Senin, Agustus 10, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Budaya

Sejarah Ketupat: Tradisi Kuliner yang Melekat pada Perayaan Lebaran

Redaksi by Redaksi
Maret 24, 2026 8:00 am
in Budaya
Ilustrasi sejarah ketupat. Foto: pixabay.com/ignartonosbg

Ilustrasi sejarah ketupat. Foto: pixabay.com/ignartonosbg

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Ketupat merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat identik dengan perayaan Idul Fitri di Indonesia. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur) ini biasanya disajikan dengan hidangan lain yang berbahan santan.

Di Jawa Timur, tradisi makan ketupat dilakukan pada hari ketujuh Idulfitri dan dikenal dengan nama kupatan atau rioyo kupat. Di momen tersebut, umat Islam di Jawa Timur saling mengantar ketupat, lepet, dan sayur untuk orang-orang terdekat.

READ ALSO

5 Tempat Belajar Membatik di Malang, Cocok untuk Pelajar hingga Wisatawan

Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan

Baca Juga: Pemkot Batu Matangkan Persiapan Libur Lebaran dan Nyepi 2026, Fokus Infrastruktur dan Keamanan

Ketupat telah dikenal masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu, terutama di wilayah Jawa. Sebelum Islam masuk, ketupat dulu disajikan saat perayaan pasca panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri.

Daun kelapa yang masih muda digunakan menjadi pembungkus ketupat karena hidangan ini kerap disajikan oleh masyarakat pesisir. Pohon kelapa mudah ditemui di sekitar pantai sehingga daun kelapa cukup melimpah.

Pada abad ke-15, Sunan Kalijaga mengadopsi tradisi ini dan mengenalkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Idulfitri. Melalui pendekatan budaya, Sunan Kalijaga menggunakan makanan tradisional sebagai media dakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa saat itu.

Ketupat memiliki makna “ngaku lepat” atau pengakuan atas kesalahan dan permohonan maaf. Makna ini sejalan dengan tradisi saling memaafkan saat perayaan Idul Fitri.

Baca Juga: Jelang Lebaran, Polres Malang Tingkatkan Patroli serta Pengamanan di Stasiun dan Terminal

Tradisi menyantap ketupat seminggu setelah Idulfitri berasal dari hadits yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa selama enam hari di bulan Syawal. Di hari ketujuh, umat Islam telah menyempurnakan ibadahnya sehingga ketupat disajikan untuk merayakan momen tersebut.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri

Editor: Herlianto. A

Tags: idul fitriKetupatlebaransejarah ketupat

Related Posts

5 Tempat Belajar Membatik di Malang, Cocok untuk Pelajar hingga Wisatawan
Budaya

5 Tempat Belajar Membatik di Malang, Cocok untuk Pelajar hingga Wisatawan

Senin, 20 Jul 2026
Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan
Budaya

Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan

Rabu, 15 Jul 2026
3 Alasan Generasi Muda Memilih Belanja Thrifting 
Budaya

3 Alasan Generasi Muda Memilih Belanja Thrifting 

Jumat, 3 Jul 2026
Aktivitas memutar vinyl wajib jadi itinerary wisatamu di Museum Musik Dunia Jatim Park 3. Foto: Dok
Budaya

List Itinerary Liburan di Kota Batu, Museum Musik Dunia Jatim Park 3 Hadirkan ‘Vinyl Experience

Kamis, 25 Jun 2026
Anjali dan Hal yang Tidak Kembali
Budaya

Anjali dan Hal yang Tidak Kembali

Minggu, 21 Jun 2026
Warga mengarak jolen berisi tumpeng di Gebyar Ritual 1 Suro. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Budaya

Meriah! Gebyar Ritual 1 Suro 2026 di Gunung Kawi Libatkan 1.000 Warga Desa Wonosari

Selasa, 16 Jun 2026
Next Post
Ilustrasi pendaftaran paskibraka Kota Malang. (Foto/Rubianto)

Pendaftaran Paskibraka Kota Malang 2026 Dibuka, Ini Syarat dan Tahapannya

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 07222026 2
Advtm 07222026 1
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.