Tugumalang.id – Ketupat merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat identik dengan perayaan Idul Fitri di Indonesia. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur) ini biasanya disajikan dengan hidangan lain yang berbahan santan.
Di Jawa Timur, tradisi makan ketupat dilakukan pada hari ketujuh Idulfitri dan dikenal dengan nama kupatan atau rioyo kupat. Di momen tersebut, umat Islam di Jawa Timur saling mengantar ketupat, lepet, dan sayur untuk orang-orang terdekat.
Baca Juga: Pemkot Batu Matangkan Persiapan Libur Lebaran dan Nyepi 2026, Fokus Infrastruktur dan Keamanan
Ketupat telah dikenal masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu, terutama di wilayah Jawa. Sebelum Islam masuk, ketupat dulu disajikan saat perayaan pasca panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri.
Daun kelapa yang masih muda digunakan menjadi pembungkus ketupat karena hidangan ini kerap disajikan oleh masyarakat pesisir. Pohon kelapa mudah ditemui di sekitar pantai sehingga daun kelapa cukup melimpah.
Pada abad ke-15, Sunan Kalijaga mengadopsi tradisi ini dan mengenalkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Idulfitri. Melalui pendekatan budaya, Sunan Kalijaga menggunakan makanan tradisional sebagai media dakwah agar ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa saat itu.
Ketupat memiliki makna “ngaku lepat” atau pengakuan atas kesalahan dan permohonan maaf. Makna ini sejalan dengan tradisi saling memaafkan saat perayaan Idul Fitri.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Polres Malang Tingkatkan Patroli serta Pengamanan di Stasiun dan Terminal
Tradisi menyantap ketupat seminggu setelah Idulfitri berasal dari hadits yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa selama enam hari di bulan Syawal. Di hari ketujuh, umat Islam telah menyempurnakan ibadahnya sehingga ketupat disajikan untuk merayakan momen tersebut.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A
























