Sabtu, Agustus 22, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Pesan Sosial Halal Bihalal

Redaksi by Redaksi
Maret 29, 2026 2:23 pm
in Catatan
Puasa

Prof M. Zainuddin (Guru Besar UIN Maliki Islamic University Malang, Chairman of Yasmine Institute)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh M. Zainuddin*

Tugumalang.id – Pada Hari Raya Fitri umat Islam digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapat kemenangan dan kembali ke fitrahnya semula. Idul fitri ada karena adanya shiyam Ramadhan, maka tidak ada nilai dan identitas fitri jika tidak ada pelaksanaan shiyam Ramadhan. Kenapa orang mukmin saat ini dikembalikan ke fitrahnya? Mari kita flash back dan kaji.

Selama bulan Ramadhan hingga syawal, seluruh karuniaditumpahkan oleh Allah kepada umat Islam. Bahkan di sepuluh akhir Ramadhan ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Selanjutnya perintah zakat fitrah, yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrahnya; apalagi jika dapat melanjutkan puasa 6 hari syawal, yang nilainya setara dengan puasa satu tahun. Belum cukup dengan itu semua, kemudian dilaksanakan halal bi halal (saling memaafkan di antar sesama, yang dapat menghapus dosa masa lalunya).

Baca Juga: Daftar Wahana Baru dan Special Show di Jatim Park Kota Batu di Libur Lebaran 2026

Bagi umat Islam, Syawal merupakan babak baru, babak kembali ke fitrah-nya, sebagaimana hadis Nabi: Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, sudah dianugerahi oleh Alla Swt potensi atau energi positif. Kedua orang tuanyalah yang membentuk mereka menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi. Nah inilah yang membedakan dengan teori ”tabularasa”-nya John Lock dan ”innate ideas”-nya Plato. 

Dalam teori Tabularasa John Lock dinyatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih, tergantung siapa yang akan memberi warna atau catatan. Ini artinya, bahwa anak tidak memiliki potensi apa-apa dan pasif. Ibarat gelas kosong juga.

Sementara teori Plato mengatakan, bahwa realitas (being) itu ada karena akal-pikiran kita (mind). Teori ini kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya seperti Rene Descartes dengan diktum populernya: cogito argo sum (aku ada karena aku berpikir). Dan akhirnya juga berkembang diktum lain: You are what you think. Seolah-olah teori-teori ini sama dengan teori Islam. Padahal ini berbeda.

Dalam konsep Islam, anak lahir sudah memiliki potensi atau energi positif. Ibarat baterai sudah ada isinya. Tinggal men-charge lebih (fully charge). Di sinilah maka hakikat pendidikan adalah mengembangkan potensi: mengasuh, merawat dan mengembangkan potensi sampai menjadi manusia yang well inform dan well educated. Maka terminologi tarbiyah itu berasal dari kata Raba-yarbu–rabban, rububiyatan atau Rabba-yurabbi–tarbiyatan. Seperti sifat rububiyyah Tuhan yang memelihara alam jagad raya ini.

​Namun karena perkembangan waktu dan semakin dewasanya anak, sehingga pengaruh luar tidak bisa dibendung, banyak virus dan energi negatif yang masuk. Sehingga manusia tidak bisa mengelak dari dosa. Maka kemudian Nabi mengingatkan: “Setiap anak Adam itu bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah itu bertaubat  (Kullu Bani Adama khatthaunwa Khair al-Khtthaina at-Tawwabun).

Baca Juga: Sejarah Ketupat: Tradisi Kuliner yang Melekat pada Perayaan Lebaran

Di sinilah sesungguhnya Idul Fitri itu merupakan reformasi tahunan (tajdid sanawi) atau pemutihan diri. Tapi semua itumasih bersifat vertikal ke ranah teologis, belum ke ranah sosiologis. Maka belum tuntas, dan ini harus disempurnakan dengan saling memafkan dengan satu sama lain. Salah satunya melalui halal bi halal, yang merupakan realisasi dari wal ’afinan’aninnas (QS. Ali Imran: 133).

Tajdid Sanawi (Annual Reformation)

Maka bulan Syawal ini merupakan momentum yang paling tepat bagi umat Islam untuk saling memaafkan di antara mereka, ber-halal-bihalal, sebagai bentuk penghapusan dosa secara horizontal dan massal (annual reformation), pemutihan diri tahunan (annual bleaching). Jadi, jika kebijakan Gubernur JawaTimur ada pemutihan pajak kendaraan bermotor, maka Tuhan lebih dari itu, pemutihan dosa. 

Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah: “Suatu hari Nabi pernah bertanya kepada para sahabatnya: Atadruna man al-Muflis? Tahukah kalian, siapakah yang disebut orang bangkrut atau pailit itu? Para sahabat menjawab: “Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes”.

Kemudian Nabi bersabda: “Bukan, bukan itu orang yang disebut bangkrut itu. Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah di hari kiamat dengan membawa pahala shalatnya, puasanya, zakatnya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim (mengganggu saudaranya, tetangga, merampas hak orang lain dst.) dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka. Maka seluruh amal kebaikannya dipindahkan ke yang dizalimi dan kemudian ia dicampakkan ke neraka.” 

Nah di sinilah pentingnya dimensi sosial dalam ajaran Islam. Bahkan tidak saja dimensi sosiologis, namun juga dimensi kosmologis. (Perhatikan QS. Al-Qashash: 77).

​Pada era digital dan modern ini, tradisi positif seperti silaturrahim yang telah dibangun oleh orang tua kita dulu sudah semakin punah. Hal ini karena kehidupan modern cenderung materialistis dan individualis. Orang bersedia berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis.

Di kota-kota besar misalnya, antara tetangga satu dengan tetangga yang lain tidak saling mengenal karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi. Sebagaimana yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia-manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya.

Pengaruh IT dan perangkat media sosial lainnya, seperti hand phone dan android juga mereduksi nilai silaturrahim yang tidak lagi face-to-face, tetapi sudah digantikan dengan face book dan aplikasi lainnya, termasuk pembelajaran di kelas dengan daring dan online. 

​Namun beruntung, umat Islam masih memiliki tradisi yang baik yang perlu dilestarikan untuk mengatasi dampak modernisasi tersebut, seperti: tadarrus al-Qur’an, tahlil dan yasin berjamaah, berzanji dan diba’, majlis-majlis ta’lim, baik di tingkat RT maupun RW.

Tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari bentuk ukhuwuah islamiyah, ukhuwah basyariyah dari sekian tradisi baik lainnya yang ada dalam ajaran Islam dan tradisi Islam Nusantara. Tradisi silaturrahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu, adalah merupakan prilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Bahkan ditegaskan oleh Nabi: Jika orang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka supaya menjalin silaturahim[*].

​ *Prof. Dr. M. Zainuddin, MA, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Chairman of Yasmine Institute.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

READ ALSO

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Editor: Herlianto. A

Tags: halal bihalalidul fitrilebaran

Related Posts

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU
Catatan

Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU

Jumat, 14 Agu 2026
Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita
Catatan

Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita

Senin, 10 Agu 2026
21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang
Catatan

21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang

Sabtu, 8 Agu 2026
Next Post
Foto bersama kepala daerah Malang Raya, Gubernur Jawa Timur, dan Menteri Lingkungan Hidup usai penandatanganan kerja sama. Foto: Pemkab Malang

Bupati Malang Tandatangani Kerja Sama Program PSEL untuk Atas Permasalahan Sampah di Malang Raya

BERITA POPULER

  • Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.