudah memunculkan reaksi kemarahan yang luar biasa,” lanjutnya.
Dalam kasus polwan membakar suaminya itu, Ika menduga bahwa sang polwan sudah banyak memendam permasalahan atau konflik yang menumpuk dengan suaminya. Sebab, cukup jarang orang memberi reaksi amarah tak terduga jika masih pertama atau sedikit memendam permasalahan keluarga.
“Mungkin sudah ada permasalahan dan amarah yang menumpuk. Entah berjalan berapa lama konflik suami istri ini sampai respon amarahnya seperti itu,” paparnya.
Untuk mengendalikan emosi sebagai salah satu penyebab gangguan psikologis atau stres, Ika memberikan tips agar tak menimbulkan reaksi amarah yang berbahaya. Tips pertama yakni mengelola emosi.
Menurutnya, setiap orang tentu punya masalah dan cara mengatasinya. Namun tak banyak orang yang mampu mengendalikan emosi.
“Jadi kalau sudah tiap hari stres itu sudah berat. Maka kita perlu melakukan relaksasi, meditasi, mendengarkan musik, olahraha atau ibadah. Ibadah juga jadi salah satu metode mengelola emosi. Sehingga stres tidak semakin berat dan menumpuk hingga reaksinya tak terduga,” ucapnya.
Baca Juga: Lintang Pandu Pratiwi, Ajarkan Anak-Anak Kelola Emosi Melalui Buku Ilustrasi
Selain itu, orang juga harus memahami tanda tanda stres. Yakni sering jengkel, sering marah, sering kecewa dan emosi negatif lainnya. Kemudian kerap tegang, leher sakit, pegal, over tingking, tak merasa bahagia hingga susah tidur.
Tips selanjutnya yakni mencari solusi permasalahan. Misalnya dengan bercerita dengan rekan atau teman terdekat. Sehingga orang lain bisa memberikan pandangan atau bahkan memberikan solusi atau cara mengatasi masalah.
“Saran saya, kita harus menenangkan pikiran kita setelah beraktivitas seharian. Tidur yang cukup agar esok segar kembali,” tuturnya.
“Orang yang stres itu tidak tahu kalau dirinya sedang stres. Ini kalau tak ditangani akan menumpuk dan kalau sudah meluap akan berbahaya,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
editor: jatmiko
























